Berita

Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan/Net

Hukum

Dugaan Suap Gubernur Papua Barat, ICW: Tidak Berkaitan Dengan Asas Praduga Tak Bersalah

JUMAT, 17 JULI 2020 | 13:53 WIB | LAPORAN: AHMAD KIFLAN WAKIK

  Pengungkapan dugaan suap Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan kepada mantan komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Wahyu Setiawan tidak ada kaitan dengan asas praduga tak bersalah.

Begitu dikatakan aktivis Indonesia Corruption Watch (ICW) Tama Satrya Langkun menyikapi munculnya nama Dominggus dalam persidangan terdakwa Wahyu Setiawan.

Meski demikian, dakwaan jaksa penuntut umum (JPU) dan keterangan saksi Sekretaris KPUD Papua Barat yang menyebut adanya aliran dana Rp 500 juta dari Dominggus ke Wahyu harus diuji dulu melalui proses pembuktian di pengadilan.


"Butuh konfirmasi yang harus digali oleh penuntut umum. Sehingga, jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) nantinya bisa melakukan pendalaman agar proses pengadilan berjalan maksimal," katanya dalam keterangannya, Kamis (15/7).

Keterangan Tama disampaikan menanggapi dugaan suap atau gratifikasi yang disebut juga diterima terdakwa Wahyu Setiawan dari Gubernur Dominggus Mandacan.

Sementara, Wahyu bersama kader PDI Perjuangan Agustiani Tio Fridelina saat ini sedang diadili terkait dugaan suap yang dilakukan politisi Harun Masiku dalam kasus pergantian antar waktu (PAW) anggota DPR RI dapil Sumatera Selatan.

Dalam dakwaan di Pengadilan Tipikor Jakarta bulan Mei lalu, JPU Takdir Suhan menyebut bahwa selain suap dari Harun Masiku, terdakwa Wahyu Setiawan juga diduga menerima gratifikasi dari Gubernur Dominggus terkait proses seleksi anggota KPUD Papua Barat.

Dakwaan JPU diperkuat oleh kesaksian Sekretaris KPUD Papua Barat Rosa Muhammad Thamrin Payapo dalam persidangan yang digelar Jumat (9/7).

Selain mengaku menerima dana dari Gubernur Dominggus melalui ajudan, Thamrin juga mengaku dialah yang mentransfer dana setengah miliar itu kepada Wahyu lewat rekening milik istri sepupunya.

Penyebutan nama Gubernur Dominggus dalam persidangan itu kemudian menyulut reaksi dari sebagian kalangan masyarakat Papua Barat. Beberapa tokoh pemuda setempat menyayangkan penuntut umum KPK yang mereka anggap telah melakukan kriminalisasi dan melanggar asas praduga tak bersalah, karena mengungkap nama Gubernur Dominggus tanpa klarifikasi terlebih dahulu.

Menjawab pertanyaan seputar kemungkinan persidangan Wahyu Setiawan menyeret tersangka lain, Tama S. Langkun mengatakan, hal itu tergantung dalil-dalil putusan dan pertimbangan majelis hakim dalam kasus Masiku.

”Apakah fakta-fakta persidangan bisa menjadi pertimbangan yang perlu ditindaklanjuti, sehingga bisa menjadi dasar bagi KPK untuk membuka proses penyelidikan baru terhadap si A atau si B,” jelasnya.  

Terpenting, lanjut Tama, bisa ada penyelidikan baru dengan tersangka baru, namun prosesnya tetap harus dilalui terlebih dalulu. Tidak bisa langsung.
”Harus ada pertimbangan majelis hakim yang mendalilkan perlunya penyelidikan baru di persidangan,” ujarnya.  

Karena itu, menurut Tama, semua tergantung pada jaksa. Apakah keterangan saksi (Sekretaris KPUD Papua Barat) perlu didalami atau tidak. Kalau informasinya betul, jaksa tentu akan meminta keterangan saksi-saksi lain untuk pendalaman.

”Jadi, sekali lagi, ini tidak ada kaitan dengan pelanggaran (yang disebut dilakukan KPK) terhadap asas praduga tak bersalah. Namun untuk memulai penyelidikan baru, tetap harus melalui putusan pengadilan dengan dalil-dalil pertimbangan yang kuat,” pungkas Tama.

Terpisah, pakar hukum pidana Indriyanto Seno Adji meyakini, KPK akan menyelidiki setiap kasus dugaan korupsi yang muncul dalam fakta persidangan.

Hal itu mengingat lembaga anti-rasuah tersebut sudah terbiasa mengungkap tindak kejahatan korupsi yang faktanya muncul dalam persidangan.

Kata dia, fakta persidangan merupakan bagian dari pengumpulan bahan dan keterangan (pulbaket) bagi KPK. Karena masih perlu dibuktikan melalui penyelidikan guna mencari sejumlah alat bukti yang cukup.

"Keterangan terdakwa maupun saksi dalam persidangan itu perlu di- cross check examination dari sisi hukum pidana untuk dinilai keabsahan dan legitimasi keterangannya,” pungkas Indriyanto.

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

JK Bukan Pelaku Penista Agama

Rabu, 22 April 2026 | 04:11

Gaya Koruptor Sorong Beda dengan Indonesia Barat

Rabu, 22 April 2026 | 03:37

GoSend Rilis Fitur Kode Terima Paket

Rabu, 22 April 2026 | 03:13

Disita Aset Rp2 Miliar dari Safe Deposit Box Pejabat Bea Cukai

Rabu, 22 April 2026 | 03:00

Rano Tekankan Integritas CPNS Menuju Jakarta Kota Global

Rabu, 22 April 2026 | 02:24

Pegawai BUMN Dituntut Tangkal Narasi Negatif terhadap Pemerintah

Rabu, 22 April 2026 | 02:09

Ibrahim Arief Merasa Jadi Kambing Hitam Kasus Chromebook

Rabu, 22 April 2026 | 02:00

Keluarga Nadiem Adukan Dugaan Kejanggalan Kasus Chromebook ke DPR

Rabu, 22 April 2026 | 01:22

Fahira Idris: Perempuan Jadi Tumpuan Indonesia Maju 2045

Rabu, 22 April 2026 | 01:07

Dony Oskaria: Swasembada Pangan Nyata Bukan Hoaks

Rabu, 22 April 2026 | 01:03

Selengkapnya