Berita

Ilustrasi, serbuan belalang di Gujarat/Net

Dunia

Gelombang Panas Dan Serbuan Belalang, Melengkapi Kesengsaraan India Di Tengah Pandemik Covid-19

JUMAT, 29 MEI 2020 | 15:26 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Sepertinya wabah virus corona tidak cukup membuat India jatuh dalam penderitaan. Di tengah pandemik India bergulat dengan suhu yang sangat tinggi dan serbuan belalang. Ini adalah serbuan terburuk dalam beberapa dasawarsa.

India tengah bersiap mengkahiri penguncian walau kasus virus corona terus bertambah setiap harinya.

Pandemik Covid-19, suhu yang tinggi yang menyebabkan kekeringan, dan serangan belalang, tiga bencana yang harus India hadapi sekaligus saat ini, memaksa pejabat untuk mencoba menyeimbangkan keadaan dari krisis kesehatan masyarakat secara simultan. Pemerintah harus berpikir keras, memberikan perlindungan kepada masyarakat dari suhu yang teramat tinggi tetapi juga jarak sosial di taman dan pasar yang baru dibuka kembali.


Gelombang panas mengancam berbagai tantangan penanggulangan virus, yang telah mulai menyebar lebih cepat dan luas sejak pemerintah mulai melonggarkan pembatasan salah satu kuncian paling ketat di dunia awal bulan ini, seperti dikutip dari AP, Kamis (28/5).

“Dunia seperti tidak mendapat kesempatan untuk bernapas lagi. Ganasnya krisis semakin meningkat, dan tidak dapat dihindari,” kata Sunita Narain dari Pusat Sains dan Lingkungan New Delhi.

Ketika ada anak yang terbangun dengan tenggorokan kering dan demam, seorang ibu akan kesulitan, ingin memeriksakan anaknya ke rumah sakit tetapi di sisi lai suhu begitu terik hingga menusuk kulit. Ditambah lagi kekhawatiran tertular virus corona saat di perjalanan atau saat menunggu antrian di rumah sakit.

Dokter juga menyarankan agar tetap di rumah meskipun suhu di dalam rumah pun membuat mereka mendidih.

"Kipas hanya membuatnya lebih panas, tetapi kami tidak bisa membuka jendela karena tidak memiliki kelambu dan karenanya tidak ada pertahanan terhadap malaria dan nyamuk pembawa demam berdarah," kata warga.

Minggu ini, suhu melonjak hingga 118 derajat Fahrenheit (47,6 derajat Celsius) di ibu kota New Delhi, menandai Mei yang terpanas dalam 18 tahun.

India menderita kekurangan air yang parah dan puluhan juta orang kekurangan air mengalir dan pendingin udara, membuat banyak orang mencari pertolongan di bawah pohon rindang di taman umum, di tengah pandemik.

Di saat seperti itu, sebagian warga melupakan jarak sosial dan penggunaan masker.

Belum lagi bencana Topan Amphan, badai super besar yang melintasi Teluk Benggala, yang terjadi pada pekan lalu. Meninggalkan angin panas dan kering yang membentuk gelombang panas di bagian tengah dan utara India.

Serbuan belalang di tengah suhu tinggi dan pandemik telah menghancurkan tanaman dan panen di jantung India, mengancam wilayah yang sudah rentan yang sedang berjuang dengan krisis ekonomi.

KL Gurjar, seorang pejabat tinggi Organisasi Peringatan Belalang India, mengatakan timnya yang beranggotakan 50 orang akan siap menghentikan kawanan belalang itu sebelum pembiakan dapat terjadi. Jika tidak segera, belalang bisa menghancurkan tanaman musim panas India.

Sementara itu, India melaporkan terjadi rekor satu hari lompatan tinggi angka kasus virus corona. Lebih dari 6.500 kasus virus corona bertambah pada hari Kamis, sehingga total angka kasus menjadi 158.333, dan angka kematian mencapai 4.531.

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

KPK Cium Skandal Baru Izin Tambang di Maluku Utara, Nama Haji Romo Ikut Terseret

Rabu, 01 April 2026 | 08:16

Wall Street Kembali Sumringah

Rabu, 01 April 2026 | 08:07

WFH ASN Diproyeksikan Hemat Kompensasi BBM Rp 6,2 Triliun

Rabu, 01 April 2026 | 07:53

Emas Melonjak 3 Persen, tapi Cetak Rekor Penurunan Bulanan Terburuk Sejak 2008

Rabu, 01 April 2026 | 07:42

RI Murka di DK PBB, Nilai Serangan TNI di Lebanon Tak Lepas dari Israel

Rabu, 01 April 2026 | 07:35

Pasar Saham Eropa Tutup Maret dengan Koreksi Terburuk dalam Empat Tahun

Rabu, 01 April 2026 | 07:24

Menhan AS Sebut Perang Iran Masuk Fase Penentuan

Rabu, 01 April 2026 | 07:17

Italia Gagal Lolos Piala Dunia Setelah Ditekuk 4-1 oleh Bosnia

Rabu, 01 April 2026 | 06:57

Katastropik Demokrasi Kita

Rabu, 01 April 2026 | 06:48

Soleman Ponto: Intelijen pada Dasarnya Teroris

Rabu, 01 April 2026 | 06:20

Selengkapnya