Berita

Putra sulung Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka dan menantunya, Bobby Afif Nasution/Net

Dunia

Media Asing Soroti Pencalonan Gibran Dan Bobby: Politik Dinasti Mengakar Di Indonesia

KAMIS, 25 JUNI 2020 | 17:54 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Pencalonan putra sulung Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka sebagai Walikota Solo dan menantunya, Bobby Afif Nasution sebagai Walikota Medan telah menyibak perkembangan politik dinasti di Indonesia.

Itu pun disoroti oleh berbagai media asing, salah satunya The Strait Times dari Singapura. Melalui sebuah artikel berjudul "Mayoral bids by Indonesia President Jokowi's son And son-in-law spark 'political dynasty' debate" yang dirilis pada Rabu (24/6).
Pada akhir Mei, rival Gibran, Achmad Purnomo diketahui mundur dari pencalonannya pada karena merasa "tidak nyaman" untuk mencalonkan diri di tengah-tengah pandemik Covid-19.

Baik Gibran dan Achmad Purnomo merupakan calon yang diusung oleh PDIP. Gibran diusung oleh DPP PDIP Jawa Tengah, sementara Achmad Purnomo diusung oleh DPC PDIP Kota Solo.

Baik Gibran dan Achmad Purnomo merupakan calon yang diusung oleh PDIP. Gibran diusung oleh DPP PDIP Jawa Tengah, sementara Achmad Purnomo diusung oleh DPC PDIP Kota Solo.

Namun menurut Direktur Eksekutif Nagara Institute, Akbar Faizal kepada The Strait Times, pengunduran diri Achmad Purnomo merupakan bentuk budaya masyarakat Jawa, di mana seseorang akan merasa tidak nyaman untuk melawan orang yang mereka yakini memegang kekuasaan.

"Juga, mereka merasa, tidak mungkin menang melawan putra presiden," tambahnya.

Selain Gibran, menantu Jokowi, Bobby juga telah mencalonkan diri sebagai Walikota Medan dengan tiket yang sama, dari PDIP.

Pencalonan anak dan menantu Jokowi sendiri dianggap telah mengecewakan publik. Pasalnya, selama ini Jokowi dikenal dan dielu-elukan karena, salah satunya, berusaha untuk menjauhkan keluarganya dari politik.

"Orang-orang menganggapnya lebih dari politisi, tetapi seorang negarawan yang tidak mengutamakan kepentingan keluarganya. Itu telah menjadi kekuatannya selama ini. Itu membuatnya sangat menarik dan memberi orang rasa harapan. Jadi sekarang, banyak yang kecewa karena dia telah memberikan berkahnya kepada putra dan menantunya," ujar pakar politik dari Universitas Paramadina, Dr Djayadi Hanan.

Dalam artikelnya, The Strait Times menulis, nominasi Gibran dan Bobby berfungsi untuk memicu asumsi bahwa Jokowi ingin membuat dinasti politik. Ini pun diperkuat oleh pernyataan Akbar Faizal.

"Nominasi (dari keluarga Jokowi) menunjukkan bahwa dinasti politik tidak hanya tumbuh, tetapi berkembang," ujar Akbar Faizal.

Seperti dikatakan Akbar Faizal, politik dinasti sebenarnya sudah banyak dilakukan oleh berbagai pemimpin dan politisi di Indonesia.

Pada pemilihan kepala daerah (pilkada) akhir tahun ini saja, putri Wakil Presiden Maruf Amin, Siti Nur Azizah juga ikut bersaing untuk menjadi Walikota Tangerang Selatan.

Putri Presiden Soekarno, Megawati Soekarnoputri menjadi presiden kelima Indonesia. Putri Mega, Puan Maharani menjadi Ketua DPR.

Kemudian putra Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Agus Harimurti saat ini tengah digodok untuk meneruskan kekuasaan.

Dan saat ini, dua anggota keluarga Jokowi yang tidak memiliki pengalaman di bidang politik, berusaha ikut masuk dalam pemerintahan.

“Apa kualifikasi mereka? Apa kemampuan mereka, rekam jejak mereka?" ujar Djayadi Hanan.

Mengingat saat ini tidak ada aturan yang mengatur mengenai pencalonan kerabat politisi untuk jabatan publik. para pakar menyarankan agar pemerintah dan partai politik meningkatkan kriteria pemilihan. Di mana kualitas pendidikan di bidang politik dan administrasi harus ditingkatkan.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

UPDATE

Nasdem Ingatkan Ancaman El Nino dan Dampak Geopolitik ke Pangan Nasional

Selasa, 07 April 2026 | 14:17

Istana Kaji Wacana Potong Gaji Menteri, Belum ada Keputusan

Selasa, 07 April 2026 | 14:14

Pemerintah Genjot Biofuel untuk Redam Dampak Kenaikan Harga Pangan

Selasa, 07 April 2026 | 14:02

Benteng Etika Digital: Pemerintah Godok Dua Perpres untuk Jinakkan Risiko AI

Selasa, 07 April 2026 | 13:53

KPK Panggil Petinggi 5 Perusahaan Travel Haji

Selasa, 07 April 2026 | 13:34

Seruan Saiful Mujani Tak Digubris, Istana: Prabowo Fokus Agenda Strategis

Selasa, 07 April 2026 | 13:33

Monitoring Ketat Jadi Kunci WFH ASN Tetap Produktif

Selasa, 07 April 2026 | 13:21

Pemerintah Klaim Ketahanan Pangan Nasional Stabil hingga 11 Bulan ke Depan

Selasa, 07 April 2026 | 13:17

Jangan Adu Domba Rakyat dengan Pemerintah Soal BBM

Selasa, 07 April 2026 | 13:11

Kasus Suap Pemkab Bekasi: KPK Periksa Istri Ono Surono Sebagai Saksi

Selasa, 07 April 2026 | 13:08

Selengkapnya