Berita

Ilustrasi

Kesehatan

Dr. Inggrid Tania: Jamu Temulawak Dan Kunyit Bermanfaat Hadapi Covid-19

KAMIS, 19 MARET 2020 | 13:06 WIB | LAPORAN: YELAS KAPARINO

Kabar yang mengatakan bahwa jamu dengan kandungan temulawak dan kunyit tidak baik untuk dikonsumsi sungguh tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Justru menurut Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI) Dr. Inggrid Tania, sebaliknya. Jamu temulawak dan kunyit yang mengandung Curcumin sangat baik untuk dikonsumsi terutama untuk meningkatkan daya tahan tubuh di tengah penyebaran virus corona baru atau Covid-19 saat ini.

“Saya mendapat kabar juga bahwa masyarakat menjadi resah-gelisah akibat pesan singkat tersebut, bahkan menjadi takut mengkonsumsi jamu empon-empon yang mengandung temulawak dan kunyit maupun suplemen herbal yang berisi senyawa aktif Curcumin,” ujar Dr. Inggrid Tania dalam keterangan yang diterima redaksi beberapa saat lalu.


Dalam keterangannya itu, Dr. Inggrid Tania menjelasakan bahwa jamu yang mengandung temulawak dan kunyit sudah dikonsumsi masyarakat Indonesia selama berabad-abad dan terbukti aman dan bermanfaat terhadap kesehatan, di antaranya memelihara kesehatan, kebugaran/vitalitas dan bahkan memelihara kesehatan liver dan pencernaan.

Temulawak maupun kunyit, sambungnya, mengandung ratusan senyawa bioaktif, salah satunya adalah senyawa Curcumin.

“Berbagai penelitian, terutama penelitian in-vitro dan praklinis, di dunia terhadap Curcumin menunjukkan bahwa Curcumin bersifat antiperadangan, antivirus, antibakteri, antijamur dan antioksidan. Ini scientific evidence,” ujarnya lagi.

Dia juga menambahkan salah satu manfaat Curcumin yang terungkap melalui berbagai penelitian dan uji klinis adalah meningkatkan sistem imunitas tubuh atau berperan sebagai imunomodulator.

Penelitian terakhir terhadap virus SARS-CoV-2 yang menjadi agen/penyebab penyakit Covid-19 menunjukkan bahwa reseptor SARS-CoV-2 adalah suatu enzim yang bernama ACE2 (Angiotensin Converting Enzyme-2) yang terdapat pada sel inang (sel manusia, terutama sel alveolus dalam paru).

“Namun, pintu masuk (cell entry) virus SARS-CoV-2 tidak hanya bergantung pada ikatan protein spike virus dengan reseptor pada sel inang (ACE2), tapi juga bergantung pada priming protein spike oleh protease sel inang (TMPRSS2),” jelasnya.

Secara fungsional, ada 2 (dua) bentuk ACE2, yakni bentuk fixed (menempel pada permukaan sel) dan bentuk soluble (bentuk bebas dalam darah). ACE2 bentuk soluble diproyeksikan menjadi salah satu kandidat antivirus SARS-CoV-2 melalui mekanisme interseptor kompetitif yang mencegah ikatan antara partikel virus dengan ACE2 pada permukaan sel inang.

Penelitian bio-informatika yang dipublikasikan bulan Maret 2020 dan kepustakaan terbaru telah menyebutkan Curcumin sebagai salah satu kandidat antivirus SARS-CoV-2, maka diharapkan Curcumin mampu meningkatkan ekspresi ACE2 bentuk soluble yang dapat menghambat terjadinya ikatan antara protein virus dengan ACE2 bentuk fixed yang terdapat pada permukaan sel inang.

Dia mengatakan, kepustakaan yang dijadikan acuan oleh para penulis pesan singkat yang beredar itu diambil dari tulisan Xue-Fen Pang pada laman https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4651552/. Tulisan ini sebatas menyimpulkan Curcumin meningkatkan ekspresi ACE2 pada sel miokardium hewan tikus, atau ACE2 bentuk fixed pada sel otot jantung tikus.

Dr. Inggrid Tania mengisyaratkan penulis artikel tersebut patut diragukan karena pernah memiliki riwayat tidak baik sebelumnya dimana hasil penelitiannya pernah ditarik oleh jurnal ilmiah.

“Oleh karena itu, adalah suatu penarikan kesimpulan yang terlalu dini, oversimplifikasi dan jump to conclusion jika para penulis pesan singkat menyimpulkan bahwa Curcumin meningkatkan ekspresi ACE2 pada sel alveolus dalam paru manusia dengan hanya berdasarkan artikel yang menyebutkan bahwa Curcumin meningkatkan ekspresi ACE2 pada sel otot jantung tikus,” jelas Dr. Inggrid Tania lagi.

Dia memastikan, larangan konsumsi jamu temulawak dan kunyit serta suplemen Curcumin dengan alasan menimbulkan kerentanan terhadap Covid-19 merupakan suatu larangan yang tidak rasional, karena belum ada satupun penelitian yang mengkonfirmasi dampak buruk temulawak, kunyit maupun Curcumin terhadap Covid-19.

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

UPDATE

Usai Raup Dana Jumbo, Danantara Diminta Transparan Soal Penyaluran Investasi

Sabtu, 20 Juni 2026 | 18:13

SLA Lampaui Target, Helita jadi Andalan Baru Layanan Digital Tangsel

Sabtu, 20 Juni 2026 | 18:09

Garda Bangsa: Program Pemerintah Dirasakan Masyarakat, Harus Dikawal

Sabtu, 20 Juni 2026 | 17:37

TVRI Jelaskan Proses, Cakupan, dan Distribusi Hak Siar FIFA hingga 2027

Sabtu, 20 Juni 2026 | 17:06

AMMSI: Penyesuaian Operasional MBG Perkuat Efisiensi Anggaran dan Tata Kelola Program

Sabtu, 20 Juni 2026 | 17:00

Ace Hasan Dorong Alumni UIN Jakarta Terus Berkontribusi untuk Bangsa

Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:24

Program 3 Juta Rumah Dipercepat, Pemerintah dan Danantara Bahas Meikarta hingga Inpres Baru

Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:08

Tiga Besar Fortune Southeast Asia 500, Pertamina: Motivasi Perkuat Ketahanan Energi

Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:03

Saham Intel Melesat Usai Pernyataan Trump

Sabtu, 20 Juni 2026 | 15:32

Polisi Ungkap Rekayasa Perampokan di Menteng, Pelaku Dendam ke Korban Sejak 2020

Sabtu, 20 Juni 2026 | 15:05

Selengkapnya