Berita

Masyarakat harus mengingatkan Presiden Joko Widodo agar demokrasi di negeri ini tidak mengalami kemunduran/Net

Politik

Ketika Jokowi Terlena Oleh Kekuasaan Dan Ambisi

MINGGU, 19 JULI 2020 | 05:35 WIB | LAPORAN: AGUS DWI

Jika sudah duduk lupa berdiri, sebuah jargon yang digunakan sebuah perusahaan furniture puluhan tahun silam, sepertinya cocok dengan kondisi saat ini. Ketika seorang penguasa terlena dengan jabatannya, hingga lupa 'berdiri'.

Pemberian rekomendasi dari PDI Perjuangan kepada Gibran Rakabuming Raka untuk maju dalam Pilkada Solo 2020 saja sudah menunjukkan sinyal kuat ada upaya politik dinasti.

Dugaan ini makin kuat ketika Presiden Joko Widodo yang adalah ayah dari Gibran diketahui menawarkan jabatan kepada Achmad Purnomo, yang menjadi pesaing kuat anaknya di Pilkada Solo, untuk mundur dari kontestasi.


"Kekuasaan memang mudah melenakan orang. Dulu bangga menyatakan anak dan keluarganya tidak tertarik dengan kekuasaan. Namun, setelah angin berganti dan ambisi mencuat, justru kekuasaan negara yang ada di tangan berusaha dimanfaatkan untuk menyukseskan ambisi keluarga sendiri," kritik pengamat politik, Ahmad Khoirul Umam kepada Kantor Berita Politik RMOL, Sabtu (18/7).

“Hal ini berpotensi kontraproduktif terhadap persepsi publik pada Presiden Jokowi. Baik anak dan menantunya menang atau kalah pada Pilkada 9 Desember mendatang, tetap ini menjadi preseden yang tidak sehat bagi demokrasi,” imbuhnya.

Seharusnya, lanjut Umam, presiden paham dan memberikan pemahaman kepada keluarganya untuk menahan diri. Lebih patut mereka berkompetisi setelah Jokowi purnatugas dari kekuasaan tertinggi sebagai presiden negeri ini.

“Jadi, watak Jokowi yang dilihat masyarakat selama ini, sepertinya berubah drastis. Masyarakat harus mengingatkan. Sebab, jika masyarakat tidak atau bahkan 'tidak bisa' memberikan koreksi terhadap perilaku presiden tersebut, itu pertanda tegas kemunduran demokrasi negeri ini," sambung dosen Universitas Paramadina ini.

Jika cara-cara yang melanggar etika ini dianggap biasa dilakukan oleh seorang presiden, maka siapa yang bisa menjamin bahwa lembaga dan institusi negara yang punya kekuatan solid dan masif di bawah kendali presiden mampu bersikap netral dan independen pada kompetisi Pilkada mendatang?

Melihat tren perilaku tersebut, masih kata Umam, maka potensi pembajakan dan penyalahgunaan kewenangan lembaga negara untuk kepentingan politik praktis keluarga penguasa berpeluang besar terjadi di masa depan.

Atau sebaliknya, jika penyalahgunaan kewenangan lembaga negara tidak terjadi, akumulasi kekuatan modal dari elemen oligarki tetap berpotensi besar berkumpul ke titik yang sama. Yakni mereka yang didukung oleh pengendali kekuasaan negeri ini. Hal ini jelas tidak etis dan tidak sehat bagi konsolidasi demokrasi.  

Umam pun berharap Presiden bisa membedakan antara hak dan etika politik. Sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan, presiden haruslah menjadi teladan bagi stakeholders politik dan demokrasi bangsa ini. Karena, kepada presiden, masyarakat menitipkan harapan dan mimpi.

“Jika harapan rakyat itu dikhianati, jawaban selanjutnya tentu sangat miris sekali,” demikian Umam.

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

UPDATE

Usai Raup Dana Jumbo, Danantara Diminta Transparan Soal Penyaluran Investasi

Sabtu, 20 Juni 2026 | 18:13

SLA Lampaui Target, Helita jadi Andalan Baru Layanan Digital Tangsel

Sabtu, 20 Juni 2026 | 18:09

Garda Bangsa: Program Pemerintah Dirasakan Masyarakat, Harus Dikawal

Sabtu, 20 Juni 2026 | 17:37

TVRI Jelaskan Proses, Cakupan, dan Distribusi Hak Siar FIFA hingga 2027

Sabtu, 20 Juni 2026 | 17:06

AMMSI: Penyesuaian Operasional MBG Perkuat Efisiensi Anggaran dan Tata Kelola Program

Sabtu, 20 Juni 2026 | 17:00

Ace Hasan Dorong Alumni UIN Jakarta Terus Berkontribusi untuk Bangsa

Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:24

Program 3 Juta Rumah Dipercepat, Pemerintah dan Danantara Bahas Meikarta hingga Inpres Baru

Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:08

Tiga Besar Fortune Southeast Asia 500, Pertamina: Motivasi Perkuat Ketahanan Energi

Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:03

Saham Intel Melesat Usai Pernyataan Trump

Sabtu, 20 Juni 2026 | 15:32

Polisi Ungkap Rekayasa Perampokan di Menteng, Pelaku Dendam ke Korban Sejak 2020

Sabtu, 20 Juni 2026 | 15:05

Selengkapnya