Berita

Ketua Umum FSP BUMN Bersatu/Net

Bisnis

Menteri-Menteri Jangan Keluarkan Pernyataan Ngaco, Serikat Pekerja BUMN: Pertumbuhan Ekonomi Bisa Positif

JUMAT, 19 JUNI 2020 | 08:58 WIB | LAPORAN: YELAS KAPARINO

Kalangan pekerja masih optimistis pertumbuhan ekonomi nasional tidak seburuk yang dikhawatirkan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.

Syaratnya adalah program yang sudah dirancang pemerintah dijalankan secara maksimal dan menteri-menteri yang memiliki kewajiban menjalankan program itu tidak main politik dan memproduksi pernyataan-pernyataan ngaco.

Demikian disampaikan Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu, Arief Poyuono, dalam perbincangan dengan redaksi, Jumat pagi (19/6).


Kementerian Keuangan memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal II mengalami penurunan hingga minus 3,1 persen karena pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar secara penuh pada periode tersebut di wilayah dengan perekonomian terbesar seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

“Pertumbuhan ekonomi kuartal II yang disebutkan akan minus hanya sebatas prediksi.  Belum tentu tepat,” ujar Arief Poyuono.

Dia menambahkan, di era pandemi Covid-19 setidaknya ada tujuh bantuan sosial  yang disiapkan pemerintahan Presiden Joko Widodo, termasuk bantuan langsung tunai dan kartu prakerja.

Program ini akan berdampak untuk menjaga tingkat komsumsi masyarakat yang selama ini menopang pertumbuhan PDB hingga 50 persen.

“Memang dampak Covid-19 sejak Januari mengakibatkan ekonomi hanya tumbuh 2,97 persen. Angka ini merosot dari kuartal I tahun sebelumnya yang tembus 5,07 persen. Kondisi ini lebih banyak disebabkan kebijakan kebijakan lockdown di luar negeri sehingga investasi dan ekspor mempengaruhi tingkat pertumbuhan ekonomi, bukan akibat komsumsi masyarakat yang menurun. Karena di bulan Januari hingga Maret Indonesia belum memberlakukan kebijakan PSBB,” jelas Arief Poyuono.

Baru akhir kuartal 1 kebijakan PSBB dilakukan di sertai program penyelamatan ekonomi nasional dan jaring pengaman ekonomi sosial berupa bansos yang tujuannya untuk menjaga daya beli masyarakat.

Dia menambahkan, penyaluran tujuh jenis bansos sampai hari ini masih belum optimal 100 persen. Bansos reguler seperti bantuan pangan non tunai (BPNT) atau kartu sembako baru disalurkan kepada 18,33 juta keluarga penerima manfaat (KPM).

Padahal, pemerintah mematok target sebanyak 20 juta KPM. Bansos Program Keluarga Harapan (PKH) juga baru disalurkan kepada 9,54 juta dengan nilai Rp 2,42 triliun, masih di bawah target 10 juta KPM.

Begitu juga dengan penyaluran Bantuan Sosial Tunai (BST) sebesar Rp 3,96 triliun. Per 16 Juni 2020 dana yan gdisalurkan kepada 6,59 juta kepala keluarga (KK) target baru sebesar 73,3 persen.

“Bila program bansos bisa mencapai 100 persen di akhir Juni ini maka pertumbuhan ekonomi di kuartal kedua ini tidak akan tumbuh minus. Memang, proses penyaluran bansos bukanlah hal yang mudah. Salah satu kendala yang selalu hadir dalam penyaluran bansos adalah soal data. Ada masalah verifikasi data ini jadi sulit untuk mencapai 100 persen penyaluran bansosnya,” urainya lagi.

Arief Poyuono juga mengatakan, faktor yang bisa menahan pertumbuhan ekonomi tidak mengarah  minus adalah dana talangan sebesar Rp 104,38 triliun untuk 12 Badan Usaha Milik Negara (BUMN).  Dana talangan itu, sebagian besar dalam bentuk kompensasi, penyertaan modal negara (PMN) hingga bantuan investasi modal kerja.

“Nah berdasarkan data-data di atas maka Riset Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu masih optimis kalau pertumbuhan ekonomi di kuartal kedua ini hanya akan berkisar di bawah 1,5 persen jika Kemensos, Kementerian Desa Tertinggal, serta kementerian dan institusi lain yang juga banyak membuat program bansos Covid-19 bisa bekerja secara optimal,” tambahnya.

Selain itu, Kementerian BUMN juga harus cepat memerintahkan ke 12 BUMN yang mendapat dana talangan untuk melakukan investasi dan belanja  modal.

“Karena itu FSP BUMN Bersatu mengharapkan seluruh menteri Kabinet Indonesia Maju harus ikut bekerja keras untuk bisa menahan pertumbuhan ekonomi nasional agar tidak ke arah minus. Karena jika tidak ancaman resesi ekonomi akan terjadi dan akan berdampak sulit ekonomi bertumbuh di kuartal III dan IV,” masih katanya.

Dia mengingatkan agar menteri-menteri tidak  malah sibuk berpolitik dan membuat pernyataan yang ngaco dan berdampak pada keresahan masyarakat serta kontra produktif terhadap perekonomian nasional.

“Kasihan Presiden Joko Widodo dan Tim Ekonomi yang sudah berjibaku agar perekonomian Indonesia tetap tumbuh di saat Covid-19,” demikian Arief Poyuono.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

UPDATE

Kasus Viral Foto AI di Kalisari Cermin Lemahnya Pengawasan Aparatur

Rabu, 08 April 2026 | 00:14

MSP Raih Penghargaan Proper Emas dan Green Leadership Proper dari KLH

Rabu, 08 April 2026 | 00:04

Polri Ungkap Penyalahgunaan BBM dan LPG Subsidi, Kerugian Capai Rp1,26 Triliun

Selasa, 07 April 2026 | 23:27

Pengawasan Hutan Diperketat Antisipasi El Nino Ekstrem

Selasa, 07 April 2026 | 23:10

Demokrasi seharusnya Mengoreksi, bukan Meruntuhkan Legitimasi Negara

Selasa, 07 April 2026 | 23:00

HKTI Beri Pendampingan Peternak Lokal yang Dirugikan Perusahaan Besar

Selasa, 07 April 2026 | 22:58

Pulihkan Situasi Halmahera Tengah, Masyarakat Diminta Dukung TNI-Polri

Selasa, 07 April 2026 | 22:33

Dony Oskaria: 15 BUMN Logistik Digabung Bulan Depan

Selasa, 07 April 2026 | 22:19

GREAT Institute Dorong Prabowo Reshuffle 50 Persen Menteri di Kabinet

Selasa, 07 April 2026 | 21:59

Menko Yusril soal Kasasi Delpedro Dkk: Bisa Saja MA Putus NO

Selasa, 07 April 2026 | 21:42

Selengkapnya