Berita

Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla/Net

Politik

Pengamat: Meski Yang Dikritik Jusuf Kalla Masalah Semantik, Tapi Maksudnya Lebih Luas

RABU, 20 MEI 2020 | 08:20 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Kritikan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla terhadap Presiden Joko Widodo tentang ajakan berdamai dengan virus corona baru atau Covid-19 ramai diperbincangkan publik.

Pasalnya, apa yang disampaikan Jusuf Kalla dalam diskusi daring Selasa (19/5) kemarin memperlihatkan pernyataan Jokowi tidak tepat.

Menurut pria yang akrab disapa JK ini, berdamai dengan corona adalah sesuatu hal yang tidak mungkin. Karena virus asal Wuhan, China ini tidak bisa diajak berdamai.


Sehingga JK berujar, “kalau namanya berdamai itu kalau dua-duanya ingin damai. Kalau kita saja (yang mau) virusnya enggak (mau) bagaimana?”.

Kritikan dari wapres dua periode ini pun menarik pengamat politik dari Saiful Mudjani Research and Consulting (SMRC) Sirojudin Abbas untuk berkomentar.

Menurutnya, apa yang disampaikan JK adalah bentuk peringatan terhadap presiden dan juga jajaran pemerintahan agar tidak sembarangan atasi corona.

"Pak JK hanya ingin mengingatkan pemerintah supaya lebih berhati-hati menangani pandemi ini. Sebagai tokoh bangsa dan Ketum Palang Merah Indonesia, Pak JK wajar menyampaikan itu. Itu adalah wujud tanggung jawab moral beliau," ujar Sirojudin Abbas saat dihubungi Kantor Berita Politik RMOL, Rabu (20/5).

Lebih lanjut, Direktur Eksekutif SMRC ini memandang teguran JK bukan hanya bersifat simbolis, tapi memiliki pemaknaan yang lebih luas.

"Meskipun yang disebut terbatas masalah semantik 'istilah berdamai dengan Covid-19' tapi maksud beliau lebih luas," kata Sirojudin Abbas.

Doktor Filsafat (Ph.D) University of California Berkeley ini melihat, maksud yang lebih luas yang disampaikan JK adalah berupa warning untuk pemerintah dan juga masyarakat, agar tidak menganggap remeh bahaya virus corona.

"Yang paling penting dari Pak JK adalah saran beliau tentang pentingnya perubahan kebiasaan hidup. Dari yang awalnya kurang peduli kesehatan, sekarang menjadi lebih peduli. Misalnya, pakai masker kalau ke luar rumah, rajin cuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, menjaga jarak fisik dengan orang lain," ucap Sirojudin Abbas.

"Saya sependapat. Sebab kita tidak tahu kapan vaksin untuk menangkal atau obat untuk penyembuhan penyakit Covid-19 ini akan ditemukan. Kita tidak tau juga kapan kurva jumlah kasus penularan akan turun atau berakhir," dia menambahkan. 

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Tokoh Reformasi Amien Rais, Megawati, Sultan HB X dan Gus Dur

Selasa, 12 Mei 2026 | 14:15

KPK Panggil Mantan Kepala BBPJN Stanley Cicero

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:55

Trump Geram Kuba Tak Kunjung Tumbang Meski Dihantam Embargo Minyak AS

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:54

UEA Diduga Diam-Diam Ikut Serang Iran

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:47

Juri Lomba Cerdas Cermat Jangan Antikritik

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:45

Dua Ajudan Bupati Pekalongan Fadia Arafiq Digarap KPK

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:41

Purbaya Dorong Insentif Mobil Listrik di Tengah Ancaman Konflik Iran-AS Berkepanjangan

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:25

Gibran Puji Inovasi Transportasi Gratis Pemprov DKI

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:20

Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar di Kalbar Harus Diulang

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:18

Aktivis Global Sumud Flotilla Alami Penyiksaan Selama Ditahan Israel

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:18

Selengkapnya