Berita

Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito/Ist

Kesehatan

Tiga Jenis Pemeriksaan Covid-19 Yang Dipakai Di Indonesia

SELASA, 05 MEI 2020 | 13:18 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Upaya melacak keberadaan orang yang terinfeksi virus corona baru atau Covid-19 di Indonesia bisa dilakukan dengan tiga jenis pemeriksaan.

"Tesnya ini memang ada beberapa jenis. Mungkin selama ini yang diketahui itu ada tiga," ucap Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito dalam jumpa pers virtual di Gedung Graha BNPB, Matraman, Jakarta Timur, Selasa (5/5).

Jenis pemeriksaan pertama adalah RT-PCR atau Real Time Polymerase Chain Reaction, yakni sistem yang terbuka dan memiliki sensitivitas dan spesifisitas cukup tinggi sekitar 95%. Oleh karenanya pemeriksaan ini disebut gold standard.


"Dan RT-PCR inilah yang dipakai di seluruh dunia untuk memastikan apabila sampel berupa swabnya diambil dari hidung atau tenggorokan, itu bisa dites dan menunjukkan positif atau negatif terhadap virus Sars-Cov-2 ini," terang Wiku Adisasmito.

"Makanya tes ini memerlukan reagen dan sampel. Tes bisa dilakukan dengan relatif cepat, beberapa jam sudah bisa ketemu hasilnya," sambungnya.

Tes kedua disebut sistem tertutup atau close system. Wiku mengatakan, sistem ini dinamakan Tes Cepat Molekuler atau TCM. Pemeriksaan dengan metode ini hampir sama sensitivitas dan spesifisitasnya dengan RT-PCR, yakni sekitar 95%.

Menariknya, untuk alat tes TCM ini sudah banyak dimiliki negara. Karena alat ini mulanya digunakan untuk mendeteksi sejumlah penyakit. Namun jika ingin digunakan untuk memeriksa Covid-19, harus ada perangkat keras yang dimodifikasi agar bisa mendeteksi keberadaan virus.

"Dulunya dipakai untuk mengetes penyakit-penyakit lain. Misalnya tuberkulosis, HIV. Alat ini bisa diganti alat tesnya berupa kaset atau cartridge, yang khusus untuk Covid-19. Dan kalau ini dipakai, maka hasilnya lebih cepat keluarnya, dan sangat spesifik dan sensitif," ungkap Wiku Adisasmito.

"Alat ini sebenarnya dimiliki oleh pemerintah Indonesia, tersebar di banyak tempat. Cuma masalahnya, cartridge atau kasetnya itu kesulitan mendapatkannya karena persaingan di dunia perlu itu," tambahnya.

Adapun untuk jenis pemeriksaan ketiga adalah rapid test atau Rapid Diagnostic Test (RDT) yang memiliki dua jenis, yaitu RDT yang mendeteksi virus lewat antibodi, dan RDT yang mendeteksi virus melalui antigen.  

RDT antigen sangat sedikit jumlahnya di dunia, sehingga banyak negara termasuk Indonesia hanya bisa menggunakan RDT antobodi. Pemeriksaan dengan metode ini bisa cepat, namun memiliki kelemahan, yakni sensitivitas dan spesifisitasnya tidak tinggi, hanya sekitar 60-80%.

Kelemahan tersebut karena diagnosis rapid test bersumber dari darah untuk mengetahui kadar antibodi yang muncul untuk melawan Covid-19.

"Biasanya antibodi itu muncul setelah orang tersebut terpapar, terinfeksi dan mulai tubuhnya melawan. Cara bentuk melawannya biasanya yang bisa dilihat secara luar adalah mulai timbul gejala, batuk demam dan lain-lain. Di situlah letaknya rapid test ini bisa mendeteksi antibodinya," tutur Wiku Adisasmito.

"Sehingga akibatnya kalau tidak spesifik bisa saja sensitif menemukan sesuatu yang positif, tetapi setelah dites dengan yang gold standard tadi itu RT-PCR, bisa saja hasilnya lain," pungkasnya.

Populer

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Jokowi Masih Berperilaku seperti Penguasa RI

Senin, 10 Agustus 2026 | 03:00

UPDATE

Prabowonomics dalam Desain APBN 2027

Kamis, 20 Agustus 2026 | 04:17

BRI KKB National Expo 2026 Hadir di 131 Lokasi dan Torehkan Rekor MURI

Kamis, 20 Agustus 2026 | 03:48

Sikap Amien Rais Makin Plinplan dan Mirip Sengkuni

Kamis, 20 Agustus 2026 | 03:14

PBB Dorong PT Timah Serap Hasil Timah Masyarakat Bangka Belitung

Kamis, 20 Agustus 2026 | 02:45

Truk Karnaval Kementerian PU Hadirkan Pesan Gotong Royong dan Kerja Nyata

Kamis, 20 Agustus 2026 | 02:16

Pernyataan Agus Burate soal 5 WN China di Tambang Emas Dibantah Keluarga

Kamis, 20 Agustus 2026 | 01:42

Jalan Harmoni, Potret Toleransi di Jantung George Town

Kamis, 20 Agustus 2026 | 01:37

Sindikat Meterai Palsu yang Bikin Negara Boncos Rp1 Triliun Dibongkar Polisi

Kamis, 20 Agustus 2026 | 01:21

Komisi V DPR Usul Kapal Penumpang dan Pengangkut Barang Dipisah

Kamis, 20 Agustus 2026 | 00:59

Jampidsus Diminta Terbitkan Sprindik Baru Kasus Jiwasraya dan Asabri

Kamis, 20 Agustus 2026 | 00:35

Selengkapnya