Berita

Ir Sutami/Ist

Jaya Suprana

Menteri Termiskin

SELASA, 28 APRIL 2020 | 19:08 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

KETIKA sedang takjub menyaksikan ada beberapa (tidak semua) pihak yang tega menyalahgunakan jabatan dan kekuasaan untuk mengeruk harta benda bagi diri sendiri pada masa rakyat sedang menderita pagebluk Corona, saya memperoleh kiriman sebuah  naskah dari mahaguru  kearifan Jawa saya, mas Darminto M. Sudarmo alias mas Odios. Ia berkisah tentang Menteri termiskin sepanjang sejarah Republik Indonesia.

Menteri Pekerjaan Umum

Delapan kali dilantik jadi menteri tetapi hidupnya tetap saja miskin. Nama aslinya Ir. Sutami adalah  Menteri Pekerjaan Umum yang menjabat selama 4 x sejak tahun 1965 sampai dengan 1978.  Mengabdi pada Kabinet Dwikora l Era Presiden Soekarno dan masih ditugaskan di bawah pimpinan Presiden Soeharto di Kabinet Pembangunan II .


Sutami selama menjadi Menteri, memimpin berbagai mega proyek, meski  demikian pria kelahiran Surakarta, Jawa Tengah 19 Oktober 1928 itu tidak lantas memanfaatkan jabatan dan kekuasaan untuk korupsi dan memperkaya diri.

Di bawah pengawasannya, proyek raksasa  seperti: Gedung DPR, Jembatan Semanggi, Waduk Jatiluhur, Bandara Ngurah Rai, Jembatan  Musi, Palembang. Semua karyanya hingga kini masih berdiri kokoh.

Sutami adalah menteri yang termiskin di Indonesia mungkin  sampai hari kiamat nanti, karena Sutami adalah manusia  yang langka karena jujur dan amanah.

Sederhana

Jika hari lebaran tiba, para tamu pun bersilaturahmi. Namun betapa terkejutnya mereka saat menginjakkan kaki di rumah Menteri Sutami. Bukan kemewahan yang ada, namun rumah sederhana yang atapnya bocor di mana-mana. 

Bahkan suatu ketika Perusahaan Listrik Negara (PLN) mencabut listrik di rumahnya karena Sutami telat bayar listrik. Sebenarnya sebagai pejabat negara yang menangani proyek-proyek besar, Menteri Sutami bisa saja hidup bergelimang kemewahan.

Contohnya banyak menteri dan Gubernur sekarang ini semuanya memiliki rumah mewah, mobil mewah dari hasil di luar gaji karena mereka tidak  memiliki sifat jujur di hatinya.

Sosok Sutami ini sangat pendiam dan sederhana.  Rumahnya beralamat di Jalan Imam Bonjol, beliau membeli rumah secara mencicil dan baru lunas menjelang  pensiun. Tak pernah ia menggunakan fasilitas negara di luar pekerjaannya.

Saat pensiun, semua ia kembalikan, termasuk mobil dinasnya. Seorang pengusaha pernah ingin memberinya mobil  karena tahu mobil dinas Sutami akan dikembalikan. Namun sang Menteri menolak dengan halus.

Tidak Punya Udel

Sebagai insinyur sipil lulusan Institut Teknologi Bandung, ia sangat menyukai pekerjaan lapangan. Wartawan kerap memanggilnya  'Menteri tidak punya udel'.  Sutami mampu jalan kaki puluhan  kilometer untuk meninjau daerah terpencil.

Jika ada ojek, ia naik. Jika tidak ada, maka menteri sederhana ini akan berjalan kaki hingga bertemu masyarakat sekitar. Dialah satu satunya menteri sepanjang zaman sebagai orang yang paling terjujur dan  mengerti tentang Akhirat.

Saking terlalu rajin berkerja dia sampai tidak memikirkan diri sendiri. Hingga kemudian dia jatuh sakit dan  kekurangan gizi.  Namun Sutami tak mau ke rumah sakit, dia takut diketahui bahwa Menteri yang bersahaja itu tidak punya uang untuk membayar rumah sakit.

Baru setelah Pemerintah turun tangan, Sutami mau diopname,  Namun semua itu terlambat, Sutami meninggal dunia di Jakarta 13 November 1980 pada usia 52 Tahun.

Hidup Bersih

Meski  jasanya banyak untuk Bangsa Indonesia, Sutami sempat mengungkapkan bahwa dia tidak mau   dimakamkan di Makam Pahlawan Kalibata, Akhirnya Sutami di makamkan di Tanah Kusir, Jakarta Selatan,  kemudian namanya diabadikan menjadi nama sebuah waduk di  Kabupaten Malang, yakni Waduk Ir.Sutami.

Indonesia saat ini membutuhkan lebih banyak sosok  Menteri seperti Sutami sebagai Menteri yang berprestasi dan rela hidup merakyat. Menteri yang  menghindar dari kehidupan duniawi yang melenakan dan memilih  hidup bersih hingga akhir hayatnya.

Hingga kini namanya tetap harum dan akan selalu dikenang  oleh bangsa Indonesia yang merindukan sosok pemimpin hebat dan sederhana seperti beliau.

Terima Kasih, Pak Sutami!

Penulis adalah pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan


Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

KPK Amankan Dokumen dan BBE saat Geledah Kantor Dinas Perkim Pemkot Madiun

Rabu, 28 Januari 2026 | 11:15

UPDATE

Peristiwa Anak Bunuh Diri di NTT Coreng Citra Indonesia

Selasa, 03 Februari 2026 | 05:38

SPPG Purwosari Bantah Kematian Siswi SMAN 2 Kudus Akibat MBG

Selasa, 03 Februari 2026 | 05:20

Perdagangan Lesu, IPC TPK Palembang Tetap Tunjukkan Kinerja Positif

Selasa, 03 Februari 2026 | 04:59

Masalah Haji yang Tak Kunjung Usai

Selasa, 03 Februari 2026 | 04:42

Kilang Balongan Perkuat Keandalan dan Layanan Energi di Jawa Barat

Selasa, 03 Februari 2026 | 04:21

Kemenhub: KPLP Garda Terdepan Ketertiban Perairan Indonesia

Selasa, 03 Februari 2026 | 03:59

BMM dan Masjid Istiqlal Luncurkan Program Wakaf Al-Qur’an Isyarat

Selasa, 03 Februari 2026 | 03:40

Siswa SD Bunuh Diri Akibat Pemerintah Gagal Jamin Keadilan Sosial

Selasa, 03 Februari 2026 | 03:13

Menguak Selisih Kerugian Negara di Kasus Tata Kelola BBM

Selasa, 03 Februari 2026 | 02:59

Rencana Latihan AL Iran, China dan Rusia Banjir Dukungan Warganet RI

Selasa, 03 Februari 2026 | 02:40

Selengkapnya