Berita

Ahmad Dhani/Net

Politik

Banyak Artis Tidak Paham, Ahmad Dhani Jelaskan Perbedaan Kritik Dan Menghina

SABTU, 11 APRIL 2020 | 08:59 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

Musisi yang juga politisi, Ahmad Dhani menjelaskan perbedaan kritik dan menghina. Menurutnya, banyak artis atau selebriti tidak paham soal perbedaan diksi antara ktirik dan menghina.

Dijelaskan Ahmad Dhani, kritik itu ditujukan kepada kepada pejabat publik yang hidupnya dibayar atau dibiayai oleh uang rakyat, mulai bangun tidur hingga tidur lagi.

"Jadi, rakyat berhak marah jika ada pejabat publik yang kerjanya lamban hingga amburadul," ujar pendiri grup musik Dewa 19 ini, Sabtu (11/4).


Kritikan ada yang halus ada juga yang bertaraf menghujan (perkataan buruk). Tapi semua itu boleh-boleh saja. Karena memang rakyat itu adalah bos dari semua pejabat publik.

"Itulah konsekuensi demokrasi," tegas Ahmad Dhani.

Sedangkan menghina, itu adalah perkataan buruk yang ditujukan kepada orang (mereka) yang hidupnya tidak dibiayai rakyat. Mereka semua ini yang masuk dalam wilayah privat domain, ranah privat.

"Di dalam ranah privat ini, baru kita boleh menggunakan dalil agama. Misalnya, perintah untuk tidak melihat kekurangan orang lain dan lebih baik melihat kekurangan diri sendiri," tutur Ahmad Dhani.

Adapun sitem demokrasi itu punya mekanisme sendiri dan caranya sendiri dalam berdialektika. Dan semua agama itu tidak mengatur cara demokrasi bekerja. Tidak ada demokrasi dalam Islam.

Jadi, lanjut Ahmad Dhani, tidak perlu juga membully artis yang terlalu membela penguasa, dimaklumi saja. Mereka tidak belajar politik dan sistem pemerintahan demokrasi, apalagi soal fiqih.

"Jadi ketika bicara demokrasi dan fiqih ya ngglambyar. Lagi pula banyak artis takut tidak disponsori oleh taipan-taipan nusantara," tutup suami Mulan Jameela ini.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Turbulensi Kepercayaan dalam Teropong Nobel Ekonomi

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 22:16

Jadi Tersangka KPK, Bupati Klaten Didepak PDIP

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 21:45

Kapolri Rangkul Ulama Jatim untuk Jaga Kamtibmas

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 21:32

Ilham Habibie hingga Chappy Hakim Dianugerahi Golden PIN INACA

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 21:02

DPR: Kehadiran Kapolri di BEI Sinyal Negara Serius Menegakkan Hukum

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 20:33

Ketua Gappura Minta DPR Turun Tangan Mediasi PHK dan GHS di Krakatau Steel

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 19:35

Walhi Soroti Tanggung Jawab Lintas Sektor dalam Penanganan Karhutla

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 19:28

Kementerian UMKM Pulihkan 908 Usaha Terdampak Bencana di Sumatera

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 18:51

Komjak Diminta Turun Tangan Teliti JPU di Kasus Febrie

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 18:30

Surati Presiden Prabowo, YLKI Minta Menteri Bahlil Dicopot

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 17:49

Selengkapnya