Berita

Jaya Suprana/Ist

Jaya Suprana

Mengusir Bencirona Dan Corona

SELASA, 26 MEI 2020 | 18:40 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

JAUH sebelum pageblug Corona, umat manusia sudah dilanda pageblug yang jauh lebih bengis membinasakan jutaan manusia. Yaitu pageblug Bencirona yang menjangkiti umat manusia sehingga tak segan untuk saling menghujat, saling memfitnah, saling melakukan kekerasan ragawi bahkan saling membinasakan.

Wabah virus Bencirona menyebar penyakit angkara murka sehingga jutaan umat manusia saling membunuh dengan penuh kebencian.

Kebencian


Sesama manusia saling membunuh akibat beda ras, suku dan agama. Bahkan masyarakat sesama ras, suku dan agama pun tak segan saling membinasakan.

Umat manusia juga saling membunuh demi mempertahankan hak atas wilayah masing-masing akibat ada yang ingin merebut wilayah orang lain namun tidak semua orang ikhlas merelakan wilayah miliknya direbut orang lain.

Angkara murka kolonialisme sudah dianggap kadaluwarsa namun umat manusia kreatif menciptakan bentuk kolonialisme baru yaitu penjajahan bukan dengan bedil namun dengan uang. 

Maka lahirlah imperialisme melalui jalur kebudayaan dalam bentuk penjajahan ekonomi, penjajahan pendidikan, penjajahan teknologi yang memang tidak menumpahkan darah namun tetap dalam tujuan sesama manusia menguasai sesama manusia.

Yang terjadi bukan pembunuhan ragawi namun pembinasaan karakter yang membuat manusia menyerah untuk membiarkan dirinya dikuasai oleh mereka yang lebih berkuasa. Kapitalisme yang memberhalakan kebendaan memusnahkan kemanusiaan.

Setelah kebendaan berhasil diperoleh maka umat manusia berjuang untuk memperoleh yang dianggap lebih penting yaitu kekuasaan. Politik kekuasaan telah berhasil memecah-belah umat manusia termasuk bangsa Indonesia .

Indonesia

Politik perebutan kekuasaan yang terus menerus terjadi sejak proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia menjerumuskan bangsa Indonesia ke jurang kebencian.  Jika dahulu bangsa Indonesia membenci bangsa penjajah, di masa kini setelah kaum penjajah berhasil diusir dari persada Nusantara , bangsa Indonesia mulai membenci justru sesama bangsa sendiri.

Maka bermunculan berbagai prahara kebencian nasional mulai G-30-S, Mei 1998 sampai yang termutakhir Pilpres 2019.  Pada pilres 2019 virus Bencirona merajalela mengumbar wabah kebencian menjangkiti para cacapres beserta para pendukung masing-masing.

Kampanye Pemilu bukan fokus promosi program kerja masing-masing namun justru ganas menghujat, memfitnah, menghina demi membunuh karakter pihak lawan dan mereka yang dianggap pendukung lawan!

Syukur Alhamdullilah, setelah pemilu usai tampaknya angkara murka virus Bencirona menebar wabah kebencian mereda. Suasana damai kembali menyejukkan kehidupan masyarakat Indonesia yang pada hakikatnya memang lebih cinta damai ketimbang perang.

Gerilya

Namun setelah badai pageblug Bencirona terkesan berlalu mendadak datanglah badai pageblug Corona. Ketika bangsa Indonesia sedang sibuk melawan virus Corona, diam-diam virus Bencirona menyelinap datang kembali secara bergerilya melanda persada Nusantara.

Akibat virus Bencirona, alih-alih bersatupadu bangsa Indonesia kembali terpecah-belah untuk saling curiga, cemooh,  hina, hujat, fitnah, melapor ke polisi, memenjarakan sehingga laskar virus Corona makin leluasa mengumbar angkara murka keganasan merusak saluran pernafasan serta membinasakan manusia di bumi Indonesia.

Seyogianya marilah kita semua menanggalkan dan meninggalkan segenap sikap dan perilaku kebencian demi mau dan mampu bersatupadu melawan segenap angkara murka para virus Corona.

Di masa lalu kita telah berjaya mengusir kaum penjajah dari persada Nusantara maka marilah kita buktikan bersama bahwa di masa kini kita juga mampu berjaya mengusir virus Bencirona dan virus Corona dari Tanah Air Udara tercinta kita bersama ini.

Merdeka!

Penulis adalah Pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

UPDATE

Tidak Mengutuk Tapi Ayo Gugat Israel di PBB

Minggu, 05 April 2026 | 01:55

Energi Transisi Sulap Desa Rentan jadi Resisten

Minggu, 05 April 2026 | 01:32

1.305 Rekomendasi Audit BPK di Kementerian PU Belum Tuntas

Minggu, 05 April 2026 | 01:10

Pakistan Gratiskan Transportasi Umum Buntut Demo Kenaikan BBM

Minggu, 05 April 2026 | 00:52

Menang di Tingkat Kasasi, Natalia Rusli Fokus Kawal Perkara Pidana

Minggu, 05 April 2026 | 00:32

Pemerintah Desak DK-PBB Lindungi Pasukan Perdamaian di Lebanon

Minggu, 05 April 2026 | 00:12

Pelni Sukses Layani 467 Ribu Penumpang Selama Arus Mudik-Balik Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 23:57

KSAD: Tiga Prajurit Gugur, Kami Sangat Kehilangan

Sabtu, 04 April 2026 | 23:32

Menlu Ungkap Ada Tiga Prajurit TNI Lagi Terluka di Lebanon

Sabtu, 04 April 2026 | 23:11

ITERA: Fenomena Langit Lampung Timur Diduga Sampah Antariksa Roket China

Sabtu, 04 April 2026 | 22:42

Selengkapnya