Berita

Ilustrasi Partai Demokrat/Net

Politik

Demokrat-PKS Berpisah, Balon Hasil Penjaringan Kecewa Berat

KAMIS, 23 JULI 2020 | 04:45 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Kekecewaan disuarakan para bakal calon yang ikut tahapan penjaringan di Partai Demokrat atas berakhirnya koalisi dengan PKS di Pilbup Bandung 2020.

Pasalnya poros baru saat ini tengah disiapkan, yakni koalisi Demokrat-Nasdem-PKB telah menyepakati Dadang Supriatna berdampingan dengan Sahrul Gunawan.

Salah satu bakal calon (balon) Asep B Kurnia menyayangkan langkah pengurus DPC Partai Demokrat Kabupaten Bandung yang kini hengkang dari koalisi awalnya.


“Koalisi baru justru mengusung nama lain yang notabene bukan bakal calon dari Partai Demokrat yang mengikuti penjaringan di internal,” ujarnya dilansir Kantor Berita RMOLJabar, Rabu (22/7).

Asep menganggap jika manuver pengurus DPC Demokrat telah menciderai proses demokrasi internal dan mengkhianati aspirasi masyarakat Kabupaten Bandung.

“Demokrat adalah partai besar dengan basis pendukung yang banyak. Demokrat layak usung kandidat hasil seleksi,” kata Asep yang sempat ikut penjaringan di Nasdem itu.

Menurut Asep, koalisi dengan partai politik (parpol) mana pun sah-sah saja dijalin Demokrat. Akan tetapi, seharusnya Demokrat bisa menjadi pemain utama atau pengusung.

“(Demokrat) bukan sekadar pendukung. Atau malah mendukung figur lain (Dadang-Sahrul) yang bukan dari internal partai,” begitu kata lelaki yang akrab disapa Aa Maung itu.

Bakal calon lainnya, Doni Mulyana Kurnia turut menyayangkan langkah DPC Demokrat yang terkesan sepihak tanpa koordinasi dengan DPD dan DPP membubarkan koalisi.

“Tak sepantasnya Demokrat usung Dadang Supriatna-Sahrul Gunawan. Tapi koalisi baru (Demokrat-Nasdem-PKB) saya pikir belum final. Karena SK rekomendasi (calon) belum turun dari DPP Partai Demokrat,” jelasnya.

Doni menambahkan, apa yang dilakukan DPC Demokrat saat ini karena dipicu manuver Gungun Gunawan (calon bupati dari PKS) bertemu Sahrul Gunawan (calon Nasdem).

“PKS harusnya mengutamakan pendamping Gungun dari Demokrat sebab koalisi awal PKS-Demokrat,” tegas Doni yang saat ini dijadikan tersangka oleh Polda Jabar terkait dugaan pencemaran nama baik Ketua Kadin Jabar.

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

PT PMM Keberatan 15 Kontainer Mineral Ekspor Dibongkar Aparat

Minggu, 24 Mei 2026 | 16:43

PT DSI Resmi jadi BUMN dan Siap Buka Rekrutmen

Senin, 25 Mei 2026 | 23:14

Pengacara Blueray Cargo Ragu Amplop Suap Kode 1 Diterima Dirjen Bea Cukai

Selasa, 26 Mei 2026 | 23:19

Blusukan Jokowi Sulit Naikkan Suara PSI, Apalagi Goyang PDIP

Senin, 01 Juni 2026 | 04:00

UPDATE

Pasar Minyak Wait and See Situasi Terkini Hormuz

Selasa, 02 Juni 2026 | 10:14

Kedekatan dengan Megawati Menguntungkan Pemerintahan Prabowo

Selasa, 02 Juni 2026 | 10:04

Telur Jatuh di Bawah Harga Impas, BGN Turun Tangan

Selasa, 02 Juni 2026 | 09:51

Kebakaran Hebat di Kemayoran Ludeskan 250 Rumah

Selasa, 02 Juni 2026 | 09:38

Video Parade ALF di Perbatasan Aljazair Jadi Sorotan Internasional

Selasa, 02 Juni 2026 | 09:32

Anies Angkat Topi untuk Dino Patti Djalal: Bukan Diplomat Karbitan

Selasa, 02 Juni 2026 | 09:31

IHSG Loncat 1,35 Persen, Rupiah Tertekan Pagi Ini di Rp17.888 per Dolar AS

Selasa, 02 Juni 2026 | 09:26

Iran Ancam Hentikan Negosiasi Jika Israel Terus Serang Lebanon

Selasa, 02 Juni 2026 | 09:09

Wildan Hakim: Gandengan Tangan Prabowo dan Megawati Peristiwa yang Natural

Selasa, 02 Juni 2026 | 08:58

GREAT Institute: Shangri-La Dialogue Krusial untuk Navigasi Ketidakpastian Geopolitik

Selasa, 02 Juni 2026 | 08:43

Selengkapnya