Berita

Tim Pakar Sosial Budaya Satuan Tugas Covid-19, Meutia Hatta saat berbicara mengenai pentingnya protokol kesehatan menjadi budaya yang disampaikan secara daring/Repro

Kesehatan

Tekankan Protokol Kesehatan Jadi Budaya, Meutia Hatta: Hukuman Kadang Tidak Mempan

SELASA, 04 AGUSTUS 2020 | 17:29 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Pandemik Covid-19 menuntut masyarakat untuk menciptakan kebiasaan baru di tengah kehidupan. Kebiasaan baru ini semata-mata untuk terhindar dari virus Covid-19 dan tetap beraktivitas sehari-hari dengan normal.

"Kebiasaan adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh sekelompok orang, yang kemudian menjadi dibiasakan," jelas Tim Pakar Sosial Budaya Satuan Tugas Covid-19, Meutia Hatta secara daring, Selasa (4/8).

Dalam kesempatan tersebut, ia juga menjelaskan bagaimana kebiasaan dapat berubah menjadi suatu kebudayaan.


"Kebiasaan itu berawal dari kegiatan yang memiliki manfaat bagi orang-orang yang melakukannya, kemudian kegiatan ini dilakukan secara berkala menjadi kebiasaan. Namun untuk menjadi kebudayaan memerlukan waktu yang tidak singkat," tambah Meutia.

Contoh dari kebiasaan yang sudah menjadi budaya adalah cuci kaki sebelum masuk ke rumah. Awalnya, kebiasaan ini dipraktikkan di rumah panggung di Lampung, Sulawesi atau Palembang. Di atas rumah diberikan sebuah gentong berisi air untuk kita mencuci kaki sebelum masuk rumah. Makin lama, kebiasaan ini menjadi budaya.

Kebiasaan lain yang lambat laun menjadi kebudayaan yang dicontohkan putri Wakil Presiden pertama RI, Mohammad Hatta ini adalah kebiasaan makan sayur-sayuran.

“Makanan sayur tadinya bukan budaya dari orang Minang. Namun karena tahu manfaatnya, akhirnya sayur bagian dari kebudayaan orang Minang,” tambah Meutia.

“Di pandemik ini, kita ada kewajiban untuk menggunakan masker, menjaga jarak, menghindari kerumunan, harus cuci tangan. Ini suatu kebiasaan yang ada manfaatnya, karena tanpa itu ada bahaya corona. Ini yang diusahakan menjadi kebudayaan,” jelasnya.

Terkait protokol kesehatan yang ingin dijadikan sebagai kebudayaan baru, Meutia mengamini bahwa hal tersebut memerlukan waktu mengingat karakteristik masyarakat Indonesia cenderung tidak mudah takut akan pantanganan, terutama dalam hal risiko kesehatan.

Di sisi lain, Meutia menyampaikan bahwa dirinya sedang melaksanakan sebuah penelitian yang mempelajari tentang sikap masyarakat Indonesia mengenai kepatuhan. Salah satu yang disorotinya adalah hukuman bagi pelanggar protokol kesehatam.

“Hukuman itu kadang-kadang tidak mempan ya, tapi selain hukuman, yang penting itu mereka (masyarakat) memahami,” tandasnya.

Populer

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Prabowo Berpeluang Digeruduk Demo Besar Usai Lebaran

Rabu, 11 Maret 2026 | 06:46

Golkar Berduka, Putri Akbar Tandjung Wafat

Rabu, 11 Maret 2026 | 15:27

Mengenal Bupati Rejang Lebong M Fikri yang Baru Terjaring OTT

Selasa, 10 Maret 2026 | 06:15

Rismon Ajukan RJ Kasus Ijazah Palsu Jokowi, Dokter Tifa: Perjuangan Memang Berat

Kamis, 12 Maret 2026 | 03:14

Memalukan! Rismon Ajukan Restorative Justice

Kamis, 12 Maret 2026 | 02:07

UPDATE

Empat Anggota TNI Penyiram Air Keras Sebaiknya Diadili di Pengadilan Sipil

Sabtu, 21 Maret 2026 | 02:05

Tiga Kecelakaan di Tol Jateng Tewaskan Delapan Orang

Sabtu, 21 Maret 2026 | 02:01

Kejahatan Perang Trump

Sabtu, 21 Maret 2026 | 01:36

Hadiri Jakarta Bedug Festival, Pramono Tekankan Kebersamaan Sambut Idulfitri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 01:14

Kenapa Pemimpin Iran Mudah Sekali Diserang Israel-AS

Sabtu, 21 Maret 2026 | 01:07

Bamsoet Apresiasi Kesigapan TNI dan Polri Tangani Kasus Andrie Yunus

Sabtu, 21 Maret 2026 | 00:23

Hukum Militer, Lex Specialis, dan Ujian Akuntabilitas dari Kasus Andrie Yunus

Sabtu, 21 Maret 2026 | 00:04

Korlantas Gagal Tangani Arus Mudik

Sabtu, 21 Maret 2026 | 00:00

Dokter Tifa Ngaku Dikuatkan Roy Suryo yang Masih Waras

Jumat, 20 Maret 2026 | 23:29

Air Keras dari Orang Dalam

Jumat, 20 Maret 2026 | 23:11

Selengkapnya