Berita

Khofifah Indar Parawansa (kanan)/Net

Nusantara

Gubernur Khofifah Sisir Produsen Hazmat Guna Pemenuhan APD Di Jatim

KAMIS, 02 APRIL 2020 | 15:53 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

Kebutuhan Alat Perlidungan Diri (APD) para tenaga medis, para medis dan frontliner yang terkait dengan penanganan pasien Covid-19 di Jawa Timur kian meningkat.

Bahkan, Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa menyebut, pada masa puncak wabah Covid-19, kebutuhan APD di Jatim minimum akan mencapai 3.350 buah per hari. Satu pasien sehari butuh 23 APD.

"Jika diperkirakan puncaknya sampai 150 pasien, maka per hari butuh 3350 APD. Kita berharap itu tidak sampai terjadi tetapi kita harus menyiapkan contigency plan," kata Khofifah, Kamis (2/4).


Karena itu, gubernur perempuan pertama Jatim ini terus menyisir industri tekstile dan juga sentra penghasil hazmat, masker dan juga sarana APD medis, untuk bisa mendapatkan kuota harian guna mencukupi kebutuhan APD di tengah wabah.

Rabu kemarin (1/4), Khofifah meninjau PT Putrateja Sempurna yang ada di Kota Probolinggo. Industri tekstil dengan brand cukup terkenal ini mengonversi usaha tekstil fashionnya untuk memproduksi hazmat dan masker hingga tiga bulan mendatang.

Tidak tanggung-tanggung, kapasitas produksi hazmat industri ini mencapai 1 juta buah per bulan. Sehingga dalam tiga bulan mereka akan memproduksi 3 juta hazmat.

"Saat ini terkonfimasi bahwa APD menjadi kebutuhan di seluruh dunia. Alhamdulillah Pak Walikota Probolinggo menginformasikan ada pabrik yang memproduksi APD sampai satu juta buah per bulan, maka saya ingin datang ke sini untuk meminta kuota harian," kata Khofifah.

"Artinya kalau produksi perusahaan ini bisa digunakan untuk Jatim saya ingin minta kuota harian. Mengapa harian karena tempat yang lain juga membutuhkan segera untuk APD ini," lanjutnya menambahkan.

Dikatakan mantan Menteri Sosial dan Menteri Pemberdayaan Perempuan ini, APD menjadi kebutuhan primer untuk memberikan keamanan pada tenaga medis yang terkait dengan penanganan pasien Covid-19.

"Karena kalau kita bicara kebutuhan, satu pasien Covid-19 itu kita membutuhkan 23 buah APD. Jadi kalau misalnya di RSUD Dr Soetomo, sekarang sedang merawat 11 orang pasien maka ya kebutuhan seharinya adalah 11 dikalikan 23 APD begitu juga rumah sakit lainnya," tegas Khofifah.

Dengan hitungan tersebut maka menurut Khofifah, kebutuhan hazmat dan APD di RS se Jatim pada puncaknya diperkirakan mencapai 3.350 buah dalam sehari. Sehingga dibutuhkan suplai dalam jumlah yang besar untuk menjamin ketersediaan APD sesuai kebutuhan.

"Maka kita bisa menghitung sampai pada puncaknya, baik APD maupun kebutuhan lainnya agar ketersediaan alkes dan sebagainya aman, jika misalnya opsi contigency plan harus kita laksanakan," katanya.

Dalam kunjungan ini, Khofifah memastikan bahwa APD dalam bentuk hazmat yang diproduksi perusahaan ini memenuhi standar WHO dan berkualitas premium.

Di sisi lain, dalam berupaya mencukupi kebutuhan APD di Jatim saat ini ada sebanyak 5 SMK di Jatim yang juga dengan sukarela memproduksi hazmat untuk APD para tenaga medis.

Seperti SMKN 2 Lamongan, SMKN 2 Kalitengah, SMKN Sarirejo, SMKN Sambeng, dan SMK NU 2 Kedungpring. Masing-masing sekolah yang memberikan sensitivitas membuat hamzat itu adalah para siswa jurusan tata busana.

Terkait permintaan Khofifah yang meminta kuota harian, owner PT Putrateja Sempurna, HM Supriyono mengaku siap memberikan kuota harian. Untuk jumlahnya akan langsung dikoordinasikan dengan Pemprov Jatim sesuai dengan kebutuhan.

Lebih dari itu, dia mengatakan bahan baku produksi hazmat di perusahaannya akan cukup hingga tiga bulan ke depan dengan kapasitas produksi satu juta hazmat per bulan.

"Kita ikuti apa yang menjadi arahan pemerintah untuk peduli corona dan membuat APD. Kita akan memproduksi hazmat 3 juta buah hingga tiga bulan ke depan. Kita juga membuat masker. Ini demi kepentingan nasional, yang produksi fashion kita sampingkan dulu," ucap Supriyono.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Turbulensi Kepercayaan dalam Teropong Nobel Ekonomi

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 22:16

Jadi Tersangka KPK, Bupati Klaten Didepak PDIP

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 21:45

Kapolri Rangkul Ulama Jatim untuk Jaga Kamtibmas

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 21:32

Ilham Habibie hingga Chappy Hakim Dianugerahi Golden PIN INACA

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 21:02

DPR: Kehadiran Kapolri di BEI Sinyal Negara Serius Menegakkan Hukum

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 20:33

Ketua Gappura Minta DPR Turun Tangan Mediasi PHK dan GHS di Krakatau Steel

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 19:35

Walhi Soroti Tanggung Jawab Lintas Sektor dalam Penanganan Karhutla

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 19:28

Kementerian UMKM Pulihkan 908 Usaha Terdampak Bencana di Sumatera

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 18:51

Komjak Diminta Turun Tangan Teliti JPU di Kasus Febrie

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 18:30

Surati Presiden Prabowo, YLKI Minta Menteri Bahlil Dicopot

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 17:49

Selengkapnya