Berita

Buku The Room Where IT Happened: A White House Memoir/Net

Muhammad Najib

Membongkar Borok Gedung Putih

KAMIS, 02 JULI 2020 | 10:32 WIB | OLEH: DR. MUHAMMAD NAJIB

THE Room Where IT Happened: A White House Memiar adalah judul sebuah buku yang kini sedang mengguncang aras politik di Amerika Serikat.

Buku ini ditulis oleh politisi senior yang pernah menjabat Penasihat Keamanan Nasional dan pernah menjadi Dutabesar AS di PBB (2005-2006). Buku yang ditulisnya  sejak masih di percetakan sudah menimbulkan kehebohan di masyarakat Amerika.

Ada beberapa sebab yang membuat buku ini menjadi penting dan menarik: Pertama, buku ini mengungkap begitu banyak sisi buruk orang nomor satu di Amerika yang saat ini masih menghuni Gedung Putih.


Jika kini Presiden Amerika ke-45 ini dikenal kontroversial, maka buku ini seolah memberikan berbagai bukti sejumlah tindakannya yang menyalahgunakan jabatannya yang merugikan dan membahayakan negaranya.

Kedua, buku ini ditulis oleh John Bolton yang pernah menjadi tangan kanan sang Presiden, disamping statusnya sebagai penasihat Presiden untuk urusan militer yang berhubungan langsung dengan keamanan dan keselamatan negara. Karena itu Bolton banyak sekali mengetahui hal-hal strategis sekaligus sensitif, sehingga perlu dijaga kerahasiaannya.

Ketiga, sejak awal rencana penerbitan buku ini, sudah berusaha dihalang-halangi oleh sang Presiden dan kaki-tangannya, baik dengan cara halus berupa persuasi sampai pada pendekatan intimidatif melalui aparat keamanan, bahkan dengan menggunakan perangkat hukum melalui Jaksa Agungnya William Barr. Akan tetapi semua ini ternyata gagal untuk menghalanginya untuk sampai ke toko buku.

Keempat, buku ini terbit hanya beberapa bulan sebelum pemilihan Presiden di Amerika, dimana Donald Trump maju kembali sebagai petahana. Karena itu sangat wajar jika timbul kekhawatiran, khususnya bagi tim suksesnya kalau buku ini akan melorotkan popularitas dan elektabilitas jagonya.

Dari begitu banyak keculasan dan kebobrokan yang dibongkar Bolton dalam bukunya, maka tulisan ini hanya akan menyingkap beberapa saja yang paling nyata dan signifikan, baik dilihat dari kerugian negaranya maupun dari pelanggaran yang dilakukan bila dilihat dari sisi hukum maupun moral.

Pertama, terkait dengan penunjukkan menantunya Jared Kushners sebagai penasihat senior Presiden Amerika untuk memimpin proses perdamaian di Timur Tengah, termasuk bagaimana menyelesaikan masalah konflik Israel vs Palestina.

Perdana Mentri Israel Benjamin Netanyahu mempertanyakannya, bagaimana politisi karbitan yang masih hijau dan miskin pengalaman seperti dia ditunjuk untuk menangani tugas berat seperti ini, sementara politisi senior yang dikenal hebat seperti Henry Kissinger saja gagal.

Kedua, dalam sebuah rapat di Pentagon pada tahun 2019, Presiden Donald Trump memprovokasi para petinggi militernya dengan pertanyaan: Mengapa Amerika berada di Afghanistan dan Irak, akan tetapi tidak di Venezuela.

Menurut Bolton, Trump ingin menggulingkan Presiden Venezuela  Nicolas Maduro melalui intervensi militer.

Ketiga, Trump meminta tolong Presiden China XI Jinping untuk membantunya agar terpilih kembali menjadi Presiden Amerika. Hal ini terjadi tahun 2019 saat kedua petinggi negara bertemu pada G-20 Summit di Osaka, Jepang.

Hal serupa diduga juga terjadi pada Pilpres sebelumnya yang mengantarkan Donald Trump dan keluarganya menghuni Gedung Putih. Tuduhan keterlibatan Rusia dalam pilpres untuk memenangkan Trump, sampai sekarang masih terus mengganggu legitimasinya sebagai penghuni Gedung Putih.

Apalagi institusi hukum di Amerika kemudian bergerak dengan melakukan penyelidikan terhadap tuduhan miring ini. Naasnya Trump berusaha terus mengganggu dan menghalang-halangi proses hukum ini, hingga ia sampai memecat sejumlah pejabatnya yang dinilainya mendukung proses penyelidikan yang sampai sekarang masih berjalan walau tersendat-sendat.

Sebenarnya banyak lagi kisah menarik dalam buku ini yang bisa dimasukkan kategori pencemaran nama baik orang nomor satu di AS yang masih menghuni Gedung Putih.

Kita tunggu apakah sang penulisnya akan mendapatkan tuntutan hukum, atau menghadapi tindakan tertentu dari mereka yang memiliki kekuasaan besar dan merasa dirugikan.

Yang pasti kehadiran buku ini akan mempengaruhi popularitas dan akseptabilitas Donald Trump sebagai kandidat capres petahana dalam pemilu yang tinggal beberapa bulan lagi, sekaligus menguji kepekaan nurani mayoritas masyarakat Amerika.

Berapa besar pengaruhnya dan apakah sampai menjadi penghalang yang akan menggagalkannya dalam memenuhi ambisinya untuk menjadi Presiden Amerika dua periode, mari kita tunggu bersama.

Penulis adalah pengamat politik Islam dan demokrasi.

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

UPDATE

Khalid Basalamah Ngaku Hanya jadi Korban di Kasus Yaqut

Kamis, 23 April 2026 | 20:16

Laba BCA Tembus Rp14,7 Triliun

Kamis, 23 April 2026 | 20:10

Singapura Masih jadi Investor Terbesar RI, Suntik Rp79 Triliun di Awal 2026

Kamis, 23 April 2026 | 20:04

TNI-Polri Buru Anggota OPM Penembak ASN di Yahukimo

Kamis, 23 April 2026 | 19:43

Hilirisasi Sumbang Rp147,5 Triliun Investasi di Triwulan I 2026

Kamis, 23 April 2026 | 19:26

Bareskrim Gandeng FBI Buru Ribuan Pembeli Alat Phising Ilegal

Kamis, 23 April 2026 | 19:17

Jemaah Haji Terima Uang Saku 750 Riyal dari BPKH

Kamis, 23 April 2026 | 19:15

Data Rosan Ungkap Investasi RI Lepas dari Cengkeraman Jawa-Sentris

Kamis, 23 April 2026 | 19:02

PLN Pastikan Listrik Jakarta Sudah Pulih 100 Persen

Kamis, 23 April 2026 | 18:56

Idrus Marham Sindir JK: Jangan Klaim Jasa, Biarlah Sejarah Menilai

Kamis, 23 April 2026 | 18:41

Selengkapnya