Berita

Anak Belajar Dari Rumah/Net

Nusantara

Sistem Belajar Dari Rumah, Pengamat: Banyak Yang Belum Siap Dengan Program Home Learning

KAMIS, 19 MARET 2020 | 06:29 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Sejak 16 hingga 29 Maret 2020, sekolah mulai dari TK sampai SMA, meniadakan jam belajar di sekolah. Hal itu sesuai dengan imbauan Presiden Joko Widodo sebagai upaya mencegah penularan virus corona.

Siswa tetap mengerjakan semua tugas-tugas sekolahnya, dengan pantauan orangtua.

Dinas Pendidikan Jakarta (Disdik DKI) pun telah memberikan panduan tugas untuk kepala sekolah, guru, orangtua, dan siswa, demi suksesnya program belajar dari rumah atau home learning


Selama 14 hari belajar dari rumah, sekolah memberikan sejumlah tugas pada siswa yang dikirimkan oleh guru melalui email dan aplikasi.

Namun, ternyata belajar dari rumah bukanlah hal yang mudah.
Di media sosial banyak orangtua ‘curhat’ bagaimana menghadapi kesantaian anak-anaknya yang belajar dari rumah.

Kantor Berita Politik RMOL pun mencoba menghubungi beberapa orangtua murid yang tinggal di sekitaran Jakarta Selatan.

Louisa, misalnya. Wanita 41 tahun yang tinggal di Cipete ini kebingungan dalam membimbing anaknya yang duduk di kelas delapan Sekolah Menengah Pertama. Menurutnya banyak gangguan dalam menerapkan belajar dari rumah.

“Baru buka buku pelajaran 30 menit, tau-tau temannya telepon atau chat. Baru mengerjakan tugas, tau-tau adiknya datang mengganggu, atau malah dianya yang mengganggu adiknya,” keluhnya.

Lain lagi dengan Dita, ibu dari seorang putri kelas sepuluh Sekolah Menengah Atas yang tinggal di Pesanggrahan. Menurutnya, saat belajar di rumah dengan menggunakan baju rumah yang santai turut berpengaruh kepada semangat belajar si anak.

“Paling bertahan belajarnya cuma satu sampai dua jam, trus nonton drakor. Belum lagi anak saya bilang ribet pake aplikasi,” keluhnya.

Lain lagi kisah Nazwa, siswi kelas tujuh Sekolah Menengah Pertama Negeri di bilangan Kebayoran. Ia bercerita ada guru yang memberikan tugas lewat tayangan video yang dikirim lewat WA. Sayangnya penjelasan sang guru dalam rekaman video itu kurang jelas. Suaranya tidak jernih dan bicaranya terlalu cepat. Guru terlihat tidak konsentrasi saat memberikan penjelasan. Alhasil ia harus menghubungi guru tersebut untuk menanyakan apa yang dimaksud dalam video itu.

“Nggak praktis,” katanya.

Berbeda pula dengan Maulida, siswa kelas sebelas di sekolah kejuruan. Ia dan teman-temannya diinfokan menggunakan Google Classroom. Tapi ternyata sang guru tidak paham cara menggunakan aplikasi tersebut.

“Giliran anaknya siap, gurunya yang tidak siap. Giliran gurunya yang semangat, anaknya yang gak punya laptop dan hapenya tidak mendukung untuk buka aplikasi itu,” jelas orangtua Maulida yang menyarankan agar kedepannya sistem pendidikan di Indonesia lebih maksimal lagi.

Pemerhati pendidikan, Indra Charismiadji mengatakan, belum semua guru siap menjalankan pembelajaran daring. Saat ini, banyak guru yang kebingungan bagaimana pembelajaran daring tersebut.

“Sekolah harusnya sudah tahu standar proses pembelajaran yang dimuat dalam Permendikbud 22/ 2016. Standar ini sudah ada sejak empat tahun yang lalu, sudah ada dalam Permendikbud 22 tahun 2016,” katanya kepada Kantor Berita Politik RMOL.

Menurutnya, sekolah harus siap dengan perubahan seperti ‘dari peserta didik diberi tahu menuju peserta didik mencari tahu’ lalu ‘dari guru sebagai satu-satunya sumber belajar menjadi belajar berbasis aneka sumber belajar’, serta ‘dari pendekatan tekstual menuju proses sebagai penguatan penggunaan pendekatan ilmiah’, dan ‘dari pembelajaran berbasis konten menuju pembelajaran berbasis kompetensi’.

“Harus menyiapkan pula mekanisme dari pembelajaran parsial menuju pembelajaran terpadu, dari pembelajaran yang menekankan jawaban tunggal menuju pembelajaran dengan jawaban yang kebenarannya multi dimensi, dari pembelajaran verbalisme menuju keterampilan aplikatif,” tutur Indra.

Maka, dari proses tersebut akan terlihat peningkatan dan keseimbangan antara keterampilan fisikal (hardskills) dan keterampilan mental (softskills).

“Sekolah sudah harus membekali siswanya, ketika pembelajaran yang berlangsung di rumah, di sekolah, dan di masyarakat, menerapkan prinsip bahwa siapa saja adalah guru, siapa saja adalah peserta didik, dan di mana saja adalah kelas,” kata Indra. 

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Lagi Sakit, Jangan Biarkan Jokowi Terus-terusan Temui Fans

Senin, 12 Januari 2026 | 04:13

Eggi-Damai Dicurigai Bohong soal Bawa Misi TPUA saat Jumpa Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 04:08

Membongkar Praktik Manipulasi Pegawai Pajak

Senin, 12 Januari 2026 | 03:38

Jokowi Bermanuver Pecah Belah Perjuangan Bongkar Kasus Ijazah

Senin, 12 Januari 2026 | 03:08

Kata Yaqut, Korupsi Adalah Musuh Bersama

Senin, 12 Januari 2026 | 03:04

Sindiran Telak Dokter Tifa Usai Eggi-Damai Datangi Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 02:35

Jokowi Masih Meninggalkan Jejak Buruk setelah Lengser

Senin, 12 Januari 2026 | 02:15

PDIP Gelar Bimtek DPRD se-Indonesia di Ancol

Senin, 12 Januari 2026 | 02:13

RFCC Complex Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Senin, 12 Januari 2026 | 01:37

Awalnya Pertemuan Eggi-Damai dengan Jokowi Diagendakan Rahasia

Senin, 12 Januari 2026 | 01:16

Selengkapnya