Berita

Gde Siriana Yusuf/Net

Politik

Gde Siriana: PSBB Tidak Bisa Dilonggarkan Tanpa Ada Ukuran Yang Jelas

SELASA, 12 MEI 2020 | 05:38 WIB | LAPORAN: AHMAD KIFLAN WAKIK

Pemerintah sedang memikirkan pelonggaran kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), seiring banyaknya keluhan masyarakat yang tidak dapat melakukan aktivitas dengan bebas.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (SMI) mengatakan, pelonggaran PSBB dianggap bisa memulihkan perekonomian nasional secara bertahap.

"Jangan lupa di semua negara dilakukan adjustment. Ada yang sudah tidak sabar karena ekonominya terpukul sangat besar kemudian mereka buru-buru membuka, habis itu mereka nyesel tutup lagi. Kan hal itu yang tidak kita inginkan," kata Sri Mulyani, Jumat (8/5).


Bagi aktivis Bandung Initiative Network, Gde Siriana Yusuf, apa yang dikatakan Sri Mulyani itu tidak sepenuhnya keliru.

"SMI benar bahwa negara lain lakukan adjustment atas lockdown. Tetapi Indonesia tidak bisa begitu saja meniru tanpa terukur," uajr Gde Siriana dalam keterangannya, Selasa (12/5).

Gde Siriana mengingatkan bahwa wacana Sri Mulyani itu harus dikaji dengan cermat. Pasalnya, Indonesia tidak sepenuhnya lockdown atau hanya menerapkan pembatasan sosial di beberapa daerah dalam waktu singkat.

Hal tersebut, kata Gde, belum termasuk perbandingan tes Covid-19 per satu juta penduduk Indonesia yang terbilang kecil.

"Indonesia menjalankan PSBB lokal (DKI Jakarta) sejak 10 April. Baru sebulan, dan lokal sifatnya. Juga tes yang dilakukan masih sangat sedikit yaitu 590 tes/1 juta penduduk," jelasnya.

Dia menyebutkan, kondisi saat ini dalam kurva Covid-19 di Indonesia masih sangat fluktuatif dan diperkirakan masih bergerak menuju puncak.

Sehingga, Gde menyarankan, supaya pelonggaran PSBB dapat benar-benar didalami. Jangan sampai menjadi bom waktu yang lebih membayakan di kemudian hari.

"Jadi jangan sampai keinginan memulihkan ekonomi efektifitasnya rendah tetapi kasus corona jadi semakin lama mencapai puncaknya dan kegiatan ekonomi keuangan rakyat ini selama berhenti kan seharusnya jadi tanggung jawab pemerintah," pungkasnya.

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

UPDATE

Khalid Basalamah Ngaku Hanya jadi Korban di Kasus Yaqut

Kamis, 23 April 2026 | 20:16

Laba BCA Tembus Rp14,7 Triliun

Kamis, 23 April 2026 | 20:10

Singapura Masih jadi Investor Terbesar RI, Suntik Rp79 Triliun di Awal 2026

Kamis, 23 April 2026 | 20:04

TNI-Polri Buru Anggota OPM Penembak ASN di Yahukimo

Kamis, 23 April 2026 | 19:43

Hilirisasi Sumbang Rp147,5 Triliun Investasi di Triwulan I 2026

Kamis, 23 April 2026 | 19:26

Bareskrim Gandeng FBI Buru Ribuan Pembeli Alat Phising Ilegal

Kamis, 23 April 2026 | 19:17

Jemaah Haji Terima Uang Saku 750 Riyal dari BPKH

Kamis, 23 April 2026 | 19:15

Data Rosan Ungkap Investasi RI Lepas dari Cengkeraman Jawa-Sentris

Kamis, 23 April 2026 | 19:02

PLN Pastikan Listrik Jakarta Sudah Pulih 100 Persen

Kamis, 23 April 2026 | 18:56

Idrus Marham Sindir JK: Jangan Klaim Jasa, Biarlah Sejarah Menilai

Kamis, 23 April 2026 | 18:41

Selengkapnya