Berita

Taufik Ismail/Istimewa

Jaya Suprana

Penyair Rendah Hati

RABU, 24 JUNI 2020 | 08:47 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

KALAU engkau tak mampu menjadi beringin
Yang tegak di puncak bukit
Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik,
Yang tumbuh di tepi danau

Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,

Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,
Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang
Memperkuat tanggul pinggiran jalan

Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya
Jadilah saja jalan kecil,
Tetapi jalan setapak yang
Membawa orang ke mata air

Tidaklah semua menjadi kapten. Tentu harus ada awak kapalnya….
Bukan besar kecilnya tugas  yang menjadikan tinggi rendahnya nilai dirimu
Jadilah saja dirimu.Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri

Taufik Ismail

Puisi berjudul “Kerendahan Hati” tersebut di atas adalah mahakarya penyair yang dilahirkan di Bukit Tinggi 23  Juni 1935, Drh. Taufik Ismail. Tanpa mengurangi rasa hormat dan kagum terhadap Rendra, terus terang saya akui bahwa saya juga menghormati dan mengagumi Taufik Ismail.

Di rak perpustakaan pribadi saya, di samping kumpulan puisi Murasaki, Dickinson, Whitman, Shakespeare, Ovid, Homer, Carrol, Hafiz Ibrahim, Pushkin dan lain-lain, juga terdapat kumpulan puisi Taufik Ismail yang terhimpun pada tiga jilid buku berjudul “Dust On Dust”.

Tiga buku kumpulan sajak Taufik Ismail dalam bahasa Indonesia dan Inggris tersebut memiliki makna istimewa bagi diri saya sebab dihadiahkan langsung oleh Taufik Ismail kepada saya sebagai hadiah tambah usia saya yang ke-69 tahun (maaf, saya menghindari istilah Ulang Tahun yang jelas keliru sebab tahun belum bisa diulang).

Saya juga tidak bisa melupakan kerendahan hati pak Taufik berkenan memberikan pujian khusus kepada saya seusai membacakan puisi karya sendiri tentang penggusuran rakyat padahal saya sama sekali tidak membaca puisi itu sebab puisi itu total tanpa kata sebagai ungkapan bahwa memang tidak ada kata mampu melukiskan kesedihan sanubari saya ketika menyaksikan warga Bukit Duri digusur secara sempurna melanggar hukum pada 28 September 2016.

Dalam gelisah menghadapi pageblug Corona, ketimbang ketinggian hati maka kerendahan hati justru menjadi makin dibutuhkan demi memperkuat daya tahan batin manusia.

Kerendahan Hati


Saya terkesan atas kerendahan hati sang mahapenyair Nusantara mantan kepala LPKJ sebelum menjadi IKJ, sejak mengikuti polemik industri hiburan adu jotos pada masa puncak popularitas tontonan manusia adu tinju gegara Muhammad Ali.

Taufik Ismail secara sendirian melawan arus (termasuk anak-anak Taufik sendiri dan saya yang terus-terang gemar nonton orang adu jotos) dengan menggubah sajak “Memuja Kepalan, Menghina Kepala” secara indah mengungkap keyakinan anti kekerasan sang dokter hewan yang sempat merangkap Pemimpin Redaksi Majalah Horison nan legendaris.

Kerendahan hati bukan sekadar rekayasa pencitraan namun secara kodrati sudah mendarah-daging pada diri Taufik Ismail. Setiap kali berjumpa dan mendengar Taufik Ismail bertutur-kata, saya senantiasa takjub atas aura kerendahan hati sang putra terbaik Indonesia penerima anugrah South East Asian Writer Award dan Bintang Budaya Parama Dharma tersebut.

Setiap kali saya membaca dan/atau mendengar sajak Taufik Ismail dibaca oleh dirinya sendiri maupun orang lain, sukma saya tergetar. Bukan hanya akibat kekaguman namun keterharuan atas keindahan tutur kata dan kalimat yang terkandung di dalam mahakarya sastra mahasastrawan Nusantara.

Adalah puisi “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia” yang menginspirasi saya untuk tidak malu mulai mempelajari apa yang disebut sebagai malu sebagai lanjutan kelirumologi yang kemudian tersurat di dalam buku Malumologi.

Menurut pendapat saya, meski Taufik Ismail bukan orang Jawa namun beliau justru lebih Jawa ketimbang orang Jawa sebagai personifikasi dalam wujud lahir-batin falsafah Jawa yang paling saya upaya hayati yaitu Ojo Dumeh.

Saya sengaja menulis naskah ini pada 24 Juni 2020 sehari sebelum 25 Juni 2020 sebagai hadiah hari tambah usia ke-85 tahun Taufik Ismail.

Maka dengan penuh kerendahan hati saya mengucapkan “Selamat Bertambah Usia Menjadi 85 Tahun, pak Taufik Ismail!”

Penulis adalah pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan.


Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

PT PMM Keberatan 15 Kontainer Mineral Ekspor Dibongkar Aparat

Minggu, 24 Mei 2026 | 16:43

Nilai TKA Siswa SD-SMP Jeblok, Program MBG Dipertanyakan

Senin, 01 Juni 2026 | 02:30

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Blusukan Jokowi Sulit Naikkan Suara PSI, Apalagi Goyang PDIP

Senin, 01 Juni 2026 | 04:00

UPDATE

Penunjukan Nanik S. Deyang Kepala MBG Sesuai Hasil Evaluasi

Rabu, 03 Juni 2026 | 16:13

Turun Gunung Jokowi Dalam Rangka Cari Keselamatan

Rabu, 03 Juni 2026 | 16:05

Gibran Ingin Birokrasi Berjalan Gesit dan Kolaboratif

Rabu, 03 Juni 2026 | 16:01

Prabowo Apresiasi Peran Turki Bantu Pulangkan Sembilan WNI dari Tahanan Israel

Rabu, 03 Juni 2026 | 15:56

Penyiram Air Keras ke Andrie Yunus Hanya Dituntut 2,5 Tahun Penjara

Rabu, 03 Juni 2026 | 15:52

Warganet Anggap Penggeledahan Kantor BGN oleh Kejagung Drama Telenovela

Rabu, 03 Juni 2026 | 15:45

Gebrakan Jampidsus Obrak-abrik Kantor BGN Patut Diacungi Jempol

Rabu, 03 Juni 2026 | 15:42

Kunjungan ke Rusia, AHY Bawa Pulang Proyek PLTN Terapung hingga Kapal Cepat

Rabu, 03 Juni 2026 | 15:41

DPR Dukung Kejagung Geledah BGN Usut Dugaan Korupsi MBG

Rabu, 03 Juni 2026 | 15:07

Istana Respons Kabar Penangkapan Eks Kepala BGN oleh Kejagung

Rabu, 03 Juni 2026 | 15:06

Selengkapnya