Berita

Edhy Prabowo dan Susi Pudjiastuti/Net

Politik

Asosiasi Nelayan Lobster Ungkap Perbedaan Kebijakan KKP Era Edhy Prabowo Dengan Susi Pudjiastuti

SENIN, 13 JULI 2020 | 15:24 WIB | LAPORAN: AHMAD KIFLAN WAKIK

Keterlibatan publik atau khususnya nelayan dalam pembahasan rancangan kebijakan jadi sisi positif Kementerian Kelautan dan Perikanan era Edhy Prabowo.

Ketua Umum Asosiasi Nelayan Lobster Indonesia (ANLI), Rusdianto Samawa mengungkapkan, budaya konsultasi publik sebelum mengeluarkan kebijakan sama sekali hilang pada masa KKP era Susi Pudjiastuti.

Justru sebaliknya, Edhy Prabowo membangkitkan budaya konsultasi publik melalui kajian-kajian, forum konsultasi,


“Konsultasi publik, kuncinya ada partisipatif dalam penentuan kebijakan dan perumusan peraturan perundang-undangan. Tentunya akan berdampak bagi nelayan dan masyarakat yang bertumpuan hidupnya di sektor kelautan dan perikanan,” kata Rusdianto dalam keteranganya, Senin (13/7).

Bahkan masalah yang paling krusial zaman Menteri KKP Susi Pudjiastuti, kata Rusdianto, penyusunan peraturan atau kebijakan dilakukan tanpa ada kajian akademik, tanpa ada dialog pakar, ahli dan meminta pendapat masyarakat.

Namun pada zaman Edhy Prabowo justru mengeluarkan instruksi B.717/MEN-KP/XI/2019 tentang kajian terhadap peraturan bidang kelautan dan perikanan.

“Tentu, proses pengambilan keputusan melibatkan partisipasi publik dengan sentral kegiatan konsultasi,” ujarnya.

Selama 2 bulan ini, Edhy telah menggelar kegiatan konsultasi Publik berdurasi 2 kali dalam seminggu. Dimana dalam setiap kegiatanya selalu mengundang para pakar untuk ikut memberi masukan terkait kebijakan yang sebaiknya diambil pemerintah.

“Tetapi, pada periode lalu, mantan Menteri KKP periode 2014-2019 mengambil kebijakan sangat seperti seorang koboy," imbuhnya.

Kebijakan koboy, lanjutnya, adalah gambaran bahwa proses pengambil kebijakan dan keputusan membuat peraturan itu tanpa ada konsultasi publik, tanpa meminta pendapat para ahli, tanpa memanggil nelayan sebagai perasa akibat peraturan dan tanpa bertabayyun kepada pengusaha perikanan.

“Praktek kebijakan koboy banyak disukai oleh netizen, tetapi secara fakta dan meluas mematikan dunia usaha kelautan dan perikanan. Zaman Menteri KKP Susi Pudjiastuti sektor kelautan dan perikanan hancur lebur,” keluhnya.

Selama delapan bulan era Edhy Prabowo, Rusdianto merasakan bahwa pengambilan keputusan tidak sembarangan. Para pakar-pakar dilibatkan sehingga nelayan dapat manfaat dan nilai tambah dari kebijakan.

Konsultasi publik yang bangkitkan oleh Edhy Prabowo sangatlah beragam. Semangat instruksi menteri Edhy Prabowo memaknai bahwa publik memiliki hak untuk dimintai pendapatnya, memperoleh penjelasan, mengajukan usulan dan mengoreksi secara terus menerus setiap keputusan dan kebijakan yang diambil.

“Bahkan, jika dianggap perlu, misalnya untuk menyikapi hal-hal yang sangat kritis, publik juga perlu terlibat dalam proses pengambilan keputusan dan menjelaskannya diberbagai ruang media massa,” ungkapnya.

Menurutnya, Edhy Prabowo sangat rasional, terbuka dan objektif. Hampir tidak ada ruang untuk menentukan keputusan sendiri, selalu melibatkan masyarakat, nelayan, pengusaha dan pesisir disektor kelautan dan perikanan.

“Artinya tidak akan ada lagi kebijakan," demikian Rusdianto.

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

ANTAM Pertahankan Posisi di Tiga Indeks ESG KEHATI Periode Juni–November 2026

Jumat, 19 Juni 2026 | 12:22

Dari Korupsi BGN ke RUU HAM: Meninjau Korban yang Terlupakan

Jumat, 19 Juni 2026 | 12:02

KSAU Resmikan Skadron Udara 18 di Lanud Halim, Perkuat Dukungan Penerbangan Kenegaraan

Jumat, 19 Juni 2026 | 12:01

Pimpinan DPR Siap Temui Mahasiswa yang Demo di Parlemen Hari Ini

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:57

PGN Gelar Program Bedah Dapur GasKita 2026 demi Manjakan Pelanggan

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:45

KPK Dalami Peran Mertua Menpora Dito Ariotedjo dalam Skema Kuota Haji 50:50

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:42

BPJPH dan ESQ Siapkan SDM Tangguh Hadapi Wajib Halal 2026

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:37

Sugiono Sampaikan Salam Prabowo untuk Putin, Minta Maaf Absen di KTT ASEAN-Rusia

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:35

Harga Minyak Dunia Stabil saat Selat Hormuz Kembali Dibuka

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:27

93 Sekolah Rakyat Permanen Hampir Rampung, Mensos Imbau Pemda Perkuat Kolaborasi

Jumat, 19 Juni 2026 | 11:09

Selengkapnya