Berita

Grafik penyebaran Infuenza Pandemic 1918/Net

Publika

Salah Samek #6 : Pengendalian Penyebaran vs Pengendalian Kematian

JUMAT, 15 MEI 2020 | 10:36 WIB | OLEH: HENDRA J. KEDE

TULISAN ini tidak dimaksudkan untuk mempertentangkan antara pengendalian penyebaran dengan pengendalian kematian akibat Virus Corona. Sama sekali tidak.

Namun jika pun dipertentangkan dan hanya salah satu (walaupun hanya terlihat seolah-olah) yang akan digunakan sebagai landasan dalam mengambil kebijakan penanganan Virus Corona kedepan, itu pun harusnya memerlukan kajian komperhensif dengan menggunakan prinsip-prinsip Keterbukaan Informasi Publik.

Resikonya ada pada masyarakat maka kebijakan tersebut diamahkan konstitusi untuk pelibatan pastisipasi publik, transparansi/akuntabilitas, dan aksesibilitas.


Pasal 28F dan UU 14/2008 serta aturan turunannya menyatakan demikian.

*

Data per Kamis, 14 Mei 2020, pukul 12.00 WIB berdasarkan pengumuman resmi yang disampaikan Jurubicara Gugus Tugas Percepatan Pengendalian COVID-19 :

Pasien Positif Corona berjumlah 16.006 (enam belas ribu enam) orang dengan penambahan dari hari sebelumnya sebanyak 568 (lima ratus enam puluh delapan) orang.

Pasien Dalam Pengawasan (PDP) berjumlah 33.672 (tiga puluh tiga ribu enam ratus tujuh puluh dua) orang dengan penambahan dari hari sebelumnya sebanyak 630 (enam ratus tiga pulu) orang.

Orang Dalam Pemantauan (ODP) berjumlah 258.639 (dua ratus lima puluh delapan ribu enam ratus tiga puluh sembilan) orang dengan penambahan dari hari sebelumnya sebanyak 2.340 (dua ribu tiga ratus empat puluh) orang.

Pasien sembuh berjumlah 3.518 (tiga ribu lima ratus delapan belas)norang dengan penambahan dari hari sebelumnya sebanyak 231 (dua ratus tiga puluh satu) orang.

Pasien meninggal dunia berjumlah 1.043 (seribu empat puluh tiga) orang dengan penambahan dari hari sebelumnya sebanyak 15 (lima belas) orang. Tanpa dijelaskan bagaimana dengan orang meninggal yang dimakamkan dengan protap COVID-19.

Semua data tersebar di 34 provinsi dan 373 Kabulaten/Kota di seluruh pelosok Indonesia, dari kota besar sampai desa terpencil, dari daerah yang kuat insfrastruktur kesehatannya sampai yang sangat minim.

Data tersebut dari hasil pemeriksaan terhadap 169.195 (seratus enam puluh sembilan ribu seratus sembilan puluh lima) spesimen di 68 (enam puluh delapan) laboratorium yang berasal dari 127.813 (seratus dua puluh tujuh ribu delapan ratus tiga belas) orang.

Itu angka yang mampu dites. Tidak mampu penulis membayangkan angka-angkanya jika Indonesia mampu melakukan tes kepada semua orang potensial tertular, entah berapa hasilnya yang keluar.

Kesimpulan sementara penulis, walaupun jumlah yang meninggal menurun, jumlah sembuh naik, namun jumlah terinfeksi meningkat, bahkan jumlah sembuh digabung dengan jumlah meninggal harian hanya 41,55 persen dari jumlah penambahan harian Pasien Positif Corona.

Itu dari data resmi. Kalau data yang tidak terdata dimasukan, kesimpulannya bagaimana?

Ya penulis ndak tahu, kita berharap saja tidak ada data yang tidak terdata itu...

Tapi kan masih ada istilah Orang Terinfeksi namun Tidak Jujur sehingga menularkan ke orang lain seperti yang disampaikan Pak Yuri, jubir Gugus Tugas.... bukanlah itu artinya.... data tidak terdatanya itu..... logisnya: ada

*

Penulis tidak habis pikir bagaimana basis logikanya sehingga angka kematian dibawah 15 persen dari kelompok orang berumur 45 tahun ke bawah digunakan sebagai dasar untuk mengambil kebijakan boleh tidaknya kembali beraktifitas.

Itu kan logika resiko kematian terhadap kelompok umur tersebut.

Bagaimana dengan basis logika resiko ketertularann mereka dan bagaimana basis logika resiko mereka sebagai penular pasca tertular?

Berapa datanya, prosentase dari kelompok umur dibawah 45 tahun itu yang potensial tertular sebagai Pasien Positif, PDP, ODP dan sebagai penular?

Pertanyaan lebih serius dan mengerikan adalah berapa prosen Orang Tanpa Gejala (OTG) dari kelompok umur dibawah 45 tahun ini?

Bukankah kelompok umur inilah yang sangat potensial sebagai OTG?

Masih muda, daya tahan tubuh tinggi, aktifitas fisik memadai, makan masih selere tinggi, jarang berpenyakit rentan (darah tinggi, diabeter, jantung, dan lain lain).

Namun tidak ada jaminan Virus Cirona tidak bisa masuk kedalam tubuh mereka, mereka sama mudahnya dimasukin Virus Corona dengan kelompok umur manapun.

Mereka mungkin tidak sampai menjadi pasien karena faktor muda dan daya tahan tubuh yang prima. Namun toh Gugus Tugas COVID-19 mendifinisikan OTG itu adalah penular paling berbahaya?

Tidak bergejala, terlihat sehat, namun pembawa Virus Corona. Walaupun tidak sampai jadi pasien, namun tetap sebagai penular aktif kepada sekelilingnya?

Apakah ada jaminan kalau di rumah kelompok umur 45 tahun ke bawah ini tidak ada orang yang rentan tertular dan berujung jadi pasien?

Kelompok umur 45 tahun kebawah sehat-sehat saja. Namun bukankah orang sekitar yang rentan dan tertular dari mereka malah bisa babak belur?

Lihatlah foto-foto commuterline dan bandara Soekarno-Hatta setelah pelonggaran transportasi umum kemaren yang penuh sesak, situasi ideal orang menjadi OTG dan penular setelah sampai di lingkungan lain kan?

*

Dua hari lalu penulis dapat kiriman grafik penyebaran "Infuenza Pandemic 1918" dari salah seorang Begawan Wartawan Indonesia, Bapak Parni Hadi, disertai keterangan yang nampaknya beliau juga hanya men-forward:

"Belajar dr sejarah SpanishFlue 1918 yg mati 50 juta. Hati2 Second Wave mengambil nyawa terbanyak karena manusia lepas dari lockdown langsung pesta2 & gathering saat immune tubuhnya rendah paska lockdown pertama sehingga lockdown berikutnya dilakukan tapi korban sudah tertalu banyak."

*

Sebagai seorang Muslim penulis mempercayai sepenuhnya kalau ajal dan umur itu sudah ditentukan semenjak dari dalam kandungan. Tapi toh tetap ada do'a minta panjang umur, dengan segala tafsirnya?

Sebagai orang beriman penulis juga mempercayai bahwa dapat tidaknya hidup secara sehat sudah didelegasikan Allah SWT sebagai bagian dari hukum alam yang berbasis ikhtiar, berbasis usaha anak manusia, walaupun tetap ada konsep takdir.

*

Jangan sampai kita baru menyesal saat korban Virus Corona sudah bertumbangan pada saat fase "Secon Wave" karena adanya kekeliruan penanganan saat fase "Forst Wave". Kekeliruan inilah yang mengaibatkan 50.000.000,- (lima puluh juta) orang meninggal tahun 1918-1919.

Apalagi kedepan besar kemungkinan banyak masyarakat tidak mampu melakukan perlindungan kesehatan diri dan keluarga secara memadai karena tidak lagi mampu membayar jaminan BPJS Kesehatan akibat beratnya beban ekomoni sebagai dampak serangan Virus Corona....

.... dan akibat-akibat lainnya.... naiknya iuran BPJS Kesehatan misalnya....

Wakil Ketua Komisi Infornasi Pusat RI

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Keempat Kalinya Indonesia Jadi Tuan Rumah PENSA 2026

Minggu, 25 Oktober 2026 | 00:25

OMC Bantu Sejukkan Jakarta

Minggu, 25 Oktober 2026 | 00:02

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

TVRI dan PIM Jajaki Kolaborasi Angkat Kiprah Perempuan Indonesia

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:23

KNMP Kota Sorong Buka Peluang Pasar bagi Nelayan Lokal

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:00

Modal Asing Kabur Imbas Sentimen MSCI, BI Jamin Likuiditas Rupiah Memadai

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 22:44

Kapal Asal Malaysia Bawa 1,16 Ton Ketamin, Dasco Tegaskan Jaga Generasi Muda

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 22:16

BSI Himpun Dana Tabungan Haji Rp18 Triliun, Nasabah Gen Z Naik 30 Persen

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 21:15

Wilayah Berdekatan, Mengapa Jakarta Lebih Panas Saat Bogor Masih Diguyur Hujan?

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 21:03

KemenHAM Tampilkan Peta Pemenuhan Hak Dasar Hingga Tingkat Desa Berbasis Digital

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 18:35

Selengkapnya