Berita

Presiden Joko Widodo/Net

Politik

Kasus Tragedi Semanggi Masih Mangkrak, Nasir Djamil: Kalau Pak Jokowi Enggak Sanggup, Bilang Aja Minta Maaf

SENIN, 18 MEI 2020 | 17:53 WIB | LAPORAN: RAIZA ANDINI

Kasus penculikan mahasiswa Trisakti dan aktivis HAM pada Mei 1998 silam hingga kini belum ada titik terang. Presiden Joko Widodo sebelumnya sempat mengumbar janji akan mengungkap pelaku atau dalang utama penculikan tersebut.

Anggota Komisi III DPR RI F-PKS M. Nasir Djamil menyampaikan pada pemerintahan Presiden Joko Widodo pengungkapan kasus pelanggaran HAM berat seperti dianak tirikan lantaran tidak tuntas hingga periode kedua pemerintahannya.

“Seolah-olah mau lepas tangan, takutnya nanti presiden yang akan datang juga lepas tangan, akhirnya sampai kapan ini akan kemudian bisa selesai,” paparnya.


Politisi asal Aceh ini mengingatkan Presiden Joko Widodo agar memiliki sikap tegas dalam pengungkapan kasus ini sehingga tidak mengumbar janji kosong semata.

“Kalau emang enggak sanggup bilang aja enggak sanggup minta maaf, bilang aja kami enggak sanggup minta maaf udah ya akhirnya kam lebih bagus begitu, lebih gentlemen begitu, daripada abu-abu, enggak jelas sikapnya, enggak jelas tindakannya,” ujar Nasir kepada Kantor Berita Politik RMOL, Senin (18/5).

Menurutnya, dengan mengatakan ketidakmampuan pemerintah dalam mengungkap kasus tersebut, Presiden Joko Widodo harus dapat melakukan mediasi dengan keluarga korban untuk menjelaskan pemerintah belum dapat mengungkap kasus tersebut.

“Dengan mengatakan tidak mampu lalu dikembalikan kepada keluarga korban negara udah bilang enggak mampu, misalnya begitu apa tindakan selanjutnya? Gitu kan jadi kalau emang tidak mampu sampaikan saja kepada rakyat Indonesia kami tidak mampu, udah selesai, daripada abu-abu,” paparnya.

Kesan Presiden Jokowi yang sulit mengungkap rahasia pelanggaran HAM negara ini dianggap bisa merusak legacy pemerintahan. Nasir justru melihat dengan presiden menyampaikan langsung ketidaksanggupannya mengungkap kasus tersebut akan lebih dimaknai publik sebagai seseorang yang gentleman.

“Ya daripada terlunta-lunta terkatung-katung, daripada abu-abu lebih bagus sampaikan saja tidak mampu. Kami tidak mampu selesai, kami tidak mampu dan kami minta maaf, udah gitu aja. Hanya itu negara yang bisa lakukan, akhirnya kapasitas negara seperti itu, jadi pembukaan UU yang melindungi segenap tumpah darah indonesia itu enggak bisa terwujud eenggak bisa dirasakan oleh keluaga korban,” tegasnya.

“Kalau presiden pake baju putih kan mestinya putih jangan abu-abu, putih terang benderang jelas, klir, kira-kira begitu,” tandasnya.

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Tokoh Reformasi Amien Rais, Megawati, Sultan HB X dan Gus Dur

Selasa, 12 Mei 2026 | 14:15

KPK Panggil Mantan Kepala BBPJN Stanley Cicero

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:55

Trump Geram Kuba Tak Kunjung Tumbang Meski Dihantam Embargo Minyak AS

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:54

UEA Diduga Diam-Diam Ikut Serang Iran

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:47

Juri Lomba Cerdas Cermat Jangan Antikritik

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:45

Dua Ajudan Bupati Pekalongan Fadia Arafiq Digarap KPK

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:41

Purbaya Dorong Insentif Mobil Listrik di Tengah Ancaman Konflik Iran-AS Berkepanjangan

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:25

Gibran Puji Inovasi Transportasi Gratis Pemprov DKI

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:20

Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar di Kalbar Harus Diulang

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:18

Aktivis Global Sumud Flotilla Alami Penyiksaan Selama Ditahan Israel

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:18

Selengkapnya