Berita

Presiden Joko Widodo/Net

Kesehatan

Denny JA: Jokowi Jangan Berhenti Dengan Imbauan, Harus Segera Karantina Wilayah

MINGGU, 29 MARET 2020 | 13:58 WIB | LAPORAN: YELAS KAPARINO

Presiden Joko Widodo disarankan untuk segera mengambil kebijakan tegas dalam menghadapi virus corona baru atau Covid-19 yang menyebar dari Wuhan, Hubei, Republik Rakyat China.

Kebijakan tegas itu dengan memberlakukan karantina wilayah.

Menurut pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA dalam keterangannya Minggu siang (29/3),karantina wilayah adalah satu-satunya cara agar virus corona tidak semakin menyebar ke aneka daerah. Apalagi akan ada arus mudik menjelang puasa dan lebaran.


Dia mengingatkan di Indonesia tidak dikenal istilah lockdown, melainkan karantina wilayah yang diatur dalam UU 6/2018 Tentang Kekarantinaan Kesehatan.

Walaupu karantina wilayah adalah kewenangan pemerintah pusat, namun kini daerah mulai banyak mengambil inisiatif sendiri untuk melindungi wilayahnya. Misalnya di Solo, Bali, Tegal, Papua dan Maluku.

“Pemda ini memang bertindak tak sesuai aturan. Tapi persepsi publik memihak mereka. Pemda itu dianggap peduli. Jika Jokowi terlambat bertindak menerapkan karantina wilayah, dan penyebaran virus corona memburuk, sejarah akan menyalahkan Jokowi,” ujar Denny JA.

Dia menambahkan, Amerika Serikat dan Italia cukup menjadi contoh. Amerika Serikat mengalahkan Republik Rakyat China dari sisi angka terpapar. Sementara angka kematian di Italia sudah melampaui China.

Salah satu penyebabnya karena pemerintah pusat dianggap lambat memberlakukan sejenis karantina wilayah (lockdown, semi lockdown).

“Kita jangan mengulangi kisah buruk Amerika Serikat dan Itali. Apalagi kesiapan sistem dan peralatan kesehatan kita tak sebaik dua negara itu. Yang penting harus ada aturan bahwa arus uang dan barang tetap lancar,” sambungnya.

Denny bahkan menyatakankan Jokowi jangan berhenti di tingkat imbauan. Namun harus juga membuat aturan yang memberikan sanksi hukuman fisik atau denda.

“Tak cukup hanya imbauan. Suasana emergency menginginkan lebih. Di era ini publik akan mengerti. Kesehatan bersama berada di atas kebebasan. Tak apa kebebasan dibatasi sementara karena penyebaran virus dan nyawa manusia itu lebih berharga,” masih ujar Denny JA.

Di sisi lain dia juga mengatakan, dalam situasi pandemik seperti ini, peran civil society dan pengusaha  juga sangat dibutuhkan.

“Pandemik terlalu besar jika hanya diserahkan kepada pemerintah,” demikian Denny JA.

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

UPDATE

Roy Suryo dan dr. Tifa Dirawat di RS Polri atas Rekomendasi Dokter

Sabtu, 20 Juni 2026 | 08:10

Israel Bom Lebanon Selatan, 16 Tewas di Tengah Sengkarut Gencatan Senjata

Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:57

Pemulangan Haji 2026 Tembus 121 Ribu Orang, Ratusan Kloter Sudah Tiba di Tanah Air

Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:50

Emas dan Perak Tertekan Dolar AS

Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:38

Indonesia Tetap di Jalur Emerging Market, Airlangga Janji Tuntaskan Reformasi

Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:19

STOXX 600 Terkoreksi, Saham Barang Mewah di Zona Merah

Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:06

Pasokan Batu Bara untuk Pembangkit Listrik Harus Aman, Ini Solusinya

Sabtu, 20 Juni 2026 | 06:58

Saat Negara dan Masyarakat Berbenah

Sabtu, 20 Juni 2026 | 06:40

Pemerintah RI Diminta Serius Selamatkan ABK Indonesia yang Disandera Perompak Somalia

Sabtu, 20 Juni 2026 | 06:12

Dilema Tuntutan Mahasiswa

Sabtu, 20 Juni 2026 | 05:55

Selengkapnya