Berita

Zainal Bintang/Net

Publika

Membayangkan Setelah Corona

JUMAT, 08 MEI 2020 | 18:31 WIB | OLEH: ZAINAL BINTANG

MERUJUK pemberitaan surat kabar Inggris The Guardian terbitan 14 April 2020 yang banyak dikutip menyebutkan, "para ilmuwan baru berhasil membuat vaksin dan mengatasi wabah Covid-19 selama delapan belas bulan dari sekarang. Itulah mengapa keharusan social distancing (pembatasan sosial) akan tetap berlanjut sampai 2022".

Meskipun nantinya waktu karantina bisa diakhiri, namun sampai vaksin atau obat virus corona Covid-19 bisa ditemukan, maka pola pencegahan seperti yang dilakukan saat ini harus terus dilakukan. "Pandemi akan berlangsung lama, harus mulai membiasakan dengan new normal life, pola hidup normal yang baru," kata Epidemiolog Griffith University Dicky Budiman.  

Di tengah pertempuran dunia melawan pandemi Covid-19 - termasuk Indonesia - masyarakat dipaksa menjalani "kenormalan baru". Pengakuan atas  rontoknya kesepakatan sosial lama akibat physical distanscing (penjarakan badan) sebagai implementasi Peraturan Pemerintah No. 21/2020 tentang PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar).  


Pertanyaan mendasar, sesudah pandemi Covid-19 berlalu, bagaimana bentuk kehidupan selanjutnya di atas dunia ini? Prahara wabah Covid-19 kadung telah menebar kerusakan tatanan kehidupan secara masif. Melumpuhhkan kegiatan ekonomi, sosial, budaya, keagamaan dan politik. Semuanya mengalami disrupsi total. Membuat dunia termasuk Indonesia luluh lantak.

Paska wabah Covid-19 diperkirakan untuk sementara di Indonesia akan hadir wajah kelam kehidupan. Semuanya harus dimulai dari nol. Membangun kesepakatan sosial baru. Seperti apa kelak tampang rekonstruksi ekonomi, sosial, budaya, keagamaan dan politik dalam kehidupan "kenormalan baru" di Indonesia masa datang?

Seperti apakah tampang perpolitikan kita? Masihkah kelak partai politik diperlukan? Masihkah perlu elite politik dihormati? Masyarakat yang sempat kehilangan simpati kepada elite politik  tidak mudah melupakan kekecewaan. Mereka menganggap wakil rakyat di Senayan gagal menunjukkan empati yang tinggi di masa cengkeraman wabah Covid-19 merajalela.

Luapan kekecewaan berat masyarakat atas sikap cuek wakilnya bertaburan di media cetak, eletronik dan media daring. Di bawah tekanan kecaman dan di tengah masifnya penetrasi wabah Covid-19, wakil rakyat di Senayan tetap saja kekeuh mengesahkan undang-undang lewat sidang pleno virtual yang dianggap minim aspek legalitasnya.  

Membayangkan sisi kelam paska wabah Covid-19 di Indonesia, seperti apa tampang rekonstuksi dunia ekonomi kita? Masihkah dapat bertahan kerajaan para kapitalis alias konglomerat? Mereka yang tergabung dalam kelompok orang terkaya yang 1 persennya menguasai 46,6 persen total kekayaan penduduk dewasa dan yang 10 persennya mengangkangi 75,3 persen total kekayaan penduduk. Seperti apa perilaku mereka ketika menemukan timbunan kekayaannya menjadi gunung beban yang tidak lagi menghasilkan?

Rontoknya dunia ekonomi berskala kolosal akibat wabah Covid-19, diperkirakan akan membuat banyak konglomerat menderita strees berat. Dicengkeram hantu kemiskinan yang menakutkan. Sejumlah aset premium mereka  terpapar virus ekonomi dipastikan berubah jadi beban hutang tak bertepi.

Ratusan gedung pencakar langit, puluhan ribu kertas berharga, jutaan hektar lahan (pertambangan dan perkebunaan) bernilai ribuan triliun milik kapitalis itu mendadak tidak bernilai jual. Menguap terdistorsi kemandekan  bisnis sedunia. Sementara itu, rakyat kecil, - ahli waris yang sah atas tanah negara yang pernah dirampas - bermunculan merebut kembali lahan-lahan yang dicaplok para kapitalis sadis itu. Lahan yang berpindah tangan lewat kolusi memo oknum bupati berkelindan upeti lewat pintu belakang porsi dana kampanye pilkada yang penuh akal bulus.

Gurita bisnis kapitalis itu berantakan. Jaringan rantai dagang terputus. Selain kehilangan kekayaan begitu banyak, terancam pula kehilangan kewarasan. Linglung. Lalu jadi gila. Ketidaksiapan mental untuk menjadi orang miskin membuat sang konglomerat itu tiba-tiba menjadi dungu. Berperilaku seperti orang "berkebutuhan khusus" ditinggal pergi kekayaan yang menguap begitu saja.

Banyak yang berdoa semoga kehadiran "kenormalan baru" dapat menjadi sebuah blessing indisguise (anugerah terselubung). Bermutasi menjadi energi positif  bangsa guna menyapu bersih tatanan  lama dari genggaman oligarkis: persepakatan jahat elite politik dan konglomerat kapitalis yang rapuh moralitas.

Membayangkan setelah corona, akan datang sebuah masa dimana impian kebenaran dan keadilan menjadi kenyataan. Bangsa besar ini akan dapat mengelola sendiri negerinya. Mengembalikan nilai luhur yang rusak akibat praktik demokrasi setengah matang. Menjadi gorengan politisi gadungan yang berselancar diatas hasil elektoral manipulatif.

Membayangkan setelah corona, akan datang sebuah masa pembebasan dimana rakyat bersatumelawan petualang konstitusi berjubah "rasul" reformasi, yang telah membonsai UUD 45 melalui sihir hitam amandemen empat kali.

Membayangkan…….!!

"Semuanya kelihatan tidak mungkin sampai segala sesuatu selesai". kata Nelson Mandela.

Penulis dalah wartawan senior, pemerhati masalah sosial budaya.

Populer

Panglima TNI Bantah Seskab Teddy Diperiksa Polisi Militer

Sabtu, 07 November 2026 | 09:32

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Upaya Makar Geng Solo

Sabtu, 07 November 2026 | 05:07

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

UPDATE

Helikopter Pemadam Karhutla BNPB Jatuh di Sungai Barito

Minggu, 08 November 2026 | 14:30

Putin Pastikan Rusia-AS-Ukraina Kembali Berunding Pekan Depan di Abu Dhabi

Minggu, 08 November 2026 | 14:26

Plt Bupati Klaten Dicecar KPK soal Penerimaan Uang Hamenang dan Era Sebelumnya

Minggu, 08 November 2026 | 14:19

Al Aqsha Travel Gelar Akademi Marketing Haji untuk Perkuat Kompetensi Mitra

Minggu, 08 November 2026 | 14:02

Bahlil Ancam Tempuh Jalur Hukum Gegara Namanya Dikaitkan dengan Isu Penyadapan Prabowo

Minggu, 08 November 2026 | 13:47

Gempa 5,7 Magnitudo Guncang Jepang, 20 Orang Terluka

Minggu, 08 November 2026 | 13:42

Penyadapan Presiden Prabowo Biang Kerok Ekonomi Tidak Stabil

Minggu, 08 November 2026 | 13:28

Green Wakaf, Memperluas Manfaat Wakaf untuk Menjaga Kelestarian Alam

Minggu, 08 November 2026 | 13:08

Pengamat: Peran Seskab Teddy Strategis dalam Komunikasi Politik Pemerintah

Minggu, 08 November 2026 | 13:02

AS Siapkan Rp362 Miliar untuk Pembocor Informasi Nuklir Iran

Minggu, 08 November 2026 | 12:40

Selengkapnya