Berita

Korwil FOKAL IMM Rahiman Dani dan Mendikbud Nadiem Makarim/Net

Politik

Korwil FOKAL IMM Bengkulu Desak Jokowi Copot Nadiem Makarim

SABTU, 25 JULI 2020 | 17:38 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Mundurnya PP Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) dari Program Organisasi Penggerak (POP) Kemendikbud terus menuai reaksi yang berujung kritik kepada Mendikbud Nadiem Makarim.

Koordinator Wilyah Forum Komunikasi Alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (Korwil FOKAL IMM) Provinsi Bengkulu, Rahiman Dani secara tegas meminta agar Presiden Jokowi segera mengevaluasi jabatan Nadiem dari Kemendikbud.

"Soal mundurnya NU dan Muhammadiyah dari organisasi penggerak itu hanya puncak dari gunung es dari seluruh bentuk kebijakan Nadiem yang sampai dengan hari ini tidak memberi dampak apa-apa pada dunia pendidikan di Indonesia," tegas Rahiman Dani dalam keterangannya, Sabtu (25/7).


"Pendidikan adalah soal filosofi bangsa, masa depan bangsa ini, tak bisa diurus hanya dengan modal kebijakan popular tapi miskin sejarah. Saya pikir saatnya Presiden review jabatan Mendikbud, copot saja," imbuhnya.

Pengajar Magister Ilmu Administrasi Publik, FISIP Unihaz Bengkulu ini menilai, kemarahan Muhammadiyah dan NU dengan cara mundur dari program Kemdikbud adalah presiden buruk untuk kelangsungan pendidikan di Indonesia.

Sebab, kata dia, pendidikan merupakan pusat literasi kemerdekaan sekaligus pemantik lahirnya bangsa ini.

"Kita tahu Muhammadiyah dengan sekolahnya demikian pula NU dengan pendidikan pesantrennya adalah pusat literasi kemerdekaan bangsa ini. Tanpa kedua organisasi ini mungkin Indonesia hari ini tidak ada," tuturnya.

Rahiman menambahkan, NU sudah mendirikan ribuan pesantren, Muhammadiyah pun demikian dengan ribuan sekolah sekolah-sekolah formal didirikan sampai ke pelosok negeri jauh sebelum yang lain koar-koar soal pendidikan.

"Dengan apa mereka berdiri? dengan niat tulus ikhlas, keringat, darah bahkan airmata, konsistensi tanpa pamrih demi mencerdaskan anak bangsa," ucapnya.

Rahiman mengaku tidak berniat mengesampingkan organisasi lain. Namun menurutnya, ada 'tinta emas sejarah' yang tidak boleh dilupakan oleh siapa pun dalam mengurusi pendidikan di Indonesia

Sebagai kader muhammadiyah, lanjut Rahiman, sifat terbuka dengan perkembangan zaman namun tidak boleh lengah dengan sedikit pun. Dia menyambut baik sekaligus bersyukur dengan hadirnya teman-teman organisasi lain yang berniat membantu dunia pendidikan kita.

"Namun, kalaulah berkaitan dengan sistem bernegara harus clear syarat dan ketentuan tidak bisa bar-bar. Konsistensi adalah kunci utama tidak boleh insidentil apalagi parsial," jelasnya

Lebih lanjut, Rahiman menyatakan, iklim pendidikan di Indonesia berbeda jauh dengan pendidikan ala barat yang mana di Kementerian Pendidikan saat banyak diisi oleh staf-staf khusus yang berlatar belakang pendidikan high class.

“Saya apresiasi program ini (POP) karena upaya pemerintah dalam meningkatkan kompetensi guru, wawasan tanaga pendidik yang berbasis tekenologi informasi. Namun, yang perlu dicatat ada sekolah-sekolah beralas tanah, berdinding kayu yang jauh dari dukungan infrastruktur apalagi internet," ujarnya.

"Nah disini guru-guru muhammadiyah hadir denga keikhlasan bukan pamrih. Kondisi ini tidak bisa dipahami oleh orang-orang yang dari awal mengenyam pendidikan high class," imbuh dia.

Atas dasar itu, Rahiman menyarankan kepada Nadiem untuk tabayyun dengan mundurya kedua organisasi Islam terbesar dan bersejarah di Indonesia itu. Sebab, program pembangunan pendidikan akan berjalan dengan baik jika tujuan konstitusi yang mengamanatkan agar anak bangsa cerdas dapat terwujud.

"Saran saya tabayun, PGRI juga sudah mundur artinya ada yang salah? kalau nggak mau mundur, ya presiden copot saja karena akan membahayakan kalau terus-terusan seperti ini. Belum lagi soal pembelajaran di tengah Covid-19, tidak ada kebijakan yang dihadirkan mendikbud," demikian Rahiman.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Langgar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

UPDATE

BRI Catat 6.022 Debitur KUR di Pangkalpinang, Didominasi Petani Sawit

Senin, 29 Juni 2026 | 22:23

Mengenal Emission Trade System

Senin, 29 Juni 2026 | 22:06

KPK Perpanjang Penahanan ASN BPK Sumsel Titin Rita Lestari

Senin, 29 Juni 2026 | 21:52

DPR Minta Polisi Segera Penjarakan Penganiaya Caddy di Tangerang

Senin, 29 Juni 2026 | 21:36

Kolaborasi Lintas Sektor Kunci Perkuat Resiliensi Media demi Pembangunan Papua

Senin, 29 Juni 2026 | 21:34

Ahmad Muzani Bicara Potensi Wisata Religi Saat Temui Ketua MPR Uzbekistan

Senin, 29 Juni 2026 | 21:32

Bupati Muara Enim Edison Masih Nginep di Rutan KPK dalam 40 Hari

Senin, 29 Juni 2026 | 21:14

DMO dan RKAB Harus jadi Prioritas Amankan Pasokan Batu Bara

Senin, 29 Juni 2026 | 20:44

Hampir Rampung, Sekolah Rakyat Kementerian PU di Bekasi Usung Gentengisasi

Senin, 29 Juni 2026 | 20:36

Brasil vs Jepang: Duel Raksasa di Babak 32 Besar Piala Dunia 2026

Senin, 29 Juni 2026 | 20:28

Selengkapnya