Berita

Jaya Suprana/Net

Jaya Suprana

Sulitnya Mewujudkan Kemanusiaan

JUMAT, 08 MEI 2020 | 07:34 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

KASUS pembatalan gerakan kemanusiaan yang terkisah di dalam naskah  “Kaos Oblong Melawan Corona” (7 Mei 2020) merupakan satu di antara sekian banyak bukti bahwa pada hakikatnya memang cukup sulit mewujudkan semangat kemanusiaan menjadi kenyataan.

Di samping harus memenuhi syarat prosedur yang disebut sebagai  protokol juga harus siap bukan saja dikritik namun bahkan dihujat.

Hujat



Ketika mulai berupaya peduli derita rakyat tergusur, saya dihujat oleh para pendukung kebijakan menggusur rakyat sebagai tua bangka bau tanah kurang kerjaan cari muka, padahal saya sudah punya muka meski jelek.

Sebagai pembelajar kemanusiaan wajar jika saya dihujat, namun sungguh menyedihkan bahwa ternyata para pejuang kemanusiaan yang sudah sejak lama membela kaum miskin juga dihujat sebagai para pelestari kemiskinan sekaligus para pemberontak yang menghambat pembangunan infra struktur!

Lebih nahas lagi, para rakyat yang sudah digusur masih pula dihujat sebagai sampah masyarakat penyebab banjir dan lain-lain hujatan demi membenarkan kebijakan penggusur menggusur rakyat.

Meski terbukti setelah digusur ternyata di lokasi yang digusur tetap banjir. Mereka yang menolong sesama manusia yang kebetulan tidak disukai penguasa juga harus siap ditangkap lalu dijebloskan ke penjara.

Kendala


Di masa pageblug corona, para dermawan dan pengabdi kemanusiaan juga menghadapi kendala dalam berupaya mengejawantahkan sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab menjadi kenyataan.

Ada yang menuduh bahwa pengabdian kemanusiaan yang tulus dipersembahkan kepada yang membutuhkan bantuan perlengkapan pelindung diri atau sesuap nasi dan seteguk air minum merupakan sekedar pencitraan pribadi, kelompok bahkan SARA.

Ada yang menghujat para pengabdi kemanusiaan sebagai kaum munafik yang mendayagunakan kemanusiaan sebagai deodoran untuk menutupi kebusukan entah apa.

Ada pula yang kreatif tapi kurang inovatif menggunakan teori konspirasi untuk mengecam upaya mewujudkan kemanusiaan sebenarnya sekedar sandiwara pura-pura baik hati padahal ada kepentingan udang di balik batu atau batu di balik udang.

Para jurnalis beberapa media tertentu diberi instruksi khusus untuk tidak memberitakan bakti-kemanusiaan yang dilakukan oleh pihak tertentu yang tidak disukai pemilik media.

Empati


Ada yang menghujat ketika saya memuji warga Belgia dan warga Inggris yang secara sepi ing pamrih rame ing gawe ikut membuat baju hazmat untuk dibagikan secara gratis oleh MURI kepada para petugas kesehatan di gugus terdepan melawan corona sebagai perilaku berlebihan memuja asing.

Sebenarnya saya bukan memuja namun, sekadar memuji para warga asing yang masih memiliki nurani kemanusiaan.

Banyak warga miskin bukan sekedar merasa namun benar-benar tidak memperoleh bantuan berhubung jumlah penduduk dan luas wilayah Indonesia memang luar biasa besar sehingga sangat sulit untuk membagikan bantuan secara adil dan merata sampai di tangan pihak yang benar-benar membutuhkan bantuan.

Sementara seorang Ibu Teresa tidak luput dari beranekaragam hujatan dari berbagai pihak yang tidak suka Ibu Teresa tulus ikhlas menolong kaum miskin, papa dan para penderita penyakit menular yang sedang menghadapi maut.

Empati Sri Paus Fransiskus kepada kaum miskin dan tertindas juga dihujat oleh yang menganggap kaum miskin adalah sampah masyarakat dan kaum tertindas memang wajib ditindas.

Maju Tak Gentar


Memang manusia mustahil sempurna maka serta-merta upaya kemanusiaan yang dilakukan oleh manusia juga mustahil sempurna. Maka jika dicari apalagi dicari-cari pasti terjamin akan berhasil ditemukan ketidak-sempurnaan pada segenap upaya pengabdian kemanusian oleh para pengabdi kemanusiaan.

Maka ketimbang peduli hujat, cemooh dan fitnah, saya memilih untuk dengan penuh kerendahan hati berdoa memohon Yang Maha Kasih berkenan menganugrahkan kekuatan lahir batin kepada para dermawan dan pejuang kemanusiaan dalam menghadapi cemooh, hujatan bahkan fitnah yang ditimpakan kepada mereka, sehingga dengan semangat maju tak gentar membela kemanusiaan tetap tulus mempersembahkan sumbangsih dengan kemampuan masing masing demi ikut membantu mengurangi derita sesama manusia dalam bersama berjuang melawan angkara murka corona. Amin.

Penulis adalah pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan

Populer

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Terkejut Mantan Ajudan Jadi Tersangka KPK, Alexander Marwata Kenang Kinerja Dias

Kamis, 30 Juli 2026 | 11:52

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

Kasus OTT Pemalang: Anggota Polri yang Bertugas di KPK Jadi Tersangka

Kamis, 30 Juli 2026 | 10:29

Wewenang Ditjen Bea Cukai Sudah Melampaui Namanya

Minggu, 02 Agustus 2026 | 02:12

UPDATE

Polri Didesak Usut Donatur Penyebar Hoaks Kerusuhan Agustus

Minggu, 09 Agustus 2026 | 17:47

Zelensky Klaim 50 Ribu Tentara Korut Sedang Dalam Perjalanan ke Rusia

Minggu, 09 Agustus 2026 | 17:24

Ekonomi Indonesia Mustahil Saingi Vietnam jika Abaikan Sektor Luar Negeri

Minggu, 09 Agustus 2026 | 17:23

Rezim Hubungan Industrial Maritim Indonesia Belum Terintegrasi

Minggu, 09 Agustus 2026 | 17:14

KPK Kuliti Ahmad Dedi Usut Dugaan Pengaturan Jalur Merah-Hijau Impor Blueray

Minggu, 09 Agustus 2026 | 16:51

Iran Waspadai Pakta Pertahanan Mekkah Bentukan Turki, Saudi, dan Pakistan

Minggu, 09 Agustus 2026 | 16:29

Kejari Tanjung Perak Bantah Isu Pemerasan 6 Eks Pejabat Pelindo dan APBS

Minggu, 09 Agustus 2026 | 15:36

Penguatan Kopdes Merah Putih Kunci Kemandirian Ekonomi Papua

Minggu, 09 Agustus 2026 | 15:08

Turki Tegaskan Pakta Pertahanan Mekkah Dibentuk Bukan untuk Hadapi Iran

Minggu, 09 Agustus 2026 | 14:53

Usai Putusan MK, Siaga 98 Dorong Penataan BGN Lewat Perpres Baru

Minggu, 09 Agustus 2026 | 14:36

Selengkapnya