Berita

TB Hasanuddin/Net

Politik

TB Hasanuddin: Perppu 23/1959 Tidak Cocok Jadi Dasar Darurat Sipil, Ada Beda Konteks

SELASA, 31 MARET 2020 | 16:15 WIB | LAPORAN: RAIZA ANDINI

Penerapan darurat sipil sebagai tindak lanjut kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) bukan pilihan tepat.

Politisi PDIP TB Hasanuddin menilai bahwa Perppu 23/1959 tentang Keadaan darurat tidak cocok dijadikan dasar. Sebab perppu dibuat saat situasi keamanan negara yang kala itu menganut demokrasi terpimpin dalam ancaman pemberontakan atau makar. Sehingga, sambungnya, membutuhkan tindakan kemiliteran.

“Waktu itu dalam keadaan bahaya, jadi keselamatan negara itu akan menjadi taruhan kalau tidak diperlakukan darurat sipil, atau darurat militer,” ujar TB Hasanuddin kepada Kantor Berita Politik RMOL, Selasa (31/3).


Di dalam UU tersebut juga dijabarkan melarang orang-orang melakukan keramaian atau berkumpul, tapi dalam konteks ancaman terhadap negara. Bahkan saat itu berita harus disortir dan wartawan yang mau wawancara harus izin pemerintah dan alat komunikasinya disadap.

“Jadi kalau itu dilakukan untuk kasus corona tidak tepat,” kata purnawirawan jenderal TNI bintang dua itu.

Menurutnya, karantina wilayah adalah pilihan yang paling baik dilaksanakan pemerintah untuk menjamin keselamatan dan kesehatan rakyat atas bahaya pandemik Covid -19. Apalagi karantina wilayah sudah diatur dalam UU 6/2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan.

“Jadi sudah clear-lah selama pemeintah mengacu pada pada UU 6/2018 enggak ada masalah. Yang saya harapkan di dalam membuat keputusan ini harus ada koordinasi yang baik antara pusat dan daerah,” tutup anggota Komisi I DPR RI itu.

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

JK Bukan Pelaku Penista Agama

Rabu, 22 April 2026 | 04:11

Gaya Koruptor Sorong Beda dengan Indonesia Barat

Rabu, 22 April 2026 | 03:37

GoSend Rilis Fitur Kode Terima Paket

Rabu, 22 April 2026 | 03:13

Disita Aset Rp2 Miliar dari Safe Deposit Box Pejabat Bea Cukai

Rabu, 22 April 2026 | 03:00

Rano Tekankan Integritas CPNS Menuju Jakarta Kota Global

Rabu, 22 April 2026 | 02:24

Pegawai BUMN Dituntut Tangkal Narasi Negatif terhadap Pemerintah

Rabu, 22 April 2026 | 02:09

Ibrahim Arief Merasa Jadi Kambing Hitam Kasus Chromebook

Rabu, 22 April 2026 | 02:00

Keluarga Nadiem Adukan Dugaan Kejanggalan Kasus Chromebook ke DPR

Rabu, 22 April 2026 | 01:22

Fahira Idris: Perempuan Jadi Tumpuan Indonesia Maju 2045

Rabu, 22 April 2026 | 01:07

Dony Oskaria: Swasembada Pangan Nyata Bukan Hoaks

Rabu, 22 April 2026 | 01:03

Selengkapnya