Berita

Mantan Wakil Ketua KPK, Laode Muhammad Syarif/RMOL

Politik

Eksportir Bertabur Politisi, Laode Syarif: KPK Perlu Intip Perusahaan Pengekspor Benih Lobster

MINGGU, 05 JULI 2020 | 17:26 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Kebijakan ekspor benih lobster yang ditelurkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menuai pro kontra.

Selain berlawanan dengan peraturan menteri terdahulu, yakni Susi Pudjiastuti, kebijakan Menteri Edhy Prabowo ini juga mendapat sorotan lantaran puluhan perusahaan eksportir yang ditunjuk banyak diisi nama politisi.

Berangkat dari kondisi tersebut, muncul dorongan agar Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk turut memantau kebijakan yang tertuang dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan 12/2020.


"Perlu diperhatikan dengan seksama oleh KKP. Laporan Majalah TEMPO tentang perusahaan pengekspor benih lobster. Mungkin perlu juga diintip oleh KPK," tulis mantan Wakil Ketua KPK, Laode M Syarif di akun Twitternya, Minggu (5/7).

Dalam laporan Tempo, edisi Sabtu (4/7), ada sejumlah politisi yang berkaitan dengan 30 perusahaan eksportis benih lobster yang ditunjuk, di mana 25 merupakan perseroan terbatas (PT), 3 persekutuan komanditer (CV), dan 2 usaha dagang (UD). Mayoritas perusahaan tersebut juga disebutkan baru berdiri sekitar tiga bulanan.

Nama-nama yang disebut banyak berasal dari Gerindra, partai yang juga menaungi Edhy Prabowo. Sebut saja PT Royal Samudera Nusantara yang mana Komisaris Utamanya adalah Ahmad Bahtiar Sebayang, yang juga merupakan Wakil Ketua Umum Tunas Indonesia Raya, organisasi sayap Partai Gerindra.

Laporan Tempo juga menyebutkan perusahaan lain yang diduga terafiliasi dengan Gerindra. Seperti, PT Bima Sakti Mutiara yang mayoritas sahamnya dimiliki PT Arsani Pratama. Di perusahaan ini, adik Prabowo Hashim Sujono Djojohadikusumo menduduki jabatan komisaris. Putri Hashim, Rahayu Saraswati duduk sebagai Direktur Utama.

Kemudian ada PT Agro Industri Nasional, yang komisarisnya adalah Sugiono yang juga Wakil Ketua Umum Gerindra, Sudaryono yang juga Wasekjen Gerindra. DI perusahaan ini pula, ada nama Wakil Menteri Pertahanan, Sakti Wahyu Trenggono sebagai Komisaris Utama.

Nama lain yang disebut dalam perusahaan yang terlibat ekspor benih lobster adalah mantan Wakil Ketua DPR RI yang kini berada di Partai Gelora, Fahri Hamzah. Di laporan Tempo, Fahri Hamzah disebut sebagai pemegang saham PT Nusa Tenggara Budidaya. Selain nama-nama tersebut, masih ada beberapa nama politisi yang turut tercantum dalam perusahaan ekspor benih lobster di bawah kepemimpinan Menteri Edhy Prabowo.

Di sisi lain, Menteri Edhy Prabowo memastikan proses seleksi eksportir benih lobster terbuka untuk siapa saja baik perusahaan maupun koperasi berbadan hukum selama pengaju memenuhi persyaratan dan kualifikasi.
 
"Ada cerita-ceritanya saya yang menentukan salah satu perusahaan. Tidak benar itu. Sudah ada timnya. Tim budidaya, tim perikanan tangkap, karantinanya, termasuk saya libatkan irjen. Semuanya terlibat, ikut turun tangan," kata Edhy dalam pernyataan resminya.

Populer

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Karyawan dan Konsultan Pajak Hasnur Group Dipanggil KPK Terkait Kasus Restitusi Pajak

Kamis, 09 April 2026 | 12:18

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

Serentak di Tiga Lokasi, KPK Periksa Pegawai Kemenag dan Bos Travel

Jumat, 17 April 2026 | 14:16

Waspadai Phishing dan Malware, BNI Tekankan Keamanan BNIdirect

Jumat, 17 April 2026 | 14:15

Bitcoin Stabil di Level 74.900 Dolar AS

Jumat, 17 April 2026 | 14:11

Ekonomi Jatim Tumbuh 5,33 Persen di 2025, Didongkrak Sektor Manufaktur

Jumat, 17 April 2026 | 14:05

KPK Periksa Direktur Kepatuhan Bank Papua dalam Kasus Korupsi Dana Operasional Papua

Jumat, 17 April 2026 | 14:01

Rekrutmen Manajer Kopdes Tak Boleh Ada Titipan

Jumat, 17 April 2026 | 13:50

Kasus Chat Cabul Mahasiswa Merebak di IPB, DPR Minta Kampus Bertindak Tegas

Jumat, 17 April 2026 | 13:41

Penahanan Harga BBM Non-Subsidi Dikhawatirkan Ganggu Kesehatan Fiskal

Jumat, 17 April 2026 | 13:39

PPIH Ujung Tombak Keberhasilan Penyelenggaraan Haji

Jumat, 17 April 2026 | 13:31

KPK Temukan Dapur MBG Tak Layak, Kasus Keracunan Jadi Alarm Serius

Jumat, 17 April 2026 | 13:22

Selengkapnya