Berita

Ubedilah Badrun/Net

Politik

Jakarta Sudah Terlambat, Ini Karena Ulah Pemerintah Pusat Yang Anti Sains Dan Arogan

SABTU, 18 APRIL 2020 | 08:38 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di DKI Jakarta dianggap terlambat karena lamanya persetujuan dan pemerintah pusat. Dan sangat disayangkan, kebijakan karantina wilayah tidak diambil dalam menghadapi pandemik Covid-19.

Pusat diharapkan melakukan PSBB dan karantina wilayah di daerah lain yang masih minim terjangkit virus corona baru.

Demikian disampaikan oleh Direktur Eksekutif Center for Social Political Economic and Law Studies (CESPELS), Ubedilah Badrun saat diskusi streaming bersama peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira, Jumat (17/4).


Menurut Ubedilah, penerapan PSBB di Jakarta seharusnya dibarengi dengan kebijakan karantina wilayah sejak 30 hari lalu.

"Saya mau katakan sudah terlambat, jadi jika karantina wilayah di Jakarta sekarang dilakukan itu sudah terlambat. Karena virus itu sudah menyebar sudah kemana-kemana," ucap Ubedilah Badrun.

Akibatnya, lanjut Ubedilah, hanya dengan kebijakan PSBB tanpa karantina wilayah mengakibatkan jumlah korban semakin banyak. Padahal, para pakar dari kalangan medis maupun akademisi sudah mendesak pemerintah pusat untuk segera karantina wilayah.

"PSBB di Indonesia ini di Jakarta misalnya itu sebetulnya sudah terlambat, jadi apa yang terjadi kebijakan rezim hari ini sebetulnya adalah produk dari cara-cara yang anti intelektualisme, anti sains dan arogan terhadap respons dari para ilmuwan yang mengakibatkan sekarang situasinya menjadi terlanjur menyebar," tegas Ubedilah.

Dengan demikian, pemerintah pusat agar dapat mengambil pelajaran di DKI Jakarta yang kini semakin terus bertambah korban Covid-19 akibat tidak tegasnya pemerintah pusat dalam mengambil keputusan.

"Karantina wilayah bisa dilakukan di daerah-daerah baru. Misalnya di Jawa Timur atau di Jawa Tengah yang jumlah korbannya baru sedikit itu segera dikarantina wilayah agar Jawa Timur itu tidak sebanyak korban di Jakarta," demikian Ubedilah.

Populer

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

UPDATE

BPOM Terbitkan Aturan Baru untuk Penjualan Obat di Minimarket

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:01

Jaksa KPK Endus Ada Makelar Kasus dalam Kasus Bea Cukai

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:59

Kapolri Dianugerahi Tanda Kehormatan Adhi Bhakti Senapati

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:50

Komisi XIII DPR Desak LPSK Lindungi Korban Kasus Ponpes Pati

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:39

Pengembangan Koperasi di Luar Kopdes Tetap jadi Prioritas

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:20

AS Galang Dukungan PBB untuk Tekan Iran di Selat Hormuz

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:19

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Komdigi Lakukan Blunder Kuadrat soal Video Amien Rais

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:06

Menteri PU: Pejabat Eselon I Diisi Putra dan Putri Terbaik

Rabu, 06 Mei 2026 | 16:58

RI Jangan Lengah Meski Konflik Timur Tengah Mereda

Rabu, 06 Mei 2026 | 16:45

Selengkapnya