Berita

Papan sosialisasi penanganan Covid-19 di Vietnam/Net

Dunia

Belajar Dari SARS, Vietnam Sigap Bunyikan Alarm Bahaya Dan Sukses "Nol Kematian" Corona

SELASA, 14 APRIL 2020 | 15:42 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Vietnam menjadi negara yang tidak terbayangkan berhasil menghindari kehancuran akibat wabah virus corona baru. Padahal kehancuran itu terjadi di negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Eropa.

Berhasil menekan angka infeksi di tiga digit, respons Vietnam dalam menangani krisis pun dipuji oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Berdasarkan statistik yang dikutip dari SCMP, saat ini ada lebih dari 75.000 orang berada dalam karantina di Vietnam. Sementara pengujian telah dilakukan pada lebih dari 121.000 orang dengan 260 kasus yang dikonfirmasi.


Hal yang lebih mengejutkan, Vietnam belum mencatatkan angka kematian akibat Covid-19. Tingkat infeksinya pun jauh lebih rendah daripada Korea Selatan, Singapura, dan Taiwan. Di mana ketiganya adalah negara-negara yang dipuji karena berhasil mengontrol pandemik.

Dikatakan oleh perwakilan WHO untuk Vietnam, Kidong Park, kemampuan respons awal Vietnam dalam menangani krisis adalah kunci yang sangat penting.

"Vietnam merespons wabah ini secara dini dan proaktif. Latihan penilaian risiko pertama dilakukan pada awal januari, segera setelah kasus-kasus di China mulai dilaporkan," ujar Park.

Sebagai negara yang dekat dengan China, Vietnam dengan cepat membunyikan alarm bahaya. Ia membentuk Komite Pengarah Nasional untuk Pencegahan dan Kontrol Covid-19 langsung di bawah naungan wakil perdana menteri. Komite tersebut pun langsung mengimplementasikan rencana respons nasional.

Vietnam tidak segera mematikan alarmnya meski angka kasus di sana terbilang kecil. Langkah lebih lanjut dilakukan, penguncian nasional diberlakukan pada 1 April. Itu adalah lebih cepat dibandingkan Inggris atau Italia yang pada saaat itu sudah memiliki ribuan kasus.

Keberhasilan Vietnam untuk mengontrol wabah dianggap sebagai bentuk kesatuan sosial. Setidaknya itu gambaran dari Perdana Menteri Nguyen Xuan Phuc. Di mana ia mengatakan serangan virus corona baru seperti serangan di musim semi. Itu merujuk pada Serangan Tet 1968 yang dilakukan oleh Viet Cong selama Perang Vietnam.

Hal serupa juga dikatakan oleh seorang ekonom di Hanoi, Nguyen Van Trang. Ia mengatakan, bahkan orangtuanya belum pernah melihat tingkat kepatuhan, disiplin, dan solidaritas seperti warga Vietnam saat ini sejak perang.

Mulai Januari, semua sekolah di Vietnam ditutup. Mulai 16 Maret, karantina massal diberlakukan, di mana puluhan ribu orang dari negara-negara terinfeksi dimasukkan ke dalam karantina wajib di kamp-kamp militer. Mulai 25 Maret, penerbangan internasional dihentikan total.

Hingga saat ini pun, dengan kasus yang sedikit, Vietnam tidak melonggarkan satu centi pun pembatasan tersebut. Sebagian besar penerbangan domestik, kereta api dan bus telah dihentikan. Siapa pun yang meninggalkan Hanoi, sebagai pusat penyebaran virus, harus dikarantina.

Mantan Direktur Departemen Kedokteran Pencegahan di Kementerian Kesehatan Vietnam, Nguyen Huy Nga menjelaskan bagaimana Vietnam bisa berhasil dalam menangani wabah.

"Vietnam belum menderita penyebaran komunitas yang kuat sejauh ini, sehingga lansia yang terinfeksi hanya sedikit," katanya.

“Pasien kami sedikit sehingga kami memiliki semua fasilitas, obat-obatan dan dokter untuk merawat mereka. Selain itu, kami memiliki pengalaman dalam mengembangkan pengobatan penyakit,” tambahnya, merujuk pada pengalaman Vietnam saat dihantam wabah SARS pada 2003.

Ya. Vietnam adalah negara pertama di luar China yang dikonfirmasi terpapar wabah SARS. Namun, Vietnam juga menjadi negara pertama yang dilaporkan WHO berhasil mengatasi wabah tersebut.

Dengan pengalaman SARS, Vietnam melakukan prosedur pelacakan kontak berlapis yang efektif.

"Lapisan pertama adalah isolasi dan perawatan di rumah sakit orang yang dikonfirmasi memiliki virus atau orang-orang dengan gejala yang diduga memiliki virus," kata Park.

Artinya, siapa pun yang telah melakukan kontak langsung dengan kasus yang dikonfirmasi menghadapi karantina wajib. Ukuran ini bahkan meluas ke kontak mereka, yang kemudian juga diperlukan isolasi sendiri. Pada lapisan terakhir, komunitas, jalan-jalan atau bangunan di mana kasus-kasus telah dikonfirmasi juga dikarantina.

Kendati begitu, Vietnam juga kerap dikritik karena tanggapan akan krisisnya yang sangat ketat. Misalnya saja mereka yang ditemukan tidak mengenakan masker bisa menghadapi hukuman penjara hingga 12 tahun.

Buktinya, pada 10 Maret, seorang pria Vietnam dijatuhi hukuman sembilan bulan penjara karena secara agresif menolak mengenakan masker.

Namun, ketatnya aturan tersebut membuat Vietnam muncul menjadi negara yang berhasil mengontrol wabah. Walaupun masih harus dilihat apakah Vietnam atau negara-negara lain dengan tanggapan serupa mampu menahan penyebaran virus dalam jangka panjang.

"Kami tidak dapat membuat prediksi, tetapi kami dapat mengatakan bahwa perjalanan pandemik akan ditentukan oleh tindakan yang diambil oleh negara-negara, termasuk Vietnam, sekarang," kata Park.

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Prabowo Diminta Tindak Tegas Kelompok yang Masih Persoalkan Hasil Pilpres 2024

Selasa, 22 September 2026 | 23:16

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Jadi Menperin, Sarmuji Tegaskan akan Lanjutkan Rintisan Agus Gumiwang

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:23

Mengenang Warisan Luhur Pesona Batik Tulungagung di Hari Batik Nasional

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:16

Ketua KPK Ucapkan Selamat kepada Kapolri Jenderal Suyudi, Dorong Sinergi Pemberantasan Korupsi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

MUI: Jangan Sampai Konser “Till The Whole World Knows” Jadi Sarana Propaganda Zionisme

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

BEI Awasi Pergerakan Tiga Saham yang Masuk Radar UMA

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:49

KPK Ungkap Besaran Uang Silmy Karim ke Dosen UB Saat Bimbingan Doktoral

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Garuda Tantang Gajah Perang di Final FIFA ASEAN Cup 2026

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Emas Antam Mulai Turun Hari Ini, Intip Daftar Lengkapnya

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:14

Dua Tahun Danantara, Efisiensi BUMN Digenjot untuk Kejar Pertumbuhan

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:02

Harga Minyak Naik Lagi ke Level 102 Dolar AS

Jumat, 02 Oktober 2026 | 10:59

Selengkapnya