Berita

Presiden Joko Widodo di depan para menteri/Ist

Publika

Reshuffle Kabinet dan Arah Rezim Jokowi Ke Depan

MINGGU, 28 JUNI 2020 | 23:18 WIB | OLEH: DR. SYAHGANDA NAINGGOLAN*

BERBAGAI media hari ini memuat pernyataan Jokowi tentang kegagalan Jokowi sendiri atau pemerintahannya, yang dinyatakan oleh Jokowi sendiri, terkait kegagalan menangani pandemik covid-19 dan dampaknya.

Pengakuan ini sebenarnya diumumkan sendiri oleh istana, atas ijin Jokowi, yakni peng-upload-an video rapat kabinet pada Kamis, 18 Juni lalu.

Dalam video tersebut dapat kita ketahui: 1) Jokowi menuduh menteri kesehatan tidak becus, karena hanya menggelontorkan secuil anggaran (1,5%) untuk penanganan Covid-19. Padahal anggaran kemenkes Rp. 75 triliun sangatlah besar.


2) Jokowi menuduh para menterinya tidak mempunyai "sense of crisis", yakni perasaan bahwa situasi saat ini tidak normal. Tidak punya progress baik dalam 3 bulan ini. Padahal, situasi pandemik membutuhkan kerja dan kinerja dimana para menteri2 harus "extra ordinary".

3) Jokowi menunjukkan nada kemarahan pada video tersebut. Jokowi mengancam akan melakukan reshuffle kabinet.

Dari wajah dan nada pidato Jokowi serta peng upload an ke publik yang berjarak 10 hari, terlihat Jokowi benar-benar frustasi pada situasi ini.

Beberapa hal yang perlu diamati antara lain: 1) Jokowi telah resmi menyatakan bahwa kabinetnya hanya cocok untuk situasi normal, namun tidak kompatibel untuk situasi kriris.

2) Jokowi bingung dengan sudah adanya  Perpu Corona, ternyata belum menghasilkan apa yang sebelumnya dibayangkan Jokowi sebagai payung gerak cepat menghadapi krisis ini.

3) Jokowi mungkin akan melakukan perombakan kabinet dan atau membubarkan lembaga yang tidak penting serta juga mungkin membuat Perpu tambahan.

Pertanyaannya kemudian adalah: 1) apakah Jokowi jujur dalam mengatakan apapun akan dia lakukan untuk menyelamatkan 267 juta rakyat?

2) Jika Jokowi jujur bahwa dia pro rakyat, apakah Jokowi akan membuka ke publik bagaimana dia bisa menemukan orang2 tanpa kredibilitas dan kapasitas itu bisa masuk menjadi anggota kabinetnya?

3) Apakah jika Jokowi me reshuffle kabinet akan mampu mengatasi krisis kesehatan dan krisis ekonomi. Khususnya soal anggaran sektor kesehatan, fokus bansos dan fokus UMKM dalam pidato itu. Dalam krisis kesehatan kita sudah terlalu hancur. Sedangkan krisis ekonomi, menurut Jokowi, krisis ekonomi dunia sudah terlalu dalam juga.

Melihat wajah dan ekspresi Jokowi dalam pidato tersebut, kelihatannya Jokowi mempunyai maksud baik, sehingga berani meng upload video tersebut ke publik. Ketika Jokowi mengatakan kecintaannya pada nasib 267 jita rakyat, terlihat wajah Jokowi seperti menangis. Namun, analisa wajah dan kata-kata dalam pidato sangat sulit ditafsirkan mengingat eksistensi Jokowi dan rezimnya saat ini adalah sebuah produk yang disadari Jokowi sejak awal.

Jika Jokowi melakukan reshuffle kabinet dan bahkan menerbitkan Perpu baru serta membubarkan lembaga yang tidak perlu, siapakah  sekutu Jokowi melakukan itu?

Apakah Jokowi punya sekutu yang berorientasi pada keinginannya untuk menyelamatkan nasib rakyat? Yang kerja "extra ordinary"? Bukankah rezim Jokowi selama ini lebih percaya pencitraan lembaga lembaga survei dan buzzer?

Jika reshuffle kabinet ternyata tiga bulan ke depan, sebagai mana"time frame" dalam pidatonya, hasil rezim Jokowi juga sama gagalnya, apa yang perlu didengar publik dari Jokowi? Bukankah kegagalan selama 3 bulan ke belakang, sebagaimana klaim Jokowi dalam pidato, sudah cukup membahayakan bangsa dan negara kita?

Penutup

Jokowi adalah "gentlemen" ketika mengakui kegagalannya dalam menangani pandemik dan dampak ekonominya selama 3 bulan ke belakang. Dari raut wajah, nada pidato dan ekspresinya,  Jokowi terlihat serius dalam otokritik tersebut.

Namun, membebani kesalahan ini pada menteri menterinya yang dikatagorikan tidak punya perasaan krisis (sense of crisis), bekerja biasa biasa aja pada saat ekonomi memburuk dan sektor kesehatan memburuk, serta akan di reshuffle, perlu penjelasan ke publik kenapa dan bagaimana Jokowi menemukan dan mengangkat menteri-menteri itu.

Jika Jokowi mengasumsikan kinerja pemerintahannya dalam ukuran 3 bulan ke depan harus punya progress yang hebat, dengan menteri-menteri baru, bagaimana jika hasilnya sama buruknya? Apakah menteri-menterinya juga yang salah?

Tantangan Jokowi ke depan sangatlah berat. Bisa jadi Jokowi mencintai rakyat sebagaimana klaimnya pada video tersebut. Namun, klaim itu butuh pembuktian lebih lanjut, karena rakyat tetap mengawasi.

Dr. Syahganda Nainggolan

Direktur Eksekutif Sabang Merauke Circle

Populer

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Prabowo Berpeluang Digeruduk Demo Besar Usai Lebaran

Rabu, 11 Maret 2026 | 06:46

UPDATE

Koperasi Berbasis Masjid Diharap Bangkitkan Ekonomi Lokal

Sabtu, 14 Maret 2026 | 18:02

Ramadan Momentum Menguatkan Solidaritas Sosial

Sabtu, 14 Maret 2026 | 17:44

Gerebek Rokok Ilegal Tanpa Tersangka, PB HMI Minta Dirjen Bea Cukai Dievaluasi

Sabtu, 14 Maret 2026 | 17:21

Mudik Arah Timur, Wakapolri: Ada Peningkatan Volume Kendaraan Tapi Lancar

Sabtu, 14 Maret 2026 | 17:08

Rencana Libatkan TNI Berantas Terorisme Kaburkan Fungsi Keamanan dan Pertahanan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 16:46

Purbaya: Ramalan Ekonomi RI Hancur di TikTok dan YouTube Tak Lihat Data

Sabtu, 14 Maret 2026 | 16:21

KPK Tetapkan 2 Tersangka OTT di Cilacap

Sabtu, 14 Maret 2026 | 15:58

Komisi III DPR Minta Negara Tanggung Penuh Biaya Pengobatan Aktivis KontraS

Sabtu, 14 Maret 2026 | 14:38

AS Pastikan Harga Minyak Dunia Tak akan Tembus 200 Dolar per Barel

Sabtu, 14 Maret 2026 | 13:55

Amerika Salah Perhitungan dalam Perang Melawan Iran

Sabtu, 14 Maret 2026 | 13:43

Selengkapnya