Berita

Jaya Suprana/Net

Jaya Suprana

Imunitas Masyarakat

MINGGU, 07 JUNI 2020 | 20:19 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

PERTAMA kali saya mendengar istilah herd immunity ketika berupaya mempelajari etologi Konrad Lorenz dan Niko Tinbergen di Eropa, pada masa kedua beliau memang sedang sangat populer akibat memperoleh anugrah Nobel tahun 1973.

Etologi

Sebagai kesimpulan pengamatan atas perilaku sosial satwa, Lorenz dan Tinbergen meyakini manusia bisa banyak belajar dari perilaku satwa baik secara individual mau pun sosial. Termasuk perilaku menghadapi wabah penyakit menular.


Fakta etologis membuktikan bahwa secara alami sekelompok satwa memiliki daya kodrati untuk menghadapi wabah penyakit menular yang kemudian disebut sebagai herd immunity berdasar penelitian A. W. Hedrich  terhadap wabah cacar di Baltimore pada tahun 1930.

Fakta bahwa tidak ada laporan tentang kasus terpapar Corona di masyarakat Fiji, Samoa, Nauru, Tonga, Palau, kepulauan Marshall perlu ditelaah lebih cermat apakah merupakan indikasi imunitas masyarakat setempat.

Adalah DR. Sugi Lanus sebagai tokoh lontaromolog alumnus Unversitas Oxford, Inggris yang menyadarkan saya tentang masyarakat adat Bali dan Madura memiliki kearifan leluhur menghadapi pageblug penyakit menular yang memang sudah eksis sejak dahulu kala.

Bahwa ada daerah di Jakarta memiliki kadar terpapar Corona lebih tinggi ketimbang daerah lain di Jakarta  merupakan indikasi bahwa memang ada masyarakat yang memiliki daya imunitas terhadap Corona lebih besar ketimbang masyarakat lain.

Misalnya ras mongol memiliki daya tahan tubuh rendah terhadap air susu. Sementara masyarakat Prancis pada umumnya rawan diare akibat minum air jeruk pada saat breakfast.

Imunitas Masyarakat

Berdasar fakta bahwa memang ada masyarakat tertentu yang kebal terhadap penyakit tertentu, maka  lebih santun menggunakan istilah imunitas masyarakat yang terkesan manusiawi ketimbang herd immunity yang terkesan satwani.

Imunitas masyarakat bisa terbentuk secara alami maupun dibentuk oleh masyarakat manusia dengan menyesuaikan dan menyelaraskan perilaku demi memperkuat daya tahan tubuh masing-masing terhadap gangguan kesehatan akibat penyakit.

Perangai individual secara kodratif kemudian meluas menjadi perangai sosial masyarakat di sekeliling individu yang memiliki imunitas individual menjadi imunitas komunal.

Sebelum ada teknologi vaksin, umat manusia mempertahankan hidup dari gangguan wabah penyakit menular dengan membentuk perilaku kesehatan diri sendiri yang potensial memperkuat daya tahan tubuh misalnya dengan minum ramuan tanaman berkhasiat, menghindari makanan yang tidak sehat, menjaga kebersihan tubuh dan lingkungan, dan lain-lain perilaku yang positif dan konstruksif menjaga tubuh jangan sampai terserang penyakit.

Ketenangan batin juga penting untuk meningkatkan daya imunitas masyarakat dengan berdoa, meditasi, dzikir, puasa dan lain-lain.
 
WHO

Imunitas masyarakat tidak perlu diberhalakan namun juga tidak perlu dihujat. WHO sudah resmi mengakui bahwa paradigma kesehatan umat manusia abad XXI justru lebih bertumpu pada upaya preventif dan promotif ketimbang kuratif. Lebih baik mencegah ketimbang mengobati.

WHO juga mengakui bahwa keyakinan batin yang kerap dicemooh sebagai placebo bisa berperanserta sebagai penangkal penyakit yang diderita manusia.

Pada hakikatnya ilmu kesehatan Barat yang lebih bertumpu pada upaya kuratif maka fokus pada ragawi perlu dilengkapi dengan upaya preventif dan promotif yang juga melibatkan batin yang dimiliki oleh kearifan leluhur bangsa Indonesia terkandung pada jamu dan para penyehat Nusantara.

Sebaiknya kearifan peradaban Barat jangan melecehkan kearifan peradaban Timur dan sebaliknya.

Sebaiknya seluruh kearifan peradaban umat manusia di planet bumi justru bersatupadu menjalin kekuatan lahir-batin demi berjaya dalam menempuh perjalanan panjang perjuangan hidup. Termasuk perjuangan melawan angkara murka pageblug Corona!

Penulis adalah pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

PT PMM Keberatan 15 Kontainer Mineral Ekspor Dibongkar Aparat

Minggu, 24 Mei 2026 | 16:43

Nilai TKA Siswa SD-SMP Jeblok, Program MBG Dipertanyakan

Senin, 01 Juni 2026 | 02:30

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Blusukan Jokowi Sulit Naikkan Suara PSI, Apalagi Goyang PDIP

Senin, 01 Juni 2026 | 04:00

UPDATE

Penunjukan Nanik S. Deyang Kepala MBG Sesuai Hasil Evaluasi

Rabu, 03 Juni 2026 | 16:13

Turun Gunung Jokowi Dalam Rangka Cari Keselamatan

Rabu, 03 Juni 2026 | 16:05

Gibran Ingin Birokrasi Berjalan Gesit dan Kolaboratif

Rabu, 03 Juni 2026 | 16:01

Prabowo Apresiasi Peran Turki Bantu Pulangkan Sembilan WNI dari Tahanan Israel

Rabu, 03 Juni 2026 | 15:56

Penyiram Air Keras ke Andrie Yunus Hanya Dituntut 2,5 Tahun Penjara

Rabu, 03 Juni 2026 | 15:52

Warganet Anggap Penggeledahan Kantor BGN oleh Kejagung Drama Telenovela

Rabu, 03 Juni 2026 | 15:45

Gebrakan Jampidsus Obrak-abrik Kantor BGN Patut Diacungi Jempol

Rabu, 03 Juni 2026 | 15:42

Kunjungan ke Rusia, AHY Bawa Pulang Proyek PLTN Terapung hingga Kapal Cepat

Rabu, 03 Juni 2026 | 15:41

DPR Dukung Kejagung Geledah BGN Usut Dugaan Korupsi MBG

Rabu, 03 Juni 2026 | 15:07

Istana Respons Kabar Penangkapan Eks Kepala BGN oleh Kejagung

Rabu, 03 Juni 2026 | 15:06

Selengkapnya