Berita

Muhammad Najib/Net

Muhammad Najib

Takdir Dan Ikhtiar Dalam Politik

SELASA, 31 MARET 2020 | 13:40 WIB | OLEH: DR. MUHAMMAD NAJIB

DALAM kajian keilmuan klasik, biasanya bahasan tema ini dikaitkan dengan dua paham yang saling bertentangan, yakni paham Qadariyah dan paham Jabariyah.

Paham Qadariyah adalah paham yang memutlakan ikhtiar manusia dalam semua urusan, sehingga Tuhan dianggap tidak pernah ikut campur sama sekali. Dengan kata lain, nasib manusia ditentukan mutlak oleh dirinya sendiri.

Sementara paham Jabariyah berpendapat sebaliknya, bahwa nasib manusia ditentukan oleh Tuhan, bahkan sebelum ia dilahirkan ke dunia. Untuk menegaskan pendapatnya, kelompok ini seringkali menyatakan bahwa nasib setiap anak manusia sudah tercatat di lauhilmahfud, atau sudah ditentukan sejak zaman azali. Dengan demikian ikhtiar manusia tidak memiliki konstribusi apapun terhadap nasibnya.


Agar tidak terperangkap pada dua pandangan ekstrim di atas, yang sangat jauh dari realitas kehidupan insan religius pada umumnya, saya mencoba menawarkan pendekatan lain dengan merujuk langsung pada Al Qur'an dalam memahami takdir, baik dalam dunia politik pada khususnya, maupun dalam seluruh aspek kehidupan manusia pada umumnya.

Dua pilar utama Islam tertuang dalam Rukun Islam dan Rukun Iman. Rukun Iman yang keenam menyebutkan: beriman kepada qada' dan qadar. Apa yang dimaksud qada' dan apa pula yang dimaksud qadar ?

Keterbatasan Bahasa Indonesia menyebabkan keduanya kerap kali diartikan sama, yakni sebagai "takdir". Bahkan tidak jarang Rukun Iman yang keenam ini diartikan sebagai: percaya pada takdir baik (ketentuan baik) dan takdir buruk (ketentuan buruk). Hal ini tentu menimbulkan kerancuan pengertian.

Nazaruddin Umar (Imam Besar Masjid Istqlal) menyatakan qadar sebagai ketentuan Allah yang sudah pasti, contohnya seperti ikan hidupnya di air, atau manusia hanya bisa hidup kalau ada oksigen, anak lahir dari perempuan dan seterusnya.

Sedangkan qada diartikan sebagai ketentuan Allah yang belum pasti, seperti orang yang menderita penyakit apakah akan sembuh atau menyebabkan kematiannya tergantung pada banyak faktor.

Karena itu dalam masalah qadar, manusia harus menerima ketentuan Tuhan apa adanya. Sedangkan dalam masalah qada, ikhtiar manusia sangat mempengaruhi hasilnya. Dalam kalimat yang berbeda, Nazaruddin Umar mengatakan dalam masalah qada ada banyak takdir, dengan demikian manusialah yang menentukan takdir mana yang dipilihnya.

Dengan penjelasan Nazaruddin Umar ini, maka dapat disimpulkan bahwa sejatinya takdir Tuhan dalam realitas kehidupan manusia berada diantara dua pandangan ekstrim seperti yang ditunjukkan oleh kelompok jabariyah dan qadariyah.

Persoalannya kemudian, mana fenomena alam yang termasuk qada dan mana yang termasuk qadar tidak semuanya mudah ditentukan, karena masalah ini tidak bisa dilepaskan dari kemajuan sain dan teknologi dan perkembangan kemampuan manusia sendiri.

Sebagai cntoh: dahulu orang yang terkena penyakit tertentu langsung divonis dokter akan meninggal dalam hitungan hari atau jam. Hal ini dikarenakan oleh keterbatasan ilmu kedokteran untuk menyelamatkan manusia dan keterbatasan peralatan kedokteran yang ada. Akibatnya usia harapan hidup manusia menjadi pendek.

Akan tetapi setelah obatnya ditemukan, atau ketika ilmu kedokteran meningkat, serta peralatan kedokteran semakin canggih, orang yang mengalami penyakit tertentu yang sebelumnya selalu divonis mati, kemudian bisa diselamatkan. Hal ini mengakibatkan usia harapan hidup jadi meningkat.

Dengan demikian, usia manusia juga ditentukan oleh manusia sendiri, sejalan dengan kemajuan ilmu kedokteran, ilmu farmasi, dan peralatan kedokteran.

Kalau masalah yang terkait masalah fisik saja tidak mudah ditentukan, mana yang termasuk wilayah qada dan mana masuk wilayah qadar, apalagi yang terkait dengan masalah sosial ataupun politik.

Karena itu, untuk memudahkannya dalam melihat masalah sosial atau politik, muncul pendapat yang menyatakan bahwa semua peristiwa sebelum terjadi masih dalam wilayah qada, sehingga ikhtiar manusia sangat menentukan. Sedangkan kalau sudah terjadi, maka ia baru masuk ke wilayah qadar, dimana manusia harus ikhlas menerimanya.

Dengan kata lain; biarlah masalah qadar menjadi domain Tuhan, sementara yang menjadi domain manusia hanya pada wilayah qada. Wallahua'lam.

Penulis adalah pengamat politik Islam dan demokrasi.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

UPDATE

Wabah DBD Bangladesh Makin Parah, 42.590 Dirawat dan 117 Lainnya Meninggal Dunia

Senin, 07 September 2026 | 12:27

Purbaya Ajukan Anggaran Kemenkeu Rp49,8 Triliun di 2027

Senin, 07 September 2026 | 12:14

Public Expose Live 2026, 45 Emiten Siap Buka Kinerja dan Prospek Usaha

Senin, 07 September 2026 | 12:04

Kini Giliran Ketua dan Wakil Ketua DPRD Kota Bengkulu Dipanggil KPK

Senin, 07 September 2026 | 11:53

Komisi VIII DPR Desak Pemerintah Perkuat Kesiapsiagaan Erupsi Gunung Api

Senin, 07 September 2026 | 11:41

Wamenhaj Tekankan Revitalisasi KBIHU dan Pelindungan Jemaah dari Travel Bermasalah

Senin, 07 September 2026 | 11:33

Harga Minyak Naik Lagi Sentuh Level 96 Dolar AS

Senin, 07 September 2026 | 11:25

Ombudsman Soroti Peredaran Narkoba dan Pungli di Lapas

Senin, 07 September 2026 | 11:21

Cadangan Devisa RI Agustus 2026 Capai Rp2.582 Triliun, Naik 1,2 Miliar Dolar AS

Senin, 07 September 2026 | 11:19

Belanja Mitigasi Jadi Investasi Hadapi Erupsi Gunung Api

Senin, 07 September 2026 | 11:12

Selengkapnya