Berita

Politisi Demokrat, Didik Mukrianto/Net

Politik

Jokowi Ternyata Tidak Longgarkan PSBB, Didik Mukrianto: Saya Mohon, Sudahi Bikin Bingung Rakyat!

SENIN, 18 MEI 2020 | 18:27 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Pemerintah diminta agar tidak membuat bingung masyarakat dengan pernyataan yang kadang tidak sesuai dengan fakta di lapangan, dalam hal ini kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang direncanakan akan dilakukan pelonggaran.

Namun belakangan ditegaskan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) bahwa tidak ada pelonggaran PSBB di Indonesia.

Begitu disampaikan Ketua DPP Partai Demokrat, Didik Mukrianto saat berbincang dengan Kantor Berita Politik RMOL sesaat lalu di Jakarta, Senin (18/5).


"Di saat seperti saat ini, rakyat jangan dibingungkan dengan permainan kata-kata atau diksi-diksi yang membingungkan, apalagi menimbulkan perdebatan dan kontroversial di publik. Perilaku dan ucapan pemimpin selalu akan menentukan perilaku masyarakatnya," kata Didik Mukrianto.

Anggota Komisi III DPR RI ini menilai, manajemen komunikasi diinternal Pemerintah mesti diperbaiki agar tidak membingungkan masyarakat. Sebab, terkait PSBB ini akan menyulitkan para Kepala Daerah yang telah bersusah payah mengatur masyarakatnya, namun bisa rusak efektivitasnya jika terus diubah-ubah.

"Kebijakan PSBB tersebut sangat terukur dan akuntabilitasnya bisa dipertanggungjawabkan sepenuhnya. Nah, diskursus pelonggaran PSBB itu idealnya bukan mengedepankan pertimbangan politik, tapi harusnya lebih kepada pertimbangan kesehatan dan keselamatan rakyat," tuturnya.

Atas dasar itu, Didik Mukrianto berharap, pemerintah untuk segera memperbaiki manajemen komunikasi agar satu komando yakni Presiden Jokowi bersama Satgas Covid-19 saja agar tidak ada lagi Menteri yang mengeluarkan kebijakan sendiri dan bertentangan dengan Presiden.

"Untuk itu saya memohon agar kiranya pemerintah, merapatkan barisan, menertibkan ego sektoral di Kementerian dan Kelembagaan yang belum punya visi yang sama dalam penanganan Covid-19. Setop dan sudahi wacana-wacana dan pernyataan-pernyataan yang menimbulkan spekulasi publik yang tidak perlu," pungkasnya.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Pelindo Dukung Konsolidasi Logistik BUMN Perkuat Integrasi Rantai Pasok Nasional

Kamis, 02 Juli 2026 | 00:16

Indonesia Harus Tegas Tolak LGBT!

Kamis, 02 Juli 2026 | 00:08

Catatan HUT ke-80 Polri

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:40

Bobby Nasution Pulangkan Kontingen Pesparawi Sumut dari Manokwari dengan Biaya Talangan

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:20

Ekodiplomasi di antara Geopolitik dan Kedaulatan Konservasi Indonesia

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:01

Danantara Sedang Membersihkan Warisan Lama BUMN

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:00

Hibah KNPI Kabupaten Bogor Menuai Polemik di Tengah Konflik Internal

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:00

Ketua MPR Bicara Islam Toleran dan Persatuan saat Bertemu Grand Mufti Uzbekistan

Rabu, 01 Juli 2026 | 22:55

Papua Harus Dibangun Tanpa Kehilangan Manusianya

Rabu, 01 Juli 2026 | 22:45

DPR Minta Transparansi Rencana Pengadaan Rudal BrahMos

Rabu, 01 Juli 2026 | 22:44

Selengkapnya