Berita

Presiden Joko Widodo saat meninjau laut Natuna Utara/Net

Publika

Jokowi Pemimpin Populis, Tidak Cocok Di Masa Krisis

MINGGU, 17 MEI 2020 | 22:05 WIB | OLEH: SYAFRIL SJOFYAN

KRISIS Kesehatan di dunia, tanpa diduga diawal periode kedua Presiden Jokowi terjadi krisis pandemik Covid-19, wabah corona yang sangat membahayakan dunia yang berasal dari Wuhan, China. Jokowi praktis menganggap remeh peringatan-peringatan sejak awal mula wabah, serta menunda penyiapan sistem kesehatan secara menyeluruh termasuk mempersiapkan fasilitas uji kesehatan sejak dini.

Krisis Ekonomi di Indonesia, sebenarnya jauh sebelum pandemik Covid-19 sudah diperkirakan oleh para ahli ekonomi diantaranya oleh begawan ekonomi Rizal Ramli, dengan berbagai defisit dan ratio pajak yang sangat jauh dan terburuk sejak 1998. Namun, pemerintah Jokowi sibuk membela diri dan menyalahkan perang dagang antara China dengan USA, padahal beberapa negara seperti Vietnam malah surplus.   

Dalam menanggapi pandemik, Jokowi cenderung menghambat suara penelitian dan peneliti dengan tujuan melindungi agenda ekonomi dan politik di atas keselamatan rakyat. Hal ini membuat Jokowi bertentangan dengan suara para ilmuwan. Jokowi tidak mendengarkan apa kata ilmu pengetahuan, dan merelakan ilmu pengetahuan menuntun keputusan-keputusan krusial pemerintah dalam krisis Covid-19.


Keputusan Ambigu seperti tidak jelasnya larangan mudik dan pulang kampung, ditengah�"tengah PSBB mengeluarkan kebijakan memberi izin beroperasinya angkutan darat, laut dan udara. Padahal kurva pandemik masih menjulang. Belum mencapai titik klimaksnya.

Rakyat kemudian dikorbankan dalam kebijakan ekstrem. Karena terlambat membalik arah kebijakan, kemudian terjebak pilihan menerapkan kebijakan tangan besi. Seperti tidak menurunkan harga BBM, memaksakan kenaikan iuran BPJS, kebijakan umur dibawah 45 tahun bisa bekerja. Meanakemaskan kalangan pengusaha/pebisnis/pedagang bebas bepergian, padahal virus corona tidak membedakan status jabatan. Memaksakan TKA China bekerja di Indonesia. Padahal puluhan juta rakyat menganggur, di PHK dan kehilangan mata pencarian karena wabah Covid-19.

Pemimpin populis memiliki kemampuan mengeksplotasi pandemik dengan memanfaatkan krisis untuk keuntungan politik dan mempertahankan kekuasaan semata. Jokowi adalah pemimpin populis bisa dilihat dari tindakan dan kebijakan serta keputusan yang diambil berupa Perppu dan Perpres cenderung membentengi kekuasaan untuk dapat berbuat semaunya tanpa dapat dikontrol serta melindungi elit kekuasaan untuk bisa/akan berbuat koruptif tanpa bisa dituntut secara hukum. Sangat disadari pemimpin adalah bahagian terpenting dalam kehidupan masyarakat. Apalagi dimasa krisis, bahkan dobel krisis.

Tanpa kepemimpinan yang baik dan tepat masa, maka kita pun akan sulit menuju harapan terjaminnya kesehatan dan ekonomi rakyat. Pemimpin harus sibuk berfikir dan bertindak agar rakyatnya dapat hidup cukup sandang, pangan, papan, serta terjamin kesehatan, pendidikan dan keamanannya. Memang betul bahwa dalam masa krisis rakyat harus juga memelihara diri, dengan mematuhi protocol kesehatan. Namun itu hanya sebagaian kecil yakni 10-30 persen dan sisanya sekitar 70-90 persen sangat tergantung kepada peran kepemimpinan.

Beberapa krisis yang terjadi perlu dikelola dengan perasaan empati yang tinggi. Apabila menghadapi setiap permasalahan dan krisis yang ada tanpa rasa empati, maka semuanya akan semakin kacau balau, terlihat dari kenaikan BPJS terjadi kehebohan secara nasional. Pemimpin akan selalu berkorelasi dengan tanggung jawab. Sebab, tanggung jawab itu menjadi domain kuasa terhadap apa yang dipimpinnya. Jika kemudian Jokowi sebagai pemimpin tertinggi tidak bisa memainkan atau tepatnya memerankan tanggung jawab itu, maka kredibilitas Jokowi harus di pertanyakan.

Dari analisis diatas dapat disimpulkan bahwa Jokowi adalah pemimpin populis yang tidak cocok dimasa krisis. Jika tetap bertahan akan membuat lama nya pemulihan paska pandemik, dan akan lama pemulihan ekonomi dan akan semakin lama penderitaan rakyat Indonesia.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

UPDATE

Nasdem Ingatkan Ancaman El Nino dan Dampak Geopolitik ke Pangan Nasional

Selasa, 07 April 2026 | 14:17

Istana Kaji Wacana Potong Gaji Menteri, Belum ada Keputusan

Selasa, 07 April 2026 | 14:14

Pemerintah Genjot Biofuel untuk Redam Dampak Kenaikan Harga Pangan

Selasa, 07 April 2026 | 14:02

Benteng Etika Digital: Pemerintah Godok Dua Perpres untuk Jinakkan Risiko AI

Selasa, 07 April 2026 | 13:53

KPK Panggil Petinggi 5 Perusahaan Travel Haji

Selasa, 07 April 2026 | 13:34

Seruan Saiful Mujani Tak Digubris, Istana: Prabowo Fokus Agenda Strategis

Selasa, 07 April 2026 | 13:33

Monitoring Ketat Jadi Kunci WFH ASN Tetap Produktif

Selasa, 07 April 2026 | 13:21

Pemerintah Klaim Ketahanan Pangan Nasional Stabil hingga 11 Bulan ke Depan

Selasa, 07 April 2026 | 13:17

Jangan Adu Domba Rakyat dengan Pemerintah Soal BBM

Selasa, 07 April 2026 | 13:11

Kasus Suap Pemkab Bekasi: KPK Periksa Istri Ono Surono Sebagai Saksi

Selasa, 07 April 2026 | 13:08

Selengkapnya