Berita

Jaya Suprana/Istimewa

Jaya Suprana

Pulkam Atau Tidak Pulkam

MINGGU, 29 MARET 2020 | 20:50 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

SEMENTARA sang pangeran Denmark di dalam mahakarya Shakespeare “Hamlet” menimang sebuah tengkorak manusia sambil bergumam bimbang dilema “To Be Or Not To Be” maka sebagian warga Indonesia menghadapi kemelut wabah Corona sambil bimbang dilema “Pulkam Atau Tidak Pulkam”.

Urbanisasi

Para bukan pelaku urbanisasi sulit mengerti ada warga ingin pulang kampung di masa wabah penyakit menular sedang merajalela. Sebaliknya para pelaku urbanisasi penganut mashab “mangan ora mangan asal kumpul” sulit mengerti kenapa ada orang yang tidak ingin pulkam.


Mereka yang ingin pulkam lazimnya tidak gentar tertular virus Corona yang berkeliaran di dalam bus, kereta api, kapal laut ketika menempuh perjalanan pulkam dengan semboyan “Lebih baik mati di kampung halaman ketimbang di perantauan”. Mereka juga tidak peduli kemungkinan menjadi carrier pembawa virus Corona yang potensial menular ke keluarga, anak cucu, kakek nenek beserta seluruh warga di kampung halaman.

Tradisi

Tradisi pulkam bukan monopoli masyarakat Indonesia. Masyarakat Jerman berbondong-bondong pulkam pada masa Hari Natal. Masyarakat China berduyun-duyung pulkam pada masa Hari Raya Imlek. Masyarakat India berjubel memadati jalan raya sampai jalan tikus menjelang hari raya Depavali.

Masyarakat Indonesia mudik menyambut Hari Raya Idul Fitri. Namun sangat perlu disadari bahwa semua tradisi itu bukan untuk dilakukan pada masa wabah penyakit menular. Risiko pulkam makin menyebarluaskan penyakit menular terlalu besar untuk tetap nekat dilakukan.

Tanggung Jawab

Memang tidak mudah menyadarkan masyarakat untuk tidak pulkam selama tradisi pulkam sudah mendarah-daging di dalam jiwa raga masing-masing. Menyadarkan masyarakat untuk tidak pulkam setara sulitnya dengan menyadarkan masyarakat untuk membayar pajak yang hanya bisa berhasil apabila ada paksaan secara hukum lengkap dengan sanksi bagi para pelanggarnya.

Maka masalah kebimbangan pulkam atau tidak pulkan tidak akan terselesaikan apabila pulkam tidak tegas dilarang secara hukum sebagai suatu perilaku yang membahayakan kepentingan bersama. Membiarkan rakyat memilih pulkam atau tidak pulkam pada hakikatnya sama saja dengan membiarkan rakyat memilih hidup bersama atau mati bersama.

Pembiaran pulkam juga tidak menghormati jasa para Pahlawan Kesehatan yang telah mempertaruhkan jiwa-raga demi gigih mencegah virus corona menyebar ke seluruh pelosok Nusantara.

Keberanian

Namun melarang atau tidak melarang pulkam merupakan dilema buah simalakama sebab masing-masing memiliki risiko dampak tersendiri. Memang dibutuhkan keberanian pihak yang paling berwenang untuk tegas melarang atau tidak melarang pulkam sambil berani menghadapi segala risiko dampak mulai dari sosial, kesehatan, politis sampai ekonomi.

Apa pun keputusan yang diambil seyogianya yang berwenang wajib bertanggung-jawab atas pilihan kebijakan yang dilaksanakan menjadi kenyataan. Tidak melarang pulkam berarti wajib bertanggung-jawab atas dampak wabah penyakit menular makin merajalela ke seluruh pelosok negeri.

elarang pulkam berarti wajib bertanggung jawab atas dampak ekonomi dan sosial terutama bagi rakyat miskin. Rakyat memilih para pemimpin bukan yang menghindari tanggung jawab namun justru yang sepenuhnya siap bertanggung-jawab atas keselamatan seluruh rakyat dari ancaman marabahaya.

Penulis adalah warga Indonesia yang berduka atas wafatnya sesama warga akibat virus Corona serta gugurnya para Pahlawan Kesehatan di gugus terdepan pertempuran melawan virus Corona

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

KPK Amankan Dokumen dan BBE saat Geledah Kantor Dinas Perkim Pemkot Madiun

Rabu, 28 Januari 2026 | 11:15

UPDATE

Peristiwa Anak Bunuh Diri di NTT Coreng Citra Indonesia

Selasa, 03 Februari 2026 | 05:38

SPPG Purwosari Bantah Kematian Siswi SMAN 2 Kudus Akibat MBG

Selasa, 03 Februari 2026 | 05:20

Perdagangan Lesu, IPC TPK Palembang Tetap Tunjukkan Kinerja Positif

Selasa, 03 Februari 2026 | 04:59

Masalah Haji yang Tak Kunjung Usai

Selasa, 03 Februari 2026 | 04:42

Kilang Balongan Perkuat Keandalan dan Layanan Energi di Jawa Barat

Selasa, 03 Februari 2026 | 04:21

Kemenhub: KPLP Garda Terdepan Ketertiban Perairan Indonesia

Selasa, 03 Februari 2026 | 03:59

BMM dan Masjid Istiqlal Luncurkan Program Wakaf Al-Qur’an Isyarat

Selasa, 03 Februari 2026 | 03:40

Siswa SD Bunuh Diri Akibat Pemerintah Gagal Jamin Keadilan Sosial

Selasa, 03 Februari 2026 | 03:13

Menguak Selisih Kerugian Negara di Kasus Tata Kelola BBM

Selasa, 03 Februari 2026 | 02:59

Rencana Latihan AL Iran, China dan Rusia Banjir Dukungan Warganet RI

Selasa, 03 Februari 2026 | 02:40

Selengkapnya