Berita

Dr Muhammad Najib/RMOL

Muhammad Najib

Mengenal Tjokroaminoto Sebagai Bapak Ideologi Bangsa Indonesia

KAMIS, 23 JULI 2020 | 17:45 WIB | OLEH: DR. MUHAMMAD NAJIB

SYARIKAT Dagang Islam (SDI) didirikan oleh Haji Samanhudi pada 16 Oktober 1905, dalam rangka membela pengusaha pribumi menghadapi pengusaha nonpri yang di-backup penjajah Belanda.

Untuk memperluas jaringannya  dari organisasi lokal di Kota Solo menjadi organisasi nasional, SDI secara pro-aktif mencari kader-kader potensial di berbagai kota di Indonesia untuk direkrut.

Tim yang ditugasi SDI kemudian menemukan seorang pengusaha aktivis sekaligus pejuang anti penjajah bernama Tjokroaminoto di Surabaya. Sejak saat itulah ningrat yang oleh Kolonial Belanda diberi gelar: "Raja Jawa Tanpa Mahkota" ini, menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari SDI.


Pada 1912, H.O.S Tjokroaminoto terpilih sebagai Ketuanya menggantikan Haji Samanhudi. Bersamaan dengan itu, nama SDI diubah menjadi Syarikat Islam (SI) atas inisiatifnya. Di bawah kepemimpinan Tjokroaminoto, SI walaupun masih mengurusi ekonomi dan sosial anggotanya, akan tetapi yang lebih menonjol adalalah aktivitas politiknya.

Di tangan H.O.S Tjokroaminoto, SI bukan saja menjadi besar dan sangat berpengaruh dalam dunia politik, akan tetapi bisa dikatakan sebagai organisasi yang paling ditakuti oleh Kolonial Belanda saat itu. Sebabnya, agendanya yang sangat jelas dan disampaikan secara lugas menuntut kemerdekaan.

Untuk itu, Den Hag secara khusus menugaskan salah seorang staf terbaiknya yang bertugas di Konsulat Belanda di Jeddah bernama Agus Salim, untuk dikirim ke Surabaya dengan tugas memata-matai aktivitas Tjokroaminoto dan SI yang dipimpinnya.

Agus Salim adalah seorang cendekiawan Muslim yang memiliki kedalaman ilmu dan keluasan wawasan, baik karena bacaannya maupun pergaulannya selama di Timur Tengah. Ia belajar agama pada pamannya di Makkah bernama Syech Ahmad Khatib yang juga merupakan guru  KH Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah dan KH Hasyim Asy'ari pendiri Nahdhatul Ulama.

Dalam melaksanakan tugasnya, Agus Salim justru kagum dan jatuh hati pada Tjokro, sehingga ia kemudian memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya dan berhenti menjadi pegawai Kolonial, kemudian bergabung dengan SI.

Bergabungnya Agus Salim membuat pandangan ke-Islaman Tjokro semakin otentik. Sebagai seorang bangsawan Jawa yang dibesarkan dalam keluarga dan lingkungan ningrat, walaupun sangat bergairah mengibarkan panji-panji Islam dalam perjuangannya, warna Jawanya sangat kental.

Tjokro memberikan perhatian sangat besar pada dimensi sosial ajaran Islam, kemudian mengambilnya sebagai spirit untuk menggerakkan SI dalam perjuangannya. Orang kemudian menyebut pemikirannya ini sebagai sosialisme Islam.

Prinsip sosialisme, menurut Tjokroaminoto, merupakan salah satu kunci kejayaan pemerintahan Islam di bawah pimpinan Nabi Muhammad. Ia membagi sosialisme-Islam menjadi tiga unsur, yaitu: kemerdekaan (vrijheid-liberty), persamaan (gelijk-heid-equality), serta persaudaraan (broederschap-fraternity).  Gagasannya secara konprehensif dapat dibaca dalam buku yang sangat monumental berjudul: Islam dan Sosialisme.

Disamping sebagai seorang pemimpin partai politik, Tjokro juga sebagai seorang guru atau mentor politik. Rumahnya di Jalan Peneleh, Surabaya, dijadikan tempat kost siswa-siswa cerdas yang punya minat politik.

Di samping memberikan berbagai bentuk pelatihan, Tjokro punya kebiasaan memberikan tempat pada murid-muridnya untuk ikut mendengarkan pembicaraan saat Tjokro menerima tamu-tamunya, khususnya bila sang tamu merupakan tokoh politik penting.

Doktrin kepada  murid-muridnya yang termasyhur antara lain: "Seorang pemimpin harus memiliki setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, dan sepintar-pintar siasat". Pesannya yang lain adalah: "Jika kalian ingin menjadi pemimpin besar, menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator".

Dari sekian banyak murid politiknya,  maka murid yang paling disayanginya adalah Soekarno,  hingga ia mengambilnya sebagai menantu dengan menikahkan putrinya bernama Siti Oetari. Murid-muridnya yang lain yang cukup menonjol antara lain: Musso, Alimin, Kartosuwiryo, dan Tan Malaka.

Setelah mendapat bekal cukup baik dalam hal aqidah, wawasan kebangsaan, maupun ketrampilan berorganisasi dan kepemimpinan, murid-murid Tjokro memilih jalannya masing-masing. Soekarno sempat terlibat di Persyarikatan Muhammadiyah di Bengkulu, ketika ia dibuang atau diasingkan oleh Kolonial Belanda.

Disamping sebagai guru di sekolah Muhammadiyah, Soekarno diberi kepercayaan sebagai Ketua Majlis Pendidikan sehingga sering diminta sebagai instruktur berbagai pelatihan dalam masalah organisasi dan kepemimpinan pada berbagai training yang diikuti kader-kader Muhammadiyah setempat.

Hal ini membuat Ketua Muhammadiyah Hassan Din jatuh hati, kemudian mengambilnya sebagai menantu dengan mengawinkan putrinya bernama Fatmawati yang menjadi ibu kandung Megawati Sukarnoputri.

Perjalanan hidup Sukarno dan aktivitas politiknya kemudian memperkaya wawasannya, sehingga bagaimana merajut pluralitas Indonesia dan mengakomodasi berbagai kelompok minoritas baik dalam kategori etnis maupun agama sangat menonjol.

Pancasila sebagai ideologi negara yang lahir  melalui proses yang panjang, dimana peran Soekarno sangat besar, tentu jejak Tjokroaminoto sebagai mentor utamanya tidak bisa diabaikan.

Dalam buku berjudul: "Satu Guru Tiga Ideologi" yang ditulis oleh Hardi Sahrasad dan Al Chaidar, yang membandingkan pilihan ideologi tiga murid Tjokroaminoto, maka bila disederhanakan dapat dikatakan Musso bergerak ke Kiri,  Kartosoewirjo bergerak ke Kanan, sementara Soekarno memilih berada di Tengah.

Penulis adalah Pengamat politik Islam dan Demokrasi

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

Kini Posko Pengungsian Korban Gempa NTT Tersedia Internet Gratis

Selasa, 18 Agustus 2026 | 01:45

HUT ke-81 RI Momen Memperkuat Kebersamaan dan Gotong Royong

Selasa, 18 Agustus 2026 | 01:28

Merdeka Bernegara, Jalan Panjang Berbangsa

Selasa, 18 Agustus 2026 | 01:00

32 Kendaraan Hias Semarakkan Karnaval Bersatu Harmoni Nusantara di Monas

Selasa, 18 Agustus 2026 | 00:50

Langkah Cepat Polri Tangani Korban Gempa NTT Tuai Apresiasi

Selasa, 18 Agustus 2026 | 00:30

Polda Malut Terima 16 Senjata Api Ilegal dari Warga

Selasa, 18 Agustus 2026 | 00:05

Saatnya Indonesia Berdaulat dalam Sektor Pangan dan Energi

Senin, 17 Agustus 2026 | 23:45

Upaya Menjaga Kedaulatan Pilihan Pengurus NU

Senin, 17 Agustus 2026 | 23:22

BCA dan Pegadaian Luncurkan Layanan Tabungan Emas di myBCA

Senin, 17 Agustus 2026 | 22:51

Listrik dan Telekomunikasi di Flores Hampir Pulih 100 Persen

Senin, 17 Agustus 2026 | 22:50

Selengkapnya