Berita

Muhammadiyah/Net

Muhammad Najib

Mengapa Muhammadiyah Bisa Terus Maju?

SENIN, 13 APRIL 2020 | 11:47 WIB | OLEH: DR. MUHAMMAD NAJIB

MITSUO Nakamura seorang ilmuwan Jepang yang melakukan penelitian tentang Muhammadiyah untuk keperluan studi doktornya pada awal tahun 1970-an, sampai sekarang masih terkagum-kagum dan penasaran, bagaimana organisasi ini terus berkembang dan semakin besar, sehingga bukan mustahil menjadi organisasi Islam dengan amal-usaha dan aktivitas terbesar di dunia.

Setiap kali Muktamar Muhammadiyah, Nakamura dan istrinya selalu menyempatkan hadir. Saya sempat bertemu beberapa kali, baik terkait dengan kegiatan Muhammadiyah maupun konferensi bersekala internasional. Bahasa Indonesianya bagus sekali, begitu juga Bahasa Inggrisnya.

Padahal kebanyakan ilmuwan Jepang sulit sekali berbahasa Inggris. Penampilannya sangat bersahaja dan kalau berbicara sangat santun dan terukur. Walau usianya sudah tidak muda lagi, Nakamura ternyata masih terus mengikuti perkembangan Muhammadiyah.


Bagi kader Muhammadiyah cerita tentang bagaimana K.H. Ahmad Dahlan ketika mengajarkan Surah Al-Maun kepada murid-muridnya, yang terus diulang-ulang sampai menimbulkan protes dari salah seorang santrinya.

Bagi Ahmad Dahlan, bisa membaca, mengerti artinya, dan hafal surahnya, tidaklah cukup, sebelum bermuara pada tindakan atau aksi. Demikianlah kira-kira pesan yang ingin disampaikan melalui cerita di atas.

Buya Hamka salah seorang kader Muhammadiyah pernah menulis sebuah buku dengan judul: Tasawuf Modern, yang bila dikaji isinya tidak lain dari berzikir di tengah keramaian melalui kegiatan yang memberi manfaat bagi orang lain.

Tampaknya Hamka sangat terpengaruh dengan Hadits Nabi yang berbunyi: "Sebaik-baik manusia adalah mereka yang memberi manfaat bagi manusia/kemanusiaan". Hadist ini memiliki ruh yang sama dengan Surah Al-Maun.

Buya Hamka tampaknya sengaja memilih istilah "Tasawuf" yang akrab bagi kelompok sufi yang cendrung memilih uzlah (menyepi) atau menjauhkan diri dari keramaian, sebagai upaya untuk mendekatkan diri pada sang Khalik sekaligus sebagai upaya untuk membersihkan jiwa.

Hamka juga tampaknya berusaha melakukan rekonstruksi secara fundamental pemahaman dan praktik keagamaan, sebagai bagian dari pengejawantahan semangat tajdid yang dilakukan Muhammadiyah.

Hal inilah yang saya kira menjadi salah satu rahasia mengapa para aktivis Muhammadiyah lebih sibuk mengurusi sekolah, rumah sakit, panti asuhan, korban bencana, dan aktivitas kemanusian/sosial ketimbang berdebat masalah fiqih.

Meskipun sejumlah tokoh Muhammadiyah menggelorakan tajdid sebagai bagian dari upaya pemurnian dengan slogan kembali pada Al Qur'an dan Sunnah, akan tetapi hal itu lebih sebagai konsumsi elite dalam forum terbatas.

Inilah barangkali juga rahasia mengapa banyak organisasi Islam lain yang memiliki yang juga memiliki semangat tajdid, akan tetapi sulit mengikuti jejak Muhammadiyah.

Persis misalnya, para tokohnya menghabiskan energinya untuk kepentingan purifikasi ajaran. Al-Irshad lebih parah lagi, karena masuknya paham Salafi dari Saudi Arabia, kemudian menimbulkan perdebatan internal tidak berkesudahan, bahkan bermuara pada perpecahan.

Ormas-ormas Islam lain sealiran mengalami hal yang serupa, tentu dengan kadar yang berbeda.

Hal lain yang perlu dipahami oleh pengamat sosial terkait dengan semangat tajdid (dalam aspek pemurnian ajaran) dalam Muhammadiyah adalah sikapnya yang sangat akomodatif terhadap kearifan lokal.

Tradisi Muhammadiyah adalah memilah dan memilih, jadi tidak semua nilai atau budaya yang ada di masyarakat harus dibuang. Ibarat taman, mana bunga yang layak dipertahankan dan mana ilalang atau benalu yang harus dibuang.

Akan tetapi ke depan, semangat di atas saja tidaklah cukup. Perkembangan sain dan teknologi yang mengubah pola hidup masyarakat baik dalam kehidupan ekonomi maupun sosial perlu mendapatkan perhatian.

Perguruan Tinggi milik Muhammadiyah harus dijadikan pusat-pusat riset baik bidang sain dan teknologi maupun sosial, disamping keagamaan. Dengan demikian Muhammadiyah akan memiliki kompas yang akurat dalam menapaki jalannya kedepan.

Dalam bidang sain, teknologi, dan industri sebenarnya ICMI sudah memulainya. Sayangnya organisasi yang dirintis B.J. Habibie ini tidak memiliki fondasi yang kokoh. Ia lebih bertumpu pada kekuasaan, karena itu ketika kekuasaan lepas dari tangannya, ICMI sulit meneruskan visi dan misinya.

Kini Muhammadiyah menggelorakan semangat Islam berkemajuan, semoga gagasan yang ada dalam tulisan singkat ini dapat memperkaya. Wallahua'lam.

Penulis adalah pengamat politik Islam dan demokrasi.

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

UPDATE

Adab di Atas Selebrasi

Selasa, 16 Juni 2026 | 04:12

Belgia vs Mesir Berbagi Skor 1-1

Selasa, 16 Juni 2026 | 04:10

Pidato Bernuansa Sindiran Berpotensi Memicu Reaksi Balik Publik

Selasa, 16 Juni 2026 | 03:39

Membongkar Skandal #SellIndonesia, Hebatnya Rupiah Menguat

Selasa, 16 Juni 2026 | 03:19

Edura School Jawab Tantangan Guru di Era Digital

Selasa, 16 Juni 2026 | 03:03

SEI Bongkar Dampak Kebijakan Batu Bara Bahlil: Pasokan Tersendat, Listrik Alami Gangguan!

Selasa, 16 Juni 2026 | 02:37

Mahfud MD: UU Polri Abaikan Komisi Reformasi

Selasa, 16 Juni 2026 | 02:24

ART Indonesia Disiksa Mirip Samsak Tinju di Malaysia

Selasa, 16 Juni 2026 | 02:01

Kerja Prabowo Sudah Bagus, tapi Jangan Pidato Meledek Lagi

Selasa, 16 Juni 2026 | 01:29

Sambut 1 Muharam Setop Saling Fitnah dan Provokasi

Selasa, 16 Juni 2026 | 01:25

Selengkapnya