Berita

Menteri Koordinator Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan (LBP)/Net

Politik

Gaya Komunikasi Luhut Hanya Menyuburkan Citra Buruk Presiden Jokowi

KAMIS, 16 APRIL 2020 | 07:37 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Menteri Koordinator Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan (LBP) merupakan sosok yang memiliki dua kekuatan besar, yakni oligarki politik dan ekonomi. Kedua kekuatan itu sangat dominan mengendalikan kebijakan Presiden Joko Widodo.

Begitu urai Direktur Eksekutif Center for Social Political Economic and Law Studies (Cespels), Ubedilah Badrun setelah melihat banyaknya kebijakan Luhut yang menimbulkan konflik dan pergunjingan di tengah masyarakat.

"Karena kuatnya posisi LBP, maka LBP merasa bebas bicara apapun, termasuk mendatangkan turis di tengah pandemik Covid-19," ujarnya kepada Kantor Berita Politik RMOL, Kamis (16/4).


Analis sosial politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini pun menilai bahwa gaya komunikasi yang digunakan LBP adalah controlling style yang dipengaruhi budaya militer. Gaya komunikasi model ini lebih memusatkan perhatian kepada pengiriman pesan dibanding upaya untuk berbagi pesan secara egaliter.

Seseorang yang menggunakan gaya komunikasi controlling style, kata Ubedilah, tidak memiliki rasa ketertarikan dan perhatian pada umpan balik atau feedback.

"Kecuali jika umpan balik atau feedback tersebut digunakan untuk kepentingan pribadinya atau menguntungkan dirinya. Itulah LBP jika dibedah gaya komunikasinya," ungkap Ubedilah.

Padahal, kata Ubedilah, cara komunikasi seperti itu berisiko dalam situasi negara yang hampir semua orang sedang tidak nyaman dan khawatir dengan Covid-19.

"Secara sosiologis politik akan muncul pandangan publik bahwa pemerintah tidak peduli pada nyawa rakyat. Dan karenanya citra buruk pada presiden terus bertambah," kata Ubedilah.

"Jadi gaya seperti LBP ini hanya menyuburkan citra buruk publik pada Presiden. Selain itu secara sosiologis kultural itu juga tidak pantas dilontarkan oleh seorang Menko di tengah penderitaan rakyat akibat Covid-19," sambung Ubedilah.

Populer

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

UPDATE

BPOM Terbitkan Aturan Baru untuk Penjualan Obat di Minimarket

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:01

Jaksa KPK Endus Ada Makelar Kasus dalam Kasus Bea Cukai

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:59

Kapolri Dianugerahi Tanda Kehormatan Adhi Bhakti Senapati

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:50

Komisi XIII DPR Desak LPSK Lindungi Korban Kasus Ponpes Pati

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:39

Pengembangan Koperasi di Luar Kopdes Tetap jadi Prioritas

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:20

AS Galang Dukungan PBB untuk Tekan Iran di Selat Hormuz

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:19

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Komdigi Lakukan Blunder Kuadrat soal Video Amien Rais

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:06

Menteri PU: Pejabat Eselon I Diisi Putra dan Putri Terbaik

Rabu, 06 Mei 2026 | 16:58

RI Jangan Lengah Meski Konflik Timur Tengah Mereda

Rabu, 06 Mei 2026 | 16:45

Selengkapnya