Berita

Pesawat pengintai Amerika Serikat/Net

Dunia

Rusia Dianggap Melenceng Dari Aturan, AS Akan Keluar Dari Perjanjian Open Skies

JUMAT, 22 MEI 2020 | 08:57 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Amerika Serikat kembali membuat dunia khawatir. Menteri Luar Negeri Mike Pompeo mengumumkan, AS akan menarik diri dari perjanjian Open Skies atau Ruang Udara Terbuka.

Open Skies merupakan pakta yang ditandatangani oleh 34 negara pada 1992. Sehingga negara-negara tersebut dapat menerbangkan pesawat pengintai tanpa senjata dari ruang udara lainnya dengan pemberitahuan tiga hari sebelum.

Hingga saat ini, sudah ada lebih dari 1.500 penerbangan yang dilakukan, melansir The Economist. Itu bertujuan sebagai "pemantauan kooperatif", memeriksa apakah negara lain mematuhi berbagai perjanjian yang ada.


Namun pada Kamis (21/5), Pompeo mengatakan, AS akan menarik diri dari perjanjian tersebut, pemberitahuan harus dilakukan enam bulan sebelum.

Mantan penasihat keamanan Gedung Putih, John Bolton memuji langkah tersebut. Sementara yang lain justru melihat adanya potensi yang berbahaya.

Keengganan pemerintahan Presiden Donald Trump untuk melanjutkan perjanjian tersebut dikarenakan Rusia yang dianggap melenceng dari aturan. Terlebih, pesawat pengintai Rusia sering berada di atas Gedung Putih.

Pada 2017, pesawat tersebut bahkan terbang di atas lapangan golf Trump di New Jersey yang membuat Trump jengkel bukan main.

Pesawat itu hanya dapat membawa kamera dengan resolusi 30 cm, yang sebagian besar menggunakan film basah hitam dan putih. Foto yang dihasilkan harus dibagikan dengan penandatangan yang menginginkannya.

AS sendiri sudah melakukan 201 pengintaian sejak 2002, sebagian besar di Rusia dan sekutunya, Belarus.

Dalam pernyataannya, Pompeo mengajukan dua keluhan pada Rusia, di mana negara itu dianggap melenceng dari aturan Open Skies. Yang pertama, Rusia secara tidak sah menyangkal atau membatasi penerbangan pengamatan Open Skies kapan pun diinginkan.

Pernyataan tersebut merujuk pembatasan Rusia pada penerbangan di dekat perbatasannya dengan Georgia, atas Kaliningrad, lalu perbatasannya antara Polandia dan Lithuania, atas latihan militer tahun lalu.

Keluhan kedua adalah Rusia menggunakan penerbangan untuk mengumpulkan intelijen militer taktis.

"Moskow tampaknya menggunakan citra Open Skies untuk mendukung doktrin Rusia baru yang agresif mengenai penargetan infrastruktur kritis di Amerika Serikat dan Eropa dengan amunisi konvensional yang dipandu dengan presisi," ujar Pompeo seraya mengatakan jika Rusia kembali patuh dalam perjanjian, maka AS akan mempertimbangkan kembali keanggotaannya.

Meski begitu, seorang ahli dari Carnegie Endowment, James Acton mengatakan, penarikan keanggotaan AS justru hanya akan menguntungkan Rusia. Rusia memiliki sejumlah satelit mata-mata dan FU untuk sekutu di Eropa.

Sementara disampaikan oleh Menteri Pertahanan pertama Trump, Jenderal James Mattis, pengamatan Open Skies adalah bantuan visual utama selama invasi Rusia ke Ukraina pada 2014. Meskipun beberapa celah mungkin diisi oleh citra satelit komersial, yang tidak ada ketika perjanjian itu ditandatangani 28 tahun yang lalu, pesawat bisa melihat benda-benda yang disembunyikan dari sensor satelit biasa.

Pesawat Open Skies dapat membawa kamera pencitraan termal, misalnya, yang dapat mendeteksi hal-hal seperti apakah sebuah pesawat penuh bahan bakar atau kosong.

Pertanyaan yang mendesak sekarang adalah apakah perjanjian itu dapat selamat dengan kepergian AS?

Di satu sisi, Rusia tidak akan lagi dapat terbang di atas AS, sementara masih menjadi sasaran penerbangan berlebih dari salah satu dari banyak teman AS di Eropa.

Di sisi lain, Alberto Muti dari VERTIC mengatakan, Rusia masih dapat memantau semua Eropa. Selain itu, banyak negara Eropa tidak memiliki pesawat terbang khusus mereka sendiri. Rusia kemungkinan akan tetap dalam perjanjian untuk saat ini, setidaknya.

Keluarnya AS dari Open Skies adalah pukulan lain setelah pada 2018 Trump juga mengeluarkan negeri Paman Sam dari perjanjian nuklir dengan Iran. Tahun lalu, Trump juga meninggalkan pakta rudal perang dingin dengan Rusia.

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Prabowo Diminta Tindak Tegas Kelompok yang Masih Persoalkan Hasil Pilpres 2024

Selasa, 22 September 2026 | 23:16

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Jadi Menperin, Sarmuji Tegaskan akan Lanjutkan Rintisan Agus Gumiwang

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:23

Mengenang Warisan Luhur Pesona Batik Tulungagung di Hari Batik Nasional

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:16

Ketua KPK Ucapkan Selamat kepada Kapolri Jenderal Suyudi, Dorong Sinergi Pemberantasan Korupsi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

MUI: Jangan Sampai Konser “Till The Whole World Knows” Jadi Sarana Propaganda Zionisme

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

BEI Awasi Pergerakan Tiga Saham yang Masuk Radar UMA

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:49

KPK Ungkap Besaran Uang Silmy Karim ke Dosen UB Saat Bimbingan Doktoral

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Garuda Tantang Gajah Perang di Final FIFA ASEAN Cup 2026

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Emas Antam Mulai Turun Hari Ini, Intip Daftar Lengkapnya

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:14

Dua Tahun Danantara, Efisiensi BUMN Digenjot untuk Kejar Pertumbuhan

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:02

Harga Minyak Naik Lagi ke Level 102 Dolar AS

Jumat, 02 Oktober 2026 | 10:59

Selengkapnya