Berita

Salamuddin Daeng/Net

Publika

Badai Telah Datang Menerjang, Semua Akan Terseret, Yang Menghalangi Akan Tersapu Bersih

SENIN, 06 JULI 2020 | 08:43 WIB | OLEH: SALAMUDDIN DAENG

BADAI itu namanya Transparansi. Digerakkan oleh tiga elemen kunci yakni:
1. ICT digitalisasi dan Financial Technology
2. Automatic of exchange Information (AEOI), Mutual Legal Assistance (MLA)
3. Single taxation, single currency

Kesemuanya menghantam dengan cepat, menyeret, merobohkan semua yang menghalangi.

Kesemuanya menghantam dengan cepat, menyeret, merobohkan semua yang menghalangi.

Badai transparansi ini akan menghantam semua tembok-tembok lama, benteng-benteng tua yang dibangun dari beternak uang kotor, dirty money, hasil penjarahan kekayaan alam, penghindaran pajak, pencucian uang, korupsi, dan berbagai macam kejahatan keuangan.

Uang yang mengalir dari petrodolar, ekstraksi minyak dan gas yang selama ini menjadi fondasi utama dunia sejak 1971, yang digunakan untuk membiayai agresi, perang, kudeta, dan berbagai proyek politik di seluruh dunia.

Uang yang selama ini digunakan untuk memelihara pemerintahan boneka, penyelenggara politik, dan aparatur kekuasaan. Uang yang terakumulasi dan menumpuk di negara-negara tax heaven, pusat-pusat pencucian uang, dan pasar perjudian, bursa saham, dan lain sebagainya.

Sekarang petrodolar yang menjadi fondasi utama ekonomi dunia selama 50 tahun terakhir telah roboh. Uang yang berasal dari petrodolar yang mengalir melalui back office yang tadinya merupakan sumber utama pembiayaan institusi  ekonomi dan politik, kini telah dipandang harta ilegal, dipandang sebagai uang kotor merusak keseimbangan ekonomi global serta mendistorsi modul transparansi.

Elemen-elemen utamanya yakni perusahaan ekstraksi sumber daya alam, dan perusahaan minyak, gas, batubara telah dipandang sebagai ancaman dunia, biang kerusakan lingkungan, bencana alam, dan penyakit.

Tidak dapat dipungkiri bahwa serangan Covid-19 telah menghantam kaki dan tangan petrodolar. Konsumsi dunia ambruk, keuangan pemerintah dikeringkan, harga minyak dijatuhkan, harga batubara amblas, perusahaan-perusahaan minyak, gas dan batubara, tambang, terjerat oleh utang yang tidak mungkin mereka bisa bayar.

Demikian juga negara-negara yang bersandar padanya telah tengkurap, dan tak mampu bangkit lagi karena ditinggal pergi oleh uang.

Sisa napas yang mereka gunakan untuk bertahan dihantam dengan agenda Paris COP 21 yang akan memalak hingga di atas batas kemampuan secara ekonomi dan keuangan mereka. Melalui pajak karbon, bunga uang tinggi membuat produsen energi kotor tidak memiliki peluang untuk pulih bahkan tak ada lagi peluang mereka survive. Mereka menuju kebangkrutan secara sistematik.

Uang kotor yang tersimpan di ruang gelap tak lagi ada gunanya. Badai ICT digitalisasi dan fintec, secepat kilat akan menghapus kekayaan mereka. AEOI akan membuat uang mereka tetap tersimpan di tempat sampah dan tak dapat digunakan, atau akan berhadapan dengan MLA yang akan menjadikannya sebagai objek sitaan.

Sesungguhnya kejadian ini adalah perang besar, yang akan menciptakan patahan sejarah. Buffer politik lama bandar minyak, batubara, bank, dan lembaga keuangan konvensional yang menopang mereka akan musnah.

Komunitas jejaring sosial yang sekarang semakin luas dan terus meluas menghubungkan dunia tanpa batas-batas negara, dan kelas sosial telah menjelma menjadi negara terbesar di dunia. Mereka tak memerlukan central bank.

Bank-bank konvensional yang selama ini berperan sebagai lembaga intermediate dianggap parasit ekonomi. Jejaring sosial akan menjadi kekuatan ekonomi politik baru yang tampaknya akan memenangkan dan akan menata masa depan dengan cepat.

Petrodolar baru telah terbentuk sangat independen, tak bergantung pada sumber daya alam apa pun, bahkan politik dan kekuasaan negara manapun. Di tangan mereka tergenggam senjata transparansi yang melumpuhkan kekuatan lama tanpa kompromi, melalui mesin digital yang tidak mengenal kompromi, dan mesin tanpa perasaan.

Sirno ilang kertaning bumi, akibatnya negara sekarat, perusahaan-perusahaan bangkrut, pasar sepi pengunjung, walau barang melimpah ruah.

Namun ada yang akan selamat yang senantiasa eling lan waspodo, yang saleh, dan menyeru pada kebenaran, yang selalu sabar dalam setiap kesusahan.

Salamuddin Daeng

Populer

Menyorot Nuansa Politis Penetapan Direksi Pelindo

Senin, 02 Maret 2026 | 06:59

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Harga Tiket Pesawat Kembali Tidak Masuk Akal

Selasa, 03 Maret 2026 | 03:51

Rusia dan China akan Dukung Iran dari Belakang Layar

Minggu, 01 Maret 2026 | 04:20

Kecelakaan Moge di Kulon Progo, Istri Bos Rokok HS Meninggal

Senin, 02 Maret 2026 | 18:54

KAI Wisata Hadirkan Kereta Panoramic Rute Jakarta–Yogyakarta dan Solo

Sabtu, 28 Februari 2026 | 15:37

PKB Kutuk Pembunuhan Ali Khamenei dan Desak PBB Jatuhkan Sanksi ke Israel-AS

Minggu, 01 Maret 2026 | 18:07

UPDATE

Purbaya Soal THR Swasta Kena Pajak: Protes ke Bos Jangan ke Pemerintah

Sabtu, 07 Maret 2026 | 17:35

Immoderma Clinic Hadirkan Remee Pro, Teknologi Baru Injector Skinbooster

Sabtu, 07 Maret 2026 | 17:28

Keterlibatan di BoP, Indonesia Jangan Terjebak Langgam Donald Trump

Sabtu, 07 Maret 2026 | 16:54

Ketika Risiko Bisnis Dipidanakan

Sabtu, 07 Maret 2026 | 16:19

Digelar di Palu, Muswil DPW PPP Sulteng Lancar dan Sesuai Konstitusi

Sabtu, 07 Maret 2026 | 15:35

Komisi I DPR: Pemerintah Harus Konsisten Jalankan Politik Luar Negeri Bebas Aktif

Sabtu, 07 Maret 2026 | 15:13

Maskapai Saudia Mulai Buka Penerbangan Tujuan Dubai

Sabtu, 07 Maret 2026 | 14:59

Perempuan Bangsa Soroti Keselamatan Anak dan Lansia Saat Mudik

Sabtu, 07 Maret 2026 | 14:44

Purbaya Sudah Cairkan THR Pensiunan Rp11,4 Triliun, ASN Pusat Baru Rp3 Triliun

Sabtu, 07 Maret 2026 | 14:26

Pendapatan PGAS Naik Jadi 3,98 Miliar Dolar AS di 2025

Sabtu, 07 Maret 2026 | 14:07

Selengkapnya