Berita

Ladang minyak Arab Saudi terbakar usai diserang Houthi/Net

Publika

Situasi Normal Baru Di Timur Tengah

RABU, 27 MEI 2020 | 15:02 WIB | OLEH: DR. MUHAMMAD NAJIB

GEMPURAN gerilyawan Houthi dari Yaman dengan menggunakan rudal dan drone yang menyasar ladang minyak Saudi Arabia yang dikelola Aramco di Abqaiq dan Khurais sulit dipercaya, mengingat seluruh wilayah Saudi Arabia dilindungi oleh senjata super canggih yang dibeli dengan harga selangit dari Amerika. Belum lagi intel Amerika CIA dan intel Israel Mossad bekerja untuk kepentingan kerajaan kaya minyak ini.

Lepas dari kemungkinan senjata yang digunakan bahkan operator yang mengendalikan serangan ini sangat mungkin berasal dari Iran, jebolnya pertahanan Saudi Arabia membuat Riad mengubah secara total kebijakannya yang semula sangat agresif terhadap Yaman menjadi melunak, dan secara bertahap mengarah ke gencatan senjata.

Hal serupa juga dialami Amerika yang semula sangat agresif menekan Iran baik secara ekonomi, politik, maupun militer, berubah setelah pangkalan militernya di Ain Al Asad luluh-lantak akibat gempuran rudal yang diluncurkan langsung dari wilayah Iran, sebagai balasan atas kematian Mayor Gendral Qassem Soleimani yang ditembak di dekat bandara Bagdad oleh Amerika dengan menggunakan drone.


Padahal pngkalan udara Amerika di Provinsi Al Anbar, yang terletak sekitar 180 km di Barat ibukota Bagad, yang menjadi sasaran rudal Iran ini merupakan salah satu dari pangkalan militer Amerika yang terbesar di Irak dan di Timur Tengah yang dihuni oleh ratusan tentara Amerika dan tentara asing yang menjadi sekutunya.

Jika saja Iran tidak memberitahu berbagai pihak sebelum serangan dilakukan, maka tentara Amerika dan tentara asing lainnya akan menjadi korban rudal-rudal Iran.

Setelah peristiwa ini, walaupun secara retorika Gedung Putih tidak mengendur dan secara formal kebijakan ekonomi, politik, dan militernya khususnya terhadap Iran dan terhadap Timur Tengah tidak berubah. Akan tetapi di lapangan pada kenyataannya berbeda.

Gedung Putih tidak lagi memandang sebelah mata kemampuan militer Iran, dan berbagai ancaman yang diumbar Teheran ternyata bukan sekadar gertak sambal. Hal ini tampak nyata saat kapal tanker Iran Fortune bersandar dengan aman di pelabuhan Al Palito di pantai Utara Venezuela pada Senin (25/5/2020).

Kapal Fortune merupakan kapal pertama dari konvoi lima tanker Iran yang rata-rata membawa 1,5 juta barel minyak. Kapal lain yang segera menyusul memasuki perairan Venezuela adalah Forest, Clavel, Faxon, dan Petuna.  

Pengiriman minyak Iran ke Venezuela yang menjadi musuh Amerika di Amerika Selatan, walaupun dibayangi manuver angkatan laut Amerika di Karibia dan perang kata-kata antara para petinggi di Teheran dan Washington, ternyata tidak mendapat gangguan sama sekali.

Padahal saat Iran mengirim tankernya Grace 1 ke Suriah, Amerika dan sekutu-sekutunya berusaha mencegatnya, mulai menahan tanker di Gibraltar dengan memanfaatkan pangkalan Inggris yang ada di sana, sampai pada berbagai upaya untuk mencegahnya berlabuh di pelabuhan Suriah dengan menggunakan kapal perang.

Sementara itu Israel yang menjadi musuh nomor satu Iran di Timur Tengah, sampai saat ini tampaknya kewalahan menghadapi kaki tangan Iran di Lebanon dan Suriah, sehingga enggan berurusan langsung dengan Teheran. Hal ini terlihat dari bagaimana Israel terus-menerus mendorong dan memprovokasi Amerika dan sejumlah negara Arab, terutama Saudi Arabia dan Uni Emirat Arab untuk bersikap keras terhadap Iran.

Dalam situasi seperti ini, Israel menciptakan pemantik baru ketegangan yang mulai mereda, dengan keputusannya akan menganeksasi sebagian wilayah Tepi Barat milik Palestina. Kemana arah manuver politik Israel kali ini, tentu sangat menarik untuk dicermati.

Penulis adalah Pengamat Politik Islam dan Demokrasi

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

OASE III PTKIN 2026: UIN Sunan Kalijaga Raih Juara Umum

Sabtu, 07 November 2026 | 08:19

Wall Street Rebound, Nasdaq Masih Babak Belur

Sabtu, 07 November 2026 | 08:05

Luruskan Tudingan Rekayasa, Muhammad Munawar: Proses Etik Dasaad Dilakukan secara Kelembagaan

Sabtu, 07 November 2026 | 07:38

Siapa Stephen Miller, Orang Kepercayaan Trump yang Jadi Kepala Staf Gedung Putih?

Sabtu, 07 November 2026 | 07:28

Gejolak Politik AS dan Krisis Prancis Tekan Pasar Saham Eropa

Sabtu, 07 November 2026 | 07:10

Ahmad Doli Kurnia dan Masa Depan Golkar

Sabtu, 07 November 2026 | 06:50

Penyadapan Presiden Bukan Pengalihan Isu, Tapi Operasi Terorganisir

Sabtu, 07 November 2026 | 06:25

Palestina dan Percaturan Imperium Global

Sabtu, 07 November 2026 | 05:59

Penyadapan Prabowo Ancaman Serius terhadap Negara

Sabtu, 07 November 2026 | 05:41

Kasus Listyo Sigit Momentum Evaluasi Sistem Keamanan Nasional

Sabtu, 07 November 2026 | 05:18

Selengkapnya