Berita

Pakar ilmu pemerintahan, Prof. Dr. Djohermansyah Djohan/Net

Politik

Kritik Pedas Djohermansyah Djohan Untuk Pj Walikota Makassar Yang Tabrak Kebijakan Gubernur

RABU, 27 MEI 2020 | 20:44 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Tabrakan kebijakan belakangan kerap ditemukan dalam menghadapi pandemik Covid-19. Seperti yang terjadi pada Pj Walikota Makassar, Yusran Jusuf  dengan Gubernur Sulawesi Selatan, Nurdin Abdullah.

Dalam kebijakannya, Yusran Yusuf memperbolehkan shalat di masjid asal menerapkan protokol kesehatan. Hal ini berlawanan dengan Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah yang mengimbau masyarakat melaksanakan Shalat Idul Fitri di rumah.

Hal inipun dikritisi pakar ilmu pemerintahan, Prof. Dr. Djohermansyah Djohan. Harusnya, kata dia, Pj Walikota Makassar memperhatikan kondisi sosial kultural masyarakat dan kebjakan Pemprov.


"Kalau pemerintah membuat kebijakan yang keras, maka rakyat akan soft saja menerimanya. Kalau kebijakannya soft, rakyat akan mengabaikannya saja. Rakyat kita umumnya tingkat disiplinnya rendah. Kita tidak bisa mengambil kebijakan di masa Covid-19 ini dengan cara soft policy," jelasnya dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Rabu (27/5).

Tak hanya memperbolehkan shalat di masjid, Yusran Jusuf juga membolehkan digelarnya resepsi pernikahan di tengah kampanye Pemprov Sulsel yang meminta warga beraktivitas di rumah saja. Hal ini pun dinilai sangat berisiko.

"Semestinya Pj Walikota mengatakan 'saya tidak mengizinkan Shalat Idul Fitri di lapangan atau di masjid, belum saatnya. Sabar dulu, dan laksanakan di rumah masing-masing', ikuti contoh Pak Gubernur. Jangan malah sebaliknya," sambung Gurubesar IPDN ini.

Diakuinya, saat ini tingkat pemahaman dan disiplin masyarakat masih rendah. Oleh karenanya, Presiden Institut Otonomi Daerah (I-Otda) ini menekankan bahwa pemerintah tidak bisa menurunkan tone sebagai penguasa pemerintahan.

"Harus high tone walaupun tidak ada lagi PSBB, tapi harus dalam pengendalian yang ketat. Karena kita tidak mau gelombang kedua wabah Covid-19 melanda Kota Makassar. Apalagi tetangga-tetangga kita juga belum mencabut PSBB, yaitu Maros dan Gowa," tandas mantan Dirjen Otonomi Daerah ini.

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Istri Wali Kota Madiun Dicecar KPK soal Dugaan Aset Hasil Korupsi

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:22

Giant Sea Wall Pantura Dirancang Lindungi Jutaan Warga dan Jadi Mesin Ekonomi Baru

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:17

Pengamat: Pencoretan Saham Unggulan RI dari MSCI Jadi Tekanan Psikologis Pasar

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:14

Harga Minyak Dunia Terus Merangkak Naik

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:05

Dana PIP 2026 Belum Cair? Begini Cara Mudah Cek Status Pakai NIK dan NISN

Rabu, 13 Mei 2026 | 10:04

IHSG Ambles 1,59 Persen, Asing Catat Net Sell Rp49,28 Triliun Usai Pengumuman MSCI

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:47

Komisi VIII DPR: Predator Seksual di Ponpes Pati harus Dihukum Seberat-beratnya!

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:43

Singapura Ingin Hidupkan Sijori Lagi Bersama RI dan Malaysia

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:35

Anak Buah Zulhas Dicecar KPK soal Pengaturan Proyek dan Fee Bupati Rejang Lebong

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:33

MUI GPT Bisa Jadi Terobosan Pelayanan Umat Berbasis AI

Rabu, 13 Mei 2026 | 09:32

Selengkapnya