Berita

Muhadjir Effendy/Net

Politik

Menko PMK Yang Harusnya Memimpin Langsung Gugus Tugas Penanganan Covid-19

RABU, 08 APRIL 2020 | 12:08 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Muhadjir Effendy diminta tampil di depan dan memimpin langsung pencegahan dan penanggulangan virus corona baru (Covid-19) yang mewabah di Tanah Air.

Anggota DPR RI dari Fraksi Gerindra periode 2014-2019, Bambang Haryo Soekartono menilai, Menko Muhadjir belum dimanfaatkan secara maksimal dalam mencegah dan mengatasi wabah Covid-19, padahal penanggulangan bencana berada di bawah koordinasinya.

"Menko PMK seharusnya aktif memimpin langsung Gugus Tugas Penanganan Covid-19, bukan malah dialihkan kepada Kepala BNPB. Karena mengandung unsur pencegahan terhadap Covid-19. Jangan biarkan Presiden Joko Widodo menanggung sendiri beban dalam mengatasi wabah Covid-19," ujarnya, Rabu (8/4).


Selaku Menko PMK yang bertanggung jawab pada penanggulangan bencana, tutur Bambang Haryo, koordinasi dengan semua kementerian dan lembaga akan lebih mudah dalam upaya pencegahan dan penanggulangan Covid-19.

"Wewenang Menko kan lebih besar sehingga bisa berkoordinasi lintas sektoral kementerian dan lembaga. Penanganan Covid-19 jangan diserahkan ke pejabat-pejabat di bawahnya, karena menyangkut keselamatan nyawa publik, tetapi harus dipimpin langsung oleh Menko PMK di tingkat pusat dan kepala daerah di tingkat daerah," cetusnya.

Bambang Haryo mengatakan Menko PMK harus lebih gencar mensosialisasikan tentang social atau physical distancing serta upaya meningkatkan daya tahan tubuh masyarakat melalui edukasi pola hidup sehat dan peningkatan gizi.

Menko PMK juga harus melibatkan menteri terkait, seperti halnya Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLH), Siti Nurbaya Bakar yang harusnya sangat berperan ikut mensosialisasikan pencegahan virus akibat lingkungan yang tidak memadai dan juga masalah seperti physical distancing, disinfektan lingkungan, dan pemanfaatan sinar matahari serta semua tumbuh-tumbuhan dan juga udara yang bersih untuk kesehatan manusia. Tetapi hingga saat ini belum bergerak.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo juga diminta segera mendorong produksi komoditas pokok pangan maupun tanaman obat untuk pencegahan virus, seperti kunir, jahe, sirih, brokoli, tomat, kelapa hijau, madu, telur, dan sebagainya dalam jumlah yang sangat besar. Tetapi hingga saat ini banyak komoditas pokok pangan yang kesulitan didapatkan dan berharga mahal.

"Pemerintah harus memproteksi komoditas itu agar harganya murah. Untuk itu, Menteri Perdagangan diminta menjaga keseimbangan supply dan demand, memperkuat peran Satgas pangan dan obat-obatan yang selalu terus bergerak untuk memberantas kartelisasi dari spekulan yang sekarang marak di negara kita mengakibatkan tidak terjangkaunya daya beli di masyarakat," jelas Bambang Haryo.

Di sisi transportasi, Menteri Perhubungan yang saat ini dijabat Luhut B. Pandjaitan harus berperan mengendalikan tarif angkutan udara agar tidak jauh di bawah batas bawah dan malah mendorong diskon harga tiket pesawat.

Padahal seperti yang diketahui bahwa penyakit atau virus Covid-19 ini berasal sebagian besar dari masyarakat kelas menengah dan keatas serta turis asing yang menggunakan tiket pesawat. Sehingga kebijakan Menteri Perhubungan di awal kemunculan virus hingga saat ini bertolak belakang dengan kebijakan pemerintah untuk mengurangi pergerakan dari masyarakat untuk menggunakan angkutan udara.

Namun, dijelaskan Bambang Haryo, Menteri Perhubungan harus menjamin kelancaran arus barang dan penumpang dari semua moda dengan mengikuti protokol kesehatan.

Bambang Haryo juga menyoroti upaya pemerintah yang dinilai kurang efektif dalam penanganan pasien positif Covid-19, membangun rumah sakit darurat di Pulau Galang, Batam, dan memfungsikan Wisma Atlet sebagai RS darurat.

"Kenapa pemerintah tidak memanfaatkan kapal-kapal Pelni untuk RS darurat karena hampir sebagian kapal Pelni saat ini tidak beroperasi dan tetap mendapatkan subsidi setiap tahun. Daya tampung per kapal sekitar 1.300-3.000 penumpang, sehingga jika 2 kapal saja sudah bisa menampung di atas 5.000 pasien Covid-19," ujarnya.

Sementara, RS darurat di Pulau Galang hanya berkapasitas 360 tempat tidur dan jauh dari pusat episentrum Covid-19 terutama di Jawa, khususnya di Jakarta. Sehingga akan berdampak membutuhkan biaya yang sangat mahal untuk mobilisasi

Selain itu, pemerintah seharusnya memanfaatkan sanatorium penderita TBC yang jumlahnya sangat banyak untuk penderita Covid-19 di seluruh Indonesia tetapi saat ini tidak dimanfaatkan. Sanatorium ini dinilai cocok untuk rumah sakit sementara Covid-19 karena umumnya berada di dataran tinggi dan dekat pegunungan yang udaranya bersih dan sejuk.

Berdasarkan data, ungkap Bambang Haryo, banyak PDP (pasien dalam pengawasan) dan ODP (orang dalam pengawasan) yang tinggal di daerah dengan ketinggian 500-600 meter di atas permukaan laut (mdpl) seperti Malang, Magetan dan Bandung, banyak yang dinyatakan sembuh.

Menurut dia, kemungkinan ada hubungan antara kondisi udara sejuk dan bersih dengan percepatan penyembuhan penyakit Covid-19 yang menyerang paru-paru seperti TBC.

Bambang Haryo juga mengusulkan pemerintah agar memanfaatkan kompleks perkampungan atlet Hambalang yang terbengkalai untuk dijadikan rumah sakit darurat Covid-19.

Selain lokasinya berada di ketinggian 500-600 mdpl dan jauh dari pemukiman penduduk, kompleks Hambalang juga mudah diakses dari wilayah Jabodetabek yang menjadi episentrum wabah Covid-19. Mobilisasi pasien, tenaga medis, serta keperluan lain juga akan lebih mudah dan murah.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Turbulensi Kepercayaan dalam Teropong Nobel Ekonomi

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 22:16

Jadi Tersangka KPK, Bupati Klaten Didepak PDIP

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 21:45

Kapolri Rangkul Ulama Jatim untuk Jaga Kamtibmas

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 21:32

Ilham Habibie hingga Chappy Hakim Dianugerahi Golden PIN INACA

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 21:02

DPR: Kehadiran Kapolri di BEI Sinyal Negara Serius Menegakkan Hukum

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 20:33

Ketua Gappura Minta DPR Turun Tangan Mediasi PHK dan GHS di Krakatau Steel

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 19:35

Walhi Soroti Tanggung Jawab Lintas Sektor dalam Penanganan Karhutla

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 19:28

Kementerian UMKM Pulihkan 908 Usaha Terdampak Bencana di Sumatera

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 18:51

Komjak Diminta Turun Tangan Teliti JPU di Kasus Febrie

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 18:30

Surati Presiden Prabowo, YLKI Minta Menteri Bahlil Dicopot

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 17:49

Selengkapnya