Berita

Politisi PKS, M Nasir Djamil/Net

Politik

KAMI Bukan Barisan Sakit Hati, Tapi Meluruskan Pemerintahan Yang Bengkok

SELASA, 04 AGUSTUS 2020 | 15:28 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) diharapkan tidak alergi dengan kritik. Sebagai penerima mandat rakyat, sudah seharusnya pemerintah mengakomodir pandangan dan kritikan yang disampaikan para tokoh bangsa.

Pun demikian dengan kehadiran Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) sebagai wujud kekuatan sipil yang ingin meluruskan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) agar tidak melenceng dari cita-cita nasional.

"Pemerintah yang berkuasa membutuhkan kekuatan sipil sebagai penyeimbang agar kapal besar bernama NKRI ini tidak oleng ke kiri dan ke kanan, apalagi sampai tenggelam. Karena itu kehadiran KAMI harus disikapi secara positif dan negara perlu memfasilitasi," kata anggota Komisi III DPR RI fraksi PKS, Nasir Djamil saat berbincang dengan Kantor Berita Politik RMOL, Selasa (4/8).


Apalagi, kata Nasir Djamil, tokoh bangsa yang tergabung dalam KAMI bukan kaleng-kaleng, seperti mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, akademisi Rocky Gerung, Ekonom Senior Ichsanuddin Noorsy serta beberapa tokoh lain yang integritasnya tak perlu diragukan.

Melihat misi dan tokoh yang tergabung, Nasir memandang tuduhan sebagai barisan sakit hati yang ditujukan kepada KAMI tak berdasar.

"Saya yakin KAMI itu bukan barisan sakit hati, tapi barisan untuk meluruskan yang bengkok dan mempercepat yang masih lambat. Rezim yang berkuasa jangan berpikir negatif terhadap KAMI," tegasnya.

"Kalau saya di posisi Jokowi, maka KAMI akan saya undang dan meminta mereka menyampaikan apa adanya. Bahkan pertemuan itu terbuka dan tidak direkayasa. Memberikan panggung kepada kelompok kritis adalah perbuatan yang mulia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara," imbuhnya.

Selain itu, Nasir Djamil juga menilai bahwa gerakan rakyat yang diinisiasi oleh sejumlah tokoh seperti halnya KAMI bukan kali pertama terjadi. Di era Presiden Soeharto, sejumlah tokoh bangsa membuat mosi integral yang dikenal sebagai Petisi 50.

Petisi ini diterbitkan pada 5 Mei 1980 di Jakarta sebagai sebuah 'ungkapan keprihatinan' dan ditandatangani oleh 50 orang tokoh terkemuka Indonesia.  

"Itu ada mantan Kapolri yang dikenal jujur Hoegeng, Almarhum M Natsir tokoh bangsa yang mengajukan mosi integral yang menjadikan Indonesia kembali menjadi NKRI, ada almarhum Ali Sadikin dan sejumlah tokoh bangsa yang terkenal," pungkasnya.

Sekadar informasi, Petisi 50 ditandatangani oleh 50 orang tokoh terkemuka Indonesia, termasuk mantan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Jenderal Nasution, mantan Kapolri Hoegeng Imam Santoso, mantan Gubernur Jakarta Ali Sadikin, dan mantan Perdana Menteri Burhanuddin Harahap dan Mohammad Natsir.

Para penandatangan petisi ini lantaran presiden telah menganggap dirinya sebagai pengejawantahan Pancasila; bahwa Soeharto menganggap setiap kritik terhadap dirinya sebagai kritik terhadap ideologi negara Pancasila. Dengan kata lain, Soeharto telah menggunakan Pancasila sebagai alat untuk mengancam musuh-musuh politiknya.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Lie Putra Setiawan, Mantan Jaksa KPK Dipercaya Pimpin Kejari Blitar

Selasa, 13 Januari 2026 | 00:04

Pemangkasan Produksi Batu Bara Tak Boleh Ganggu Pasokan Pembangkit Listrik

Selasa, 13 Januari 2026 | 00:00

Jaksa Agung Mutasi 19 Kajari, Ini Daftarnya

Senin, 12 Januari 2026 | 23:31

RDMP Balikpapan Langkah Taktis Perkuat Kemandirian dan Ketahanan Energi Nasional

Senin, 12 Januari 2026 | 23:23

Eggi Sudjana-Damai Hari Lubis Ajukan Restorative Justice

Senin, 12 Januari 2026 | 23:21

Polri dan TNI Harus Bersih dari Anasir Politik Praktis!

Senin, 12 Januari 2026 | 23:07

Ngerinya Gaya Korupsi Kuota Haji

Senin, 12 Januari 2026 | 23:00

Wakapolri Tinjau Pembangunan SMA KTB Persiapkan Kader Bangsa

Senin, 12 Januari 2026 | 22:44

Megawati: Kritik ke Pemerintah harus Berbasis Data, Bukan Emosi

Senin, 12 Januari 2026 | 22:20

Warga Malaysia Ramai-Ramai Jadi WN Singapura

Senin, 12 Januari 2026 | 22:08

Selengkapnya