Berita

Muhammad Najib/RMOL

Muhammad Najib

Menempatkan Mazhab Secara Rasional Dan Proporsional

MINGGU, 10 MEI 2020 | 02:43 WIB | OLEH: DR. MUHAMMAD NAJIB

KATA "mazhab" berasal dari Bahasa Arab yang makna harfiahnya adalah jalan yang dilewati untuk mencapai tujuan, baik yang berbentuk fisik maupun abstrak. Kata lain yang memiliki makna serupa adalah "manhaj", yang sering diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia menjadi metode atau cara.

Kata "mazhab" dalam Islam sering digunakan untuk mengungkapkan
bentuk pemikiran terkait akidah maupun tata cara beribadah, setelah melalui proses pengkajian mendalam, yang kemudian menjadikannya sebagai pedoman, bahkan tidak jarang kemudian dibakukan oleh sekelompok penganutnya. Karena terkait dengan masalah-masalah agama yang bersifat sakral, dalam perjalanannya istilah ini mengalami sakralisasi.

Sementara istilah "manhaj" berkonotasi lebih profan. Karena lebih sering digunakan untuk organisasi baik organisasi profesional, politik, maupun sosial kemasyarakatan pada umumnya.

Sementara istilah "manhaj" berkonotasi lebih profan. Karena lebih sering digunakan untuk organisasi baik organisasi profesional, politik, maupun sosial kemasyarakatan pada umumnya.

Di dalam panganut Islam Sunni, kata "mazhab" dikaitkan dengan pedoman dalam melaksanakan perintah agama yang merujuk pada hasil ijtihad 4 ulama besar: Imam Syafii, Hanafi, Maliki, dan Hambali.

Komunitas NU pada umumnya memantapkan diri secara ketat, baik dalam pemikiran maupun tata cara beribadahnya sebagai pengikut Imam Syafii. Di komunitas Muslim Asia Tenggara, komunitas ini dikenal dengan sebutan Syafiiyah atau pengikut Syafii.

Sementara di komunitas Muhammadiyah, membuat batasan yang lebih longgar dengan berpedoman pada keempatnya. Akan tetapi komunitas ini lebih suka disebut tidak bermazhab. Karena itu, slogannya yang terkenal adalah kembali kepada Al Quran dan Al Hadits.

Di komunitas Islam Syiah serupa dengan Sunni, juga memiliki banyak mazhab. Yang paling dekat dengan faham yang dianut oleh komunitas Sunni adalah pengikut Imam Jafar, yang lazim disebut Jafariyah. Bahkan sebagian komunitas Sunni memasukkannya sebagai mazhab kelima dalam Islam.

Untuk mengenali secara umum dari lima mazhab ini, maka akan diuraikan secara singkat sebagai berikut: Pertama, Madzhab Hanafi. Mazhab ini lahir di Kuffah (bagian dari Irak saat ini). Dinamakan Hanafi, karena pendirinya bernama Imam Abu Hanifah An-Nu’man bin Tsabit. Beliau lahir pada tahun 80 H di Kufah dan wafat pada tahun 150 H. Madzhab ini dikenal sebagai madzhab Ahli Qiyas (mengutamakan akal).  

Imam Hanafi sempat menjadi hakim, sehingga  mazhabnya dijadikan  mazhab negara, pada saat Harun Al-Rasyid menjadi Khalifah Bani Abbasiyah.

Kedua, Madzhab Maliki. Pendirinya adalah Al-Imam Malik bin Anas Al-Ashbahy. Ia dilahirkan di Madinah pada 93 H dan wafat pada 179 H. Sebagai ahli hadits di Madinah, kota di mana Rasulullah SAW hidup, karenanya madzhab ini dikenal dengan madzhab Ahli Hadits.

Bahkan beliau mengutamakan perbuatan ahli Madinah daripada Khabaril Wahid (Hadits yang diriwayatkan oleh perorangan). Karena bagi beliau mustahil warga Madinah akan berbuat sesuatu yang bertentangan dengan perbuatan Rasul.  

Imam Malik lebih banyak menitikberatkan kepada hadits, karena menurut beliau perbuatan warga Madinah termasuk bagian dari hadits mutawatir. Madzhab ini lahir di Madinah, kemudian berkembang ke negara lain khususnya Maroko.

Ketiga, Madzhab Syafii. Tokoh utamanya adalah Al-Imam Muhammad bin Idris As-Syafii Al-Quraisyi. Imam Syafii dilahirkan di Ghuzzah, pada 150 H, dan wafat di Mesir pada tahun 204 H.

Beliau belajar kepada Imam Malik yang dikenal dengan madzhabul hadits, kemudian beliau pergi ke Irak dan belajar dari ulama Irak yang dikenal sebagai madzhabul qiyas. Imam Syafii berikhtiar menyatukan madzhab, dengan harapan akan mampu memadukannya, yakni antara madzhab hadits dan madzhab qiyas. Madzhab ini lahir di Mesir kemudian berkembang ke negeri-negeri lain.

Keempat, Madzhab Hanbali. Dinamakan Hanbali, karena pendirinya Al-Imam Ahmad bin Hanbal As-Syaebani, lahir di Baghdad pada 164 H, dan wafat pada 248 H. Beliau adalah murid Imam Syafii yang paling istimewa dan tidak pernah pisah sampai Imam Syafii pergi ke Mesir.

Menurut beliau, hadits dlaif dapat dipergunakan untuk perbuatan-perbuatan yang afdal (fadlailul amal). Beliau tidak mengakui adanya Ijma’ setelah sahabat, karena ulama sangat banyak dan tersebar luas.

Kelima, Mazhab Jafariyah atau Mazhab Dua Belas Imam (Itsna Asyariah), merupakan mazhab dengan penganut yang terbesar dalam kelompok Syiah. Mazhab ini merupakan pengikut Imam ke-6, yaitu Jafar Ash Shadiq bin Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib. Mazhab ini menjadi mazhab resmi Negara Iran sejak Revolusi Islam tahun 1979, yang dipimpin oleh Ayatollah Khomaini.

Kalau dicermati secara seksama, maka ijtihad para imam yang kemudian melahirkan mazhab dalam beragama, tidak bisa dilepaskan dari kombinasi keilmuwan dan kesalihan personal. Bahkan dalam situasi tertentu, situasi sosial dan politik yang melingkupinya ikut berpengaruh.

Sejalan dengan perkembangan zaman, maka dalam perjalanannya ijtihad tidak lagi hanya dilakukan oleh orang-perorang, akan tetapi dilakukan secara berjamaah, seperti yang terjadi pada NU, Muhammadiyah, maupun A Azhar di Mesir.

Proses sakralisasi mazhab sering juga terjadi akibat kepentingan sosial dan politik di suatu komunitas. Suasana politik nasional Mesir, sebenarnya secara sistemik mendorong Manhaj Azhari berubah menjadi Mazhab Azhari.

Apakah di Indonesia NU dan Muhammadiyah, juga akan mengalami sakralisasi, sehingga pada suatu saat nanti akan berubah dari "manhaj" menjadi "mazhab"? Wallahualam.

Dr. Muhammad Najib

Pengamat Politik Islam dan Demokrasi

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

UPDATE

Adab di Atas Selebrasi

Selasa, 16 Juni 2026 | 04:12

Belgia vs Mesir Berbagi Skor 1-1

Selasa, 16 Juni 2026 | 04:10

Pidato Bernuansa Sindiran Berpotensi Memicu Reaksi Balik Publik

Selasa, 16 Juni 2026 | 03:39

Membongkar Skandal #SellIndonesia, Hebatnya Rupiah Menguat

Selasa, 16 Juni 2026 | 03:19

Edura School Jawab Tantangan Guru di Era Digital

Selasa, 16 Juni 2026 | 03:03

SEI Bongkar Dampak Kebijakan Batu Bara Bahlil: Pasokan Tersendat, Listrik Alami Gangguan!

Selasa, 16 Juni 2026 | 02:37

Mahfud MD: UU Polri Abaikan Komisi Reformasi

Selasa, 16 Juni 2026 | 02:24

ART Indonesia Disiksa Mirip Samsak Tinju di Malaysia

Selasa, 16 Juni 2026 | 02:01

Kerja Prabowo Sudah Bagus, tapi Jangan Pidato Meledek Lagi

Selasa, 16 Juni 2026 | 01:29

Sambut 1 Muharam Setop Saling Fitnah dan Provokasi

Selasa, 16 Juni 2026 | 01:25

Selengkapnya