Berita

Donald Trump/Net

Dunia

Di Balik Kontroversi Trump, Ada Partai Republik Yang Ketar-ketir Ketakutan Kalah Pemilu

RABU, 29 APRIL 2020 | 09:46 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Di balik penanganan Covid-19 oleh pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang penuh kontroversi, ada Partai Republik yang dipenuhi kegalauan.

Tingginya jumlah infeksi dan korban jiwa akibat Covid-19 di Amerika memicu kritikan pada pemerintahan Trump yang dianggap kacau dan tidak kompeten menangani krisis. Itu juga diperburuk dengan gaya komunikasi Trump yang memicu banyak kontroversi.

Bayangkan, apa kira-kira yang dirasakan dan dipikirkan oleh Partai Republik ketika Trump dengan santainya mempertimbangkan metode injeksi disinfektan untuk mengobati pasien Covid-19?


"Itu bisa menjatuhkan mereka," tulis Paul Waldman dalam atikel bertajuk "Republicans’ new fear: Trump will drag them down with him" yang diunggah di The Washington Post, Selasa (28/4).

Seperti yang ditulis oleh Waldman, baik buruknya penanganan Covid-19 oleh Trump menjadi penentu "hidup dan mati" Partai Republik. Mengingat beberapa bulan lagi, Amerika Serikat akan melakukan pemilihan presiden 2020.

Namun untungnya, sejak ada insiden "disinfektan", Trump mulai luluh. Ia mulai mendengarkan para pembantunya di Gedung Putih untuk tidak berbicara kepada publik mengenai impllikasi kesehatan dan media yang tidak ia kuasai.

Bagaimana tidak, sejak insiden tersebut, berbagai kritikan tajam tertuju pada pemilik Trump Tower tersebut. Itu tidak hanya bisa menjatuhkan Trump, tapi juga partainya.

Jika diperhatikan, Waldman mengatakan, saat ini beberapa anggota Partai Republik terlihat sudah mulai perlahan mundur, menjauhi Trump.

"Dan bau kegagalannya," lanjutnya.

Bahkan baru-baru ini, Waldman mengungkapkan, Komite Senior Republik Nasional cabang Partai Republik yang bertanggung jawab untuk pemilihan anggota Senat, mengedarkan memo kepada para kandidatnya.

Isinya: "Jangan membela Trump, selain untuk China Travel Ban, serang China."

Menurut Politico, tim kampanye Trump yang geram mengatakan, bahwa setiap kandidat Partai Republik yang mengikuti saran memo tersebut tidak akan mendapat dukungan aktif.

Pada akhirnya, Trump sendiri telah membuat partai pecah. Beberapa anggota mulai terlihat blak-blakan mengkritisi Trump, sementara yang lainnya diam membisu.

Memikirkan Trump saja mungkin sudah membuat pusing kepala para anggota Partai Republik, namun beban pemilihan yang semakin dekat memicu tekanan baru.

"Bahkan beberapa Republikan mengakui bahwa membela Trump adalah strategi kekalahan," tulis Waldman.

Waldman mengatakan, Republik sudah kurang percaya diri. Karena setelah pandemi usai pun, Amerika harus menghadapi dampak angka kematian dan ekonomi yang tertekan.

"Bahkan jika kesehatan masyarakat dan situasi ekonomi membaik pada saat itu, kegagalan Trump mungkin hanya lebih jelas, tidak peduli berapa kali dia mengatakan dia telah melakukan pekerjaan yang luar biasa," tambahnya.

Kekalahan yang sudah di depan mata juga diperjelas dengan meningkatnya dukungan terhadap Demokrat di basis-basis Repulik, seperti Colorado, Arizona, dan Carolina Utara.

Jika menilik lebih jauh, Republik seakan jatuh ke lubang yang sama. Situasi seperti ini pernah dialami ketika George W. Bush berkuasa. Di mana di akhir masa kepresidenannya, Bush baru menyadari bahwa ia sendirian, ditinggal oleh partainya sendiri.

Perang Irak dan berbagai persoalan yang dibuat oleh Bush membuat Republik mundur.

Ketika kehancuran ekonomi 2008 terjadi, semua orang menyalahkan Bush. Republik angkat tangan, mengklaim itu bukan kesalahannya.

"Tahun itu Demokrat tidak hanya merebut Gedung Putih tetapi juga memenangkan setiap pemilihan Senat yang dekat dan meningkatkan margin mereka di DPR juga," jelas Waldman.

Mungkin pada 2016, Republik tidak punya pilihan lain selain mengambil risiko. Mungkin Trump dianggapnya tidak akan bisa lebih buruk dari Bush.

Tapi dengan kenyataan saat ini, ketika pemilihan hanya 6 bulan lagi, ketakutan Republik kembali nyata.

"Dan hampir tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk itu," tutup Waldman.

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Prabowo Diminta Tindak Tegas Kelompok yang Masih Persoalkan Hasil Pilpres 2024

Selasa, 22 September 2026 | 23:16

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Jadi Menperin, Sarmuji Tegaskan akan Lanjutkan Rintisan Agus Gumiwang

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:23

Mengenang Warisan Luhur Pesona Batik Tulungagung di Hari Batik Nasional

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:16

Ketua KPK Ucapkan Selamat kepada Kapolri Jenderal Suyudi, Dorong Sinergi Pemberantasan Korupsi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

MUI: Jangan Sampai Konser “Till The Whole World Knows” Jadi Sarana Propaganda Zionisme

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

BEI Awasi Pergerakan Tiga Saham yang Masuk Radar UMA

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:49

KPK Ungkap Besaran Uang Silmy Karim ke Dosen UB Saat Bimbingan Doktoral

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Garuda Tantang Gajah Perang di Final FIFA ASEAN Cup 2026

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Emas Antam Mulai Turun Hari Ini, Intip Daftar Lengkapnya

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:14

Dua Tahun Danantara, Efisiensi BUMN Digenjot untuk Kejar Pertumbuhan

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:02

Harga Minyak Naik Lagi ke Level 102 Dolar AS

Jumat, 02 Oktober 2026 | 10:59

Selengkapnya