Berita

Plh Ketua Fraksi PAN DPR RI, Saleh Partaonan Daulay/Net

Politik

Saleh Daulay Bongkar Kelakukan Nadiem Makarim, Membuat "Birokrasi Dalam Birokrasi" Di Kemendikbud

RABU, 29 JULI 2020 | 11:54 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Ada yang tidak lazim dalam birokrasi di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Mendikbud Nadiem Makarim disebut membuat birokrasi dalam birokrasi.

Begitu diungkapkan Plh Ketua Fraksi PAN DPR RI, Saleh Partaonan Daulay saat menjadi narasumber dalam serial diskusi Indonesia Lawyers Club (ILC) di Jakarta, Selasa malam (28/7).

"Saya sudah melakukan riset dan menanyakan banyak orang, termasuk menanyakan hal ini ke Komisi X (DPR) temen-temen dari fraksi saya (PAN). Itu Nadiem saya denger ini, dia mengelola pendidikan itu dengan cara birokrasi dalam birokrasi," ungkap Saleh Daulay.


"Apa itu? Nanti silahkan dicek," imbuhnya menegaskan.

Saleh Daulay lantas menjelaskan birokrasi dalam birokrasi yang dimaksudkannya tersebut. Menurutnya, Nadiem memberikan kewenangan ekstra terhadap Staf Khusus dan Tim Ahli atau Tim Teknis di Kemendikbud.

"Di sana itu dominasi kewenangan ada di staf khsusus dan tim-tim ahli atau tim teknis. Bahkan, satu orang staf khusus yang katanya tuh kewenangannya itu besar, bahkan bisa memerintahkan Dirjen, Direktur dan seterusnya," kata mantan ketua umum Pemuda Muhammadiyah ini.  

"Bahkan untuk kepengurusan anggaran dan pengalokasian segala macem itu diurusnya oleh stafsus-stafsus ini," sambung Saleh Daulay menambahkan.

Menurut Saleh, kewenangan ekstra yang diberikan Nadiem kepada stafsus dan tim teknis tersebut tidak lazim karena memangkas kewenangan Dirjen hingga Kepala Biro Perencanaan di Kemendikbud.

"Mana Dirjen-Dirjen itu? Di dalam birokrasi, Dirjen yang mesti urus hal-hal seperti ini. Kan ada Kepala Biro Perencanaan di situ, ada Dirjen di atasnya, Dirjen-Dirjen ini kan udah jelas semua tugasnya," sesalnya.

Dia menambahkan, berdasarkan informasi yang diterimanya ada enam orang stafsus, dan tim teknis yang jumlahnya lebih dari 20 orang. Yang disebut memiliki kewenangan maksimal hingga melahap kerja-kerja Dirjen.

"Dan ingat, tim teknis ini diambil dari lembaga-lembaga yang MoU PDSPK (Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan kebudayaan)," tuturnya.

"Jadi kerjasama, kan ada MoU tuh dengan lembaga-lembaga PDSPK ini, kemudian orang-orang di PDSPK ini di rekrut untuk menjadi pejabat disana. Bahkan ada yang setingkat Dirjen. Ada yang jadi staf khususnya, ada yang tim teknisnya. Itulah yang berperan," imbuh dia.

Atas dasar itu, anggota dewan berlatang belakang dosen ini mengaku tidak heran jika Kemendikbud saat ini belakangan menuai reaksi beragam dari kalangan masyarakat. Terlebih, Nadiem Makarim belum menunjukkan inovasi apapun untuk pendidikan nasional dewasa ini.

"Makanya jangan heran kalau urusan Kemdikbud nih seperti ini. Enggak keliatan kok inovasinya, apa? Apa inovasinya yang bisa dilakukan untuk republik ini?" ucap Saleh Daulay.

Lebih jauh, legislator asal Sumut II ini menegaskan bahwa menyoal pendidikan itu bukan hanya bicara Ibukota DKI Jakarta yang didukung oleh fasilitas memadai untuk melangsungkan kegiatan belajar mengajar meski dalam kondisi pandemik Covid-19 seperti sekarang.

"Pendidikan itu bukan di Jakarta yang paling utama, tapi disudut-sudut negeri ini, di tempat-tempat dimana rakyat kita belum bisa bangkit! Disitulah pendidikan diperlukan. Kalau misalnya yang dipikirin ini bagaimana orang online-online di Jakarta, ini biasa saja orang di Jakarta enggak ada problem," imbuhnya.

Saleh Daulay pun meminta Nadiem Makarim untuk membuka mata lebar-lebar dengan memprioritaskan anggaran pendidikan untuk pemerataan fasilitas di tengah kondisi pandemik Covid-19.

"Tahu kah di kepulauan-kepulauan kecil, diperbatasan-perbatasan republik ini, banyak orang tidak bisa akses internet, banyak guru-guru yang tidak dibayar, banyak honorer yang tidak digaji oleh republik ini. Mana?" tekannya.

"Ini loh yang paling penting dipikirin. Ini Rp 595 miliar (anggaran POP Kemendikbud) dibagi-bagi begitu saja," demikian Saleh Daulay menyesalkan.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Andre Rosiade Sambangi Bareskrim Polri Usai Nenek Penolak Tambang Ilegal Dipukuli

Senin, 12 Januari 2026 | 14:15

Cuaca Ekstrem Masih Akan Melanda Jakarta

Senin, 12 Januari 2026 | 14:10

Bitcoin Melambung, Tembus 92.000 Dolar AS

Senin, 12 Januari 2026 | 14:08

Sertifikat Tanah Gratis bagi Korban Bencana Bukti Kehadiran Negara

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

KPK Panggil 10 Saksi Kasus OTT Bupati Lampung Tengah Ardito Wijaya

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

Prabowo Terharu dan Bangga Resmikan 166 Sekolah Rakyat di Banjarbaru

Senin, 12 Januari 2026 | 13:52

Kasus Kuota Haji, Komisi VIII Minta KPK Transparan dan Profesional

Senin, 12 Januari 2026 | 13:40

KPK Periksa Pengurus PWNU DKI Jakarta Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji

Senin, 12 Januari 2026 | 13:12

Prabowo Tinjau Sekolah Rakyat Banjarbaru, Ada Fasilitas Smartboard hingga Laptop Persiswa

Senin, 12 Januari 2026 | 13:10

Air Naik hingga Sepinggang, Warga Aspol Pondok Karya Dievakuasi Polisi

Senin, 12 Januari 2026 | 13:04

Selengkapnya