Berita

Ilustrasi tembok perbatasan AS dan Meksiko/Net

Publika

Tembok AS-Meksiko Untuk Memerangi Imigran Ilegal Dan Narkotika, Efektifkah?

JUMAT, 12 JUNI 2020 | 21:41 WIB

PEMBANGUNAN tembok di perbatasan Amerika Serikat dan Meksiko sepanjang 3.200 kilometer adalah salah satu janji yang disampaikan Donald Trump dalam kampanye Pilpres 2016 lalu. Secara umum Trump mengusung jargon “Make America Great Again”.

Donald Trump mengatakan bahwa pembangunan tembok batas tersebut bertujuan untuk membendung peningkatan krisis kemanusiaan dan keamanan di perbatasan selatan Amerika Serikat, termasuk di antaranya menghalau imigran ilegal dari Meksiko dan perdagangan obat-obatan terlarang yang merupakan penyebab permasalahan perbatasan antara Amerika Serikat dan Meksiko.

Pada umumnya, imigran ilegal Meksiko memasuki Amerika Serikat dengan tiga cara, yaitu memasuki Amerika Serikat secara legal menggunakan visa sementara kemudian menetap melebihi masa visa berlaku, pembuatan paspor palsu yang tidak dapat dideteksi oleh imigrasi Amerika Serikat, dan melalui jalur nonimigrasi di perbatasan yang terbilang cukup sulit dideteksi, umumnya di wilayah perbatasan Amerika Serikat bagian utara dan selatan.


Menurut Trump, setiap hari petugas imigrasi Amerika Serikar mencatat ribuan imigran ilegal yang berupaya memasuki Amerika Serikat. Disebutkan bahwa jumlah itu mengalami peningkatan drastis. Namun faktanya, menurut Badan Kepabeanan dan Perlindungan Perbatasan Amerika, jumlah orang yang ditangkap hendak memasuki wilayahnya melalui perbatasan antara Amerika Serikat dan Meksiko tahun 2018, berada di posisi yang cukup jauh di bawah jumlah tertinggi pada tahun 2000, yaitu sebanyak 1,6 juta jiwa.

Selain itu, jumlah imigrasi ilegal berasal dari orang-orang yang melewati batas berlakunya visa. Menurut Badan Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat, hampir 400.000 orang ditangkap saat mencoba melintasi perbatasan dan lebih dari 700.000 orang yang memasuki Amerika Serikat secara legal melampaui batas kepulangan yang diharapkan pada tahun 2018.

Trump juga mengatakan bahwa perbatasan selatan Amerika Serikat merupakan jalur masuk obat-obatan terlarang termasuk meth, heroin, kokain, dan fentanyl dalam jumlah yang besar.

Sebanyak 300 warga negara Amerika Serikat meninggal dunia karena heroin setiap minggu di mana 90 persen dari jumlah tersebut berasal dari batas selatan negaranya.

Kenyataannya, meskipun sebagian besar obat-obatan terlarang di Amerika Serikat berasal dari Meksiko, namun Badan Pengawasan Narkotika Amerika mengatakan bahwa obat-obatan terlarang dalam jumlah besar tidak diselundupkan melalui perbatasan antara Amerika Serikat dan Meksiko melainkan diselundupkan menggunakan kapal melalui pelabuhan resmi, truk, dan pesawat dengan menyimpannya bersamaan dengan barang-barang lainnya.

Selain itu, ditemukan pula terowongan-terowongan di perbatasan Amerika Serikat dan Meksiko yang diduga digunakan untuk menyelundupkan obat-obatan terlarang.

Ide Trump akan pembangungan tembok batas cukup menuai kontroversi. Partai Demokrat pun menolak keras. Perdebatan antara kedua kubu sempat menyebabkan pemerintahan Amerika Serikat ditutup sementara dan mengalami kelumpuhan selama 35 hari.

Partai Demokrat menilai bahwa pembangunan tembok tersebut merupakan suatu hal yang terbilang memboroskan anggaran.

Pada awal pemerintahannya, Trump sempat memaksa Meksiko untuk mendanai pembangunan tembok batas tersebut dengan nilai sebesar 25 miliar dolar AS. Namun, pemerintah Meksiko menolak hal tersebut karena dinilai tidak masuk akal.

Melihat penolakan tersebut, Trump pun memaksa Meksiko dengan mengeluarkan kebijakan berupa menaikkan tarif atas produk dari Meksiko, menghalangi penduduk Amerika Serikat untuk melakukan pengiriman uang ke Meksiko, memberikan pajak tambahan dalam pengiriman uang, dan memisahkan anak-anak dari orang tua imigran di perbatasan kedua negara tersebut.

Kebijakan-kebijakan tersebut mendapatkan penolakan dari pemerintah Meksiko mengingat Meksiko merupakan salah satu negara pengekspor bahan baku terbesar ke Amerika Serikat dan setiap tahun warga negara Meksiko yang menetap di Amerika Serikat mengirimkan dana sebesar 25 miliar dolar AS.

Melihat fakta-fakta tersebut, pembangunan tembok batas antara Amerika Serikat dan Meksiko dinilai kurang efektif mengingat jumlah imigran ilegal yang melampaui batas berlakunya visa lebih besar dibandingkan dengan jumlah orang yang ditangkap akibat mencoba untuk memasuki Amerika Serikat melalui perbatasan secara ilegal dan penyelundupan obat-obatan terlarang disembunyikan di kendaraan.

Selain itu, penemuan terowongan pun memperkuat fakta bahwa imigran dan barang-barang ilegal seperti obat-obatan terlarang dapat didistribusikan dengan berbagai cara, salah satunya dengan melewati terowongan atau ruangan bawah tanah meskipun Amerika Serikat membangun tembok pembatas antara Amerika Serikat dengan Meksiko.

Pembangunan tembok batas antara Amerika Serikat dan Meksiko pun dapat membuat hubungan keduanya menjadi buruk. Kebijakan Trump untuk menaikkan tarif produk dari Meksiko tak hanya menyulitkan pemerintah Meksiko namun juga menyulitkan warga negara Amerika Serikat sendiri.

Bila tarif produk dari Meksiko dinaikkan, maka harga barang yang ditanggung oleh masyarakat Amerika Serikat pun akan turut mengalami peningkatan.

Allysa Qurrotu’ainy Ciremai

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Pelindo Dukung Konsolidasi Logistik BUMN Perkuat Integrasi Rantai Pasok Nasional

Kamis, 02 Juli 2026 | 00:16

Indonesia Harus Tegas Tolak LGBT!

Kamis, 02 Juli 2026 | 00:08

Catatan HUT ke-80 Polri

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:40

Bobby Nasution Pulangkan Kontingen Pesparawi Sumut dari Manokwari dengan Biaya Talangan

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:20

Ekodiplomasi di antara Geopolitik dan Kedaulatan Konservasi Indonesia

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:01

Danantara Sedang Membersihkan Warisan Lama BUMN

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:00

Hibah KNPI Kabupaten Bogor Menuai Polemik di Tengah Konflik Internal

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:00

Ketua MPR Bicara Islam Toleran dan Persatuan saat Bertemu Grand Mufti Uzbekistan

Rabu, 01 Juli 2026 | 22:55

Papua Harus Dibangun Tanpa Kehilangan Manusianya

Rabu, 01 Juli 2026 | 22:45

DPR Minta Transparansi Rencana Pengadaan Rudal BrahMos

Rabu, 01 Juli 2026 | 22:44

Selengkapnya