Berita

Menteri BUMN, Erick Thohir/Net

Politik

Rapor Merah BUMN, Tidak Ada Salahnya Erick Thohir Dievaluasi

SENIN, 29 JUNI 2020 | 19:40 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Sejumlah kebijakan Menteri BUMN Erick Thohir belakangan ini terus menuai kontroversi dan mengernyitkan dahi banyak kalangan.

Mulai dari, memasukkan jenderal aktif TNI-Polri masuk ke jajaran komisaris hingga terakhir pengangkatan seorang warga negara asing (WNA) asal Australia menjabat Direksi di salah satu anak perusahaan plat merah, yaitu PT Pertamina Bina Medika atau Pertamedika.

Akibat sejumlah kebijakan kontroversial yang dikeluarkannya tersebut, Erick Thohir didemo oleh mahasiswa diberbagai daerah.


"Wajar saja para mahasiswa yang menolak adanya WNA dan jenderal TNI-Polri yang diangkat sebagai direksi maupun komisaris BUMN. Mereka tersinggung, seolah-olah bangsa Indonesia tidak ada yang mampu," ujar Ketua Koordinator BUMN Watch Naldi N. Haroen, dalam keterangannya, Senin (28/6).

"Bangsa ini mempunyai lebih dari 250 juta penduduk, buat apa mereka sekolah tinggi-tinggi kalau bangsanya sendiri tidak menghargai ilmu yang didapatkan?" imbuhnya menegaskan.

Naldi Haroen menilai, BUMN merupakan perusahaan negara yang seharusnya bisa memberikan keuntungan besar bagi hajat hidup orang banyak.

Jika kebijakan yang dikeluarkan menterinya tidak sesuai dengan amanat konstitusi dan membuat BUMN terus merugi. Maka artinya menambah beban negara karena pada akhirnya akan meminta keuangan negara untuk menyuntiknya.

"PT Pertamedika adalah salah satu perusahaan kesehatan. Ini perusahaan yang krusial bagi kita. Jadi Erick Thohir jangan main-main dong dengan BUMN kita," tegas Naldi Haroen.

Selain itu, kata Naldi Haroen, apapun keputusan yang dilakukan oleh para pembantu Presiden Joko Widodo maka dapat dipastikan berimplikasi pada pemerintahan Jokowi-Maruf Amin itu sendiri.

Atas dasar itu, Naldi Haroen menyarankan agar para menteri yang membuat keputusan bisa merugikan pemerintahan Jokowi maka sepatutnya berpotensi di reshuflle.

Seperti diketahui, beberapa hari terakhir Presiden Jokowi dalam pidatonya merasa geram dan kesal dengan para pembantunya yang kinerjanya biasa-biasa saja menghadapi pandemik Covid-19.

Bahkan, Presiden Jokowi sempat melontarkan pertanyaan keras akan mereshuffle kabinet.

"Kami menilai menteri BUMN Erick Thohir sudah masuk dalam catatan merah. Jadi, menjelang satu tahun pemerintahan Jokowi-Maruf Amin ini tidak ada salahnya jika Erick Thohir dievaluasi. Bangsa kita punya orang-orang profesional yang bisa membenahi BUMN kita," jelasnya.

Belum lagi, lanjutnya, pihaknya juga menemukan banyaknya komisaris yang merangkap jabatan di BUMN.

Hal ini dikonfirmasi oleh temuan Ombudsman RI yang mencatat, terdapat 397 komisaris di perusahaan BUMN yang rangkap jabatan pada tahun 2019. Sementara 167 komisaris rangkap jabatan di anak usaha BUMN.

"Persis seperti temuan Ombudsman RI. BUMN Watch juga menemukan banyak rangkap jabatan di komisaris BUMN. Rangkap jabatan seperti ini tidak akan efektif dan terkesan hanya bagi-bagi jabatan," ungkapnya.

Padahal, terkait jabatan di BUMN ini berpotensi meraup bahkan menggerus keuangan negara. Sehingga, tidak menutup kemungkinan keuangan negara akan mendera kerugian yang luar biasa.

"Adanya rangkap jabatan ini berpotensi merugikan negara karena akan ada sifat conflict of interest atau konflik kepentingan. Ini akan berbahaya, karena rangkap jabatan ini otomatis setiap komisaris akan mendapatkan penghasilan double," tandasnya.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Jokowi Injak Kepala Kerbau saat Terima Gelar Adat Lampung, Apa Maknanya?

Selasa, 30 Juni 2026 | 18:21

Safari Politik Jokowi Bukti Kepemimpinan Gibran dan Kaesang Lemah

Selasa, 30 Juni 2026 | 18:21

Jokowi dan PSI, Duri dalam Daging Pemerintahan Prabowo

Selasa, 30 Juni 2026 | 18:09

Daftar Wilayah yang Berpotensi Terdampak El Nino 2026

Selasa, 30 Juni 2026 | 18:05

Keiko Fujimori Akhirnya Bernasib Sama Seperti Prabowo

Selasa, 30 Juni 2026 | 18:03

KPK Sebut 10 Orang Diamankan dalam OTT Kuansing

Selasa, 30 Juni 2026 | 17:57

Panitia Minta Jokowi Datang Setelah Acara Adat, Kunjungan Malah Batal

Selasa, 30 Juni 2026 | 17:50

Koperasi Beri Ruang Bagi Mahasiswa Berwirausaha

Selasa, 30 Juni 2026 | 17:37

Tutup Perdagangan Akhir Bulan: IHSG Merosot ke 5.643, Rupiah Loyo Dekati Rp18 Ribu

Selasa, 30 Juni 2026 | 17:28

Ketum AHY: Genap 25 Tahun, Partai Demokrat Ingin jadi Bagian Solusi

Selasa, 30 Juni 2026 | 17:19

Selengkapnya