Berita

Osvia Serang/Net

Publika

Sekilas Potret Pendidikan Nasional: Mulai Dari Menteri Irasional Sampai Gerakan Anti Kebodohan

MINGGU, 05 JULI 2020 | 19:29 WIB | OLEH: ARIEF GUNAWAN*

WAKTU mendekati proklamasi kemerdekaan 1945, ialah pada 1942, di Indonesia hanya ada 400 orang lulusan sekolah tinggi yang kebanyakan lulusan kedokteran.

Orang Belanda mendirikan sekolah-sekolah mulanya untuk mencetak para loyalis.

Sekolah-sekolah Pangreh Praja (sekolah calon pegawai negeri) seperti OSVIA, dibikin untuk menghasilkan tenaga siap pakai.


Kalau tidak ada Revolusi ‘45 mereka inilah para pegawai negeri kolonial yang akan meneruskan administrasi/birokrasi kolonial.

Pola pendidikan Taman Siswa yang dibikin Ki Hadjar Dewantara mengedepankan pendidikan sebagai “matahari yang menyinari semua penjuru”.

Ia menyejajarkan pendidikan Barat dengan jalur tradisional. Memupuk kecintaan kepada Tanah Air dan kehalusan budi.

Waktu Iwa Kusumasumantri, seorang nasionalis yang oleh sejarawan Andrew Goss, dalam buku “Belenggu Ilmuwan dan Pengetahuan, dari Hindia Belanda Sampai Orde Baru” menjadi Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan, pada tahun 1960-an, Iwa secara keras memaksakan konsep Manipol-USDEK di seluruh universitas, memecat para profesor dan kalangan akademisi yang tidak sejalan dengan Demokrasi Terpimpin.

Mahasiswa yang mau melanjutkan studi ke luar negeri harus mendapat izin Iwa secara pribadi dan lebih dulu bersumpah setia kepada Manipol-USDEK.

Di masa itu, ahli hukum mendapatkan sanksi keras apabila pandangannya bertolak belakang dengan Demokrasi Terpimpin.

Itulah yang menjadi kemiripan dengan era sekarang.

Kalau dulu Dr Rizal Ramli saat mahasiswa ITB, tahun 1976, melakukan Gerakan Anti Kebodohan yang menghasilkan Undang-Undang Wajib Belajar, gerakan moral intelektual semacam ini sekarang tidak terjadi, justru dalam suasana kian merosotnya kualitas pendidikan nasional dan terbelenggunya ilmu pengetahuan serta secara umum terkooptasinya kaum akademisi oleh kekuasaan.

Orang bilang, kalau hendak menghancurkan sebuah bangsa hancurkanlah pendidikannya, hancurkanlah sejarahnya.

Hari-hari belakangan ini kita seperti sedang menyaksikan proses kehancuran itu. Di tengah masifnya berbagai kedunguan penyelenggara negara, seperti menteri-menteri di kabinet, yang nampak kian kehilangan rasionalitas dan serba asbun.

Penulis adalah Wartawan Senior

Populer

Jokowi Layak Digelari Lambe Turah

Senin, 16 Februari 2026 | 12:00

Roy Suryo Cs di Atas Angin terkait Kasus Ijazah Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 12:12

Keputusan KIP Kuatkan Keyakinan Ijazah Jokowi Palsu

Minggu, 22 Februari 2026 | 06:18

Jokowi Makin Terpojok secara Politik

Minggu, 15 Februari 2026 | 06:59

Lima BPD Berebut Jadi Tuan Rumah Munas BPP HIPMI XVIII

Minggu, 15 Februari 2026 | 12:17

Harianto Badjoeri Dikenal Dermawan

Senin, 23 Februari 2026 | 01:19

Kasihan Banyak Tokoh Senior Ditipu Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 14:19

UPDATE

AKBP Didik Konsumsi Serbuk Haram sejak 2019

Kamis, 26 Februari 2026 | 04:10

Anggaran Pendidikan Bisa Dioptimalkan Tanpa Direcoki MBG

Kamis, 26 Februari 2026 | 04:08

THR di Jakarta Harus Cair Paling Lambat Dua Pekan sebelum Lebaran

Kamis, 26 Februari 2026 | 03:25

Ibnu Muljam, Pembunuh Ali yang Hafal Al-Qur'an

Kamis, 26 Februari 2026 | 03:11

PDIP Sesalkan MBG Sedot Dana Pendidikan

Kamis, 26 Februari 2026 | 03:01

Ubunubunomologi

Kamis, 26 Februari 2026 | 02:34

MBG Sah Pakai Anggaran Pendidikan

Kamis, 26 Februari 2026 | 02:11

Golkar Dukung Impor 105 Ribu Mobil India Ditunda

Kamis, 26 Februari 2026 | 02:00

Arief Poyuono: Megawati Dukung Program MBG

Kamis, 26 Februari 2026 | 01:25

Aksi Anarkis Mahasiswa di Polda DIY Ancam Demokrasi

Kamis, 26 Februari 2026 | 01:23

Selengkapnya